Ntvnews.id, Riyadh - Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman melakukan pembicaraan melalui telepon dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Keduanya membahas berbagai langkah untuk menurunkan ketegangan di Timur Tengah, di tengah kekhawatiran internasional terhadap kemungkinan meluasnya konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Kantor berita resmi Arab Saudi, SPA, melaporkan pada Minggu, 1 Agustus 2026, bahwa Mohammed bin Salman menekankan pentingnya dialog sebagai langkah utama untuk meredakan situasi di kawasan.
"Yang Mulia menegaskan perlunya memprioritaskan dialog untuk mengurangi ketegangan serta mengerahkan seluruh upaya guna mewujudkan gencatan senjata yang dapat membuka jalan bagi solusi diplomatik," demikian pernyataan SPA dikutip dari AFP, Senin, 3 Agustus 2026.
Pembicaraan tersebut dilakukan setelah Trump mengumumkan penundaan rencana serangan baru terhadap Iran. Keputusan itu muncul setelah sejumlah negara Teluk menyampaikan kekhawatiran bahwa konflik berpotensi semakin meluas.
Sebelumnya, Trump mengatakan Amerika Serikat dan Israel sepakat menangguhkan serangan berikutnya terhadap Iran dengan harapan tercapainya kesepakatan yang dapat mengakhiri perang yang telah berlangsung selama berbulan-bulan.
Kekhawatiran terhadap kemungkinan konflik yang lebih besar sempat meningkat beberapa hari sebelumnya. Trump bahkan mengancam akan menyerang Iran 'dengan sangat keras'. Sejumlah laporan juga menyebut Washington tengah mempertimbangkan operasi militer baru yang dapat menyasar fasilitas energi Iran.
Namun, posisi Trump berubah setelah dirinya berkomunikasi dengan Putra Mahkota Arab Saudi. Di saat bersamaan, Iran juga menjalin komunikasi dengan Riyadh serta negara-negara yang berperan sebagai mediator, seperti Pakistan dan Turki.
Meski memutuskan untuk menunda serangan, Trump menegaskan bahwa pasukan Amerika Serikat tetap berada dalam status siaga penuh.
Baca Juga: Menhan Arab Saudi Temui Trump usai Operasi Gabungan AS-Saudi di Irak
"Kami tetap siap sepenuhnya menghadapi Republik Islam Iran. Namun atas permintaan tersebut, saya setuju membatalkan serangan demi masa depan dunia dan kelangsungan Iran yang makmur, dengan syarat kesepakatan dapat segera dicapai," tulis Trump melalui platform Truth Social.
Trump menyebut kesepakatan damai yang diupayakan harus mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz secara penuh dan segera. Selain itu, kesepakatan juga harus mengakhiri ancaman nuklir Iran. Menurut Trump, Israel juga telah menyatakan dukungannya terhadap komitmen tersebut.
Kontak Diplomatik Terus Berlangsung
Upaya diplomasi juga dilakukan oleh Iran. Kantor berita pemerintah Iran melaporkan Menteri Luar Negeri Iran dan Arab Saudi telah melakukan komunikasi melalui sambungan telepon.
Media pemerintah Iran juga menyebut Teheran terus berkoordinasi dengan Pakistan dan Turki, yang selama ini terlibat sebagai mediator. Pembicaraan tersebut membahas potensi peningkatan ketegangan serta ancaman terhadap keamanan dan stabilitas kawasan.
Konflik yang pecah sejak 28 Februari, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Teheran, hingga kini masih belum menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir.
Gencatan senjata yang sebelumnya disepakati, termasuk kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz, tidak mampu bertahan. Iran kemudian meningkatkan pengawasan terhadap jalur pelayaran strategis tersebut setelah serangkaian serangan kembali terjadi dalam beberapa pekan terakhir.
Situasi tersebut kembali memicu kenaikan harga minyak dunia setelah harga sempat menurun ketika gencatan senjata diberlakukan. Kondisi ini juga menjadi persoalan politik bagi Trump menjelang pemilu paruh waktu Amerika Serikat yang dijadwalkan berlangsung sekitar tiga bulan mendatang.
Ancaman Keamanan Masih Membayangi
Ilustrasi - Rudal Iran. (Antara)
Meskipun jalur diplomasi terus ditempuh, kondisi keamanan di Timur Tengah masih jauh dari stabil. Pada Sabtu, Kedutaan Besar Amerika Serikat di sejumlah ibu kota negara Timur Tengah mengeluarkan peringatan kepada warga negaranya untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi eskalasi mendadak dan mempersiapkan kemungkinan meninggalkan wilayah tersebut apabila diperlukan.
Pada pekan sebelumnya, sebuah drone menghantam kapal pengangkut gas milik perusahaan Amerika Serikat yang tengah berlabuh di salah satu pelabuhan Mesir. Serangan tersebut memicu kebakaran. Pemerintah Mesir masih melakukan penyelidikan dan belum menetapkan pihak yang bertanggung jawab.
Insiden lain terjadi di perairan Oman. Sebuah proyektil yang belum diketahui asalnya menghantam kapal tanker di lepas pantai negara tersebut, berdasarkan laporan badan keamanan maritim Inggris.
Baca Juga: Netanyahu Temui Trump di Gedung Putih, Bahas Perang Iran dan Hal Ini
Perusahaan pemantau perdagangan maritim Kpler menyebut aktivitas kapal yang melintasi Selat Hormuz mengalami penurunan signifikan sejak konflik kembali meningkat.
Sementara itu, di Selat Bab el-Mandeb, kelompok Houthi yang mendapatkan dukungan Iran membantah tudingan bahwa mereka berencana memungut biaya dari kapal-kapal yang melewati jalur tersebut.
Selat Bab el-Mandeb merupakan jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Samudra Hindia serta menjadi akses penting menuju Terusan Suez dan Laut Mediterania.
Arsip - Presiden AS Donald Trump berbicara dengan Pangeran Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman saat KTT G20 di Osaka, Jepang, 28 Juni 2019. (ANTARA/REUTERS/Kevin Lamarque/aa) (Antara)