Ntvnews.id, Jakarta -Di tengah konflik yang belum menemui titik terang, Rusia kembali menegaskan posisinya yang tetap membuka lebar pintu negosiasi dengan Ukraina. Moskow menyatakan kesiapannya untuk mempertimbangkan setiap usulan konstruktif, termasuk menata ulang format pembicaraan antara kedua negara yang tengah bertikai tersebut.
Sikap tersebut ditekankan oleh Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Mikhail Galuzin. Ia secara tegas menepis anggapan bahwa negaranya enggan menempuh jalur damai, dan memastikan Moskow tidak pernah menolak upaya dialog untuk meredakan krisis.
"Pejabat Rusia telah berulang kali mengatakan bahwa kami selalu terbuka untuk berunding. Pihak Ukraina yang justru menghentikan proses tersebut dan bahkan melarang. Kami tidak pernah menolak untuk mempertimbangkan usulan yang konstruktif, termasuk mengenai format kontak. Apakah gagasan seperti itu akan muncul atau tidak, hal itu bukan bergantung kepada kami," ungkap Galuzin saat berbicara kepada media harian Izvestia.
Baca juga:Serangan Ukraina di Sejumlah Wilayah Rusia Tewaskan Sedikitnya 8 Orang
Dalam penjelasannya, ia membeberkan bahwa pertemuan diplomatik terakhir sebenarnya telah dilaksanakan di Jenewa lebih dari lima bulan lalu, tepatnya pada bulan Februari, dengan turut melibatkan Amerika Serikat. Namun, proses tersebut mandek lantaran sejumlah diplomat Ukraina dituding beberapa kali menghentikan jalannya perundingan secara sepihak.
Kondisi tersebut cukup disayangkan mengingat banyaknya tawaran dari berbagai negara yang bersedia menjadi fasilitator perdamaian. Selama ini, Turki telah berulang kali mengambil peran sebagai mediator yang menyediakan lokasi penyelesaian konflik bagi Moskow dan Kiev. Selain itu, negara seperti Uni Emirat Arab, Qatar, hingga Swiss juga masuk dalam bursa opsi lokasi perundingan.
Terkait opsi lokasi, Rusia secara terbuka mengaku masih menaruh keraguan terhadap posisi netralitas Swiss dalam menyikapi krisis ini. Merespons keraguan tersebut, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Swiss segera angkat bicara. Mereka menegaskan bahwa negaranya selalu siap mendukung setiap inisiatif diplomatik demi mewujudkan perdamaian jangka panjang, sembari terus mempertahankan komunikasi dengan seluruh pihak yang terlibat.
Baca juga:Trump Sebut Perundingan AS-Iran Berjalan dalam Suasana Bersahabat
Sinyal perdamaian ini sejatinya selaras dengan visi Presiden Rusia Vladimir Putin. Pada akhir Juni lalu, sang Kepala Negara mengutarakan harapannya agar dialog dengan Amerika Serikat seputar krisis Ukraina dapat dilanjutkan, terutama setelah eskalasi konflik dengan Iran mulai mereda.
Lebih lanjut, Putin mengonfirmasi bahwa Rusia sangat siap untuk kembali ke meja perundingan. Mereka bersedia membahas berbagai isu krusial yang sebelumnya pernah diangkat dalam pertemuan di Anchorage pada Agustus 2025 lalu.
Sikap pro-diplomasi tersebut turut diamini oleh Juru Bicara Kremlin, Dmitry Peskov. Ia memastikan bahwa penyelesaian damai akan terus menjadi prioritas utama Rusia, terlepas dari fakta bahwa Moskow masih memiliki kekuatan dan kemampuan penuh untuk meneruskan operasi militernya di wilayah Ukraina.
Baca juga:Serangan Ukraina di Sejumlah Wilayah Rusia Tewaskan Sedikitnya 8 Orang
(Sumber:Antara)
Ilustrasi - Bangunan hunian rusak akibat serangan Rusia di Kiev, Ukraina, (6/7/2026). (Antara)