Ntvnews.id, Jakarta -Kematian massal satwa liar akibat virus flu burung H5 yang mematikan akhirnya menembus pertahanan alam Australia. Laporan media lokal pada Senin, 3 Agustus, mengungkap bahwa wabah ini telah merenggut nyawa kawanan burung camar jambul besar di Baudin Rocks, sebuah pulau terpencil yang terletak di lepas pantai tenggara wilayah South Australia.
Penemuan mengkhawatirkan ini pertama kali terdeteksi pada Jumat, 31 Juli 2026, melalui pemantauan jalur udara di kawasan yang berjarak sekitar lima kilometer arah selatan Cape Jaffa. Berdasarkan laporan Australian Broadcasting Corporation (ABC), hasil uji laboratorium terhadap sampel yang diambil dari lokasi kejadian secara sah mengonfirmasi adanya infeksi influenza unggas varian H5.
Peristiwa ini menjadi pukulan tersendiri bagi Benua Kanguru. Sebelumnya, Australia sempat menyandang status sebagai satu-satunya benua di dunia yang steril dari penyebaran virus mematikan tersebut, setidaknya hingga 14 Juni lalu.
Baca juga: Australia Gugat Telegram Gegara Konten Terorisme
Sejak saat itu, jejak flu burung hanya ditemukan secara terbatas pada kelompok burung laut subantartika yang tengah bermigrasi, utamanya spesies petrel raksasa di sepanjang pesisir pantai South Australia, West Australia, hingga New South Wales.
Hingga kini, otoritas kesehatan hewan setempat telah mencatat total 74 kasus terkonfirmasi. Sebaran kasus tersebut didominasi oleh wilayah South Australia dengan 54 temuan, disusul West Australia (10 kasus), Victoria (tujuh kasus), New South Wales (dua kasus), dan Queensland (satu kasus).
Menyikapi fenomena yang kian meluas, Menteri Pertanian Federal Julie Collins menyatakan bahwa insiden kematian massal di alam liar ini sebenarnya sudah masuk dalam radar perkiraan pemerintah.
"Sayangnya, kita tahu bahwa begitu flu burung H5 menyebar di satwa liar dan lingkungan alam, tidak mungkin untuk menghindari kerugian yang signifikan, seperti yang mulai kita lihat sekarang," tuturnya memaparkan situasi.
Baca juga: Australia Selatan Temukan 7 Kasus Suspek Baru Flu Burung H5N1
Meski alarm bahaya bagi satwa liar telah berbunyi, Collins memastikan belum ada bukti yang menunjukkan bahwa virus ini telah menyusup ke peternakan unggas atau sistem pertanian nasional. Tingkat risiko ancaman penularan terhadap kesehatan manusia pun dipastikan masih sangat rendah.
Pemerintah sejauh ini telah mengambil langkah antisipasi untuk melindungi ketahanan pangan nasional.
"Kami telah berinvestasi dan bekerja sangat erat dengan sektor pertanian kami, khususnya sektor unggas, dalam hal peningkatan dan penguatan biosekuriti untuk melakukan segala yang kami bisa untuk mencegahnya masuk ke sistem pertanian kami," ujar Collins. Ia juga meminta warga bersiap menghadapi potensi peningkatan paparan di alam liar, seraya mengingatkan, "Tetapi Anda cenderung melihat dampak penularan di seluruh dunia terkait H5."
Baca juga: Situs Judol H55 Hiwin Dibongkar Bareskrim, 4 Pelaku Ditangkap
Peringatan bernada serupa turut disuarakan oleh Menteri Lingkungan Federal Murray Watt. Ia secara blak-blakan menggambarkan situasi ini sebagai awal dari fase yang panjang dan penuh rintangan bagi pelestarian ekosistem fauna di Australia.
"Kenyataannya adalah Anda tidak dapat menghentikan burung asli dan liar terbang, dan Anda tidak dapat menghentikan hewan liar bergerak, dan itu akan berarti lebih banyak peristiwa kematian massal seperti yang telah kita lihat sekarang," tegas Watt.
Sebagai bentuk respons cepat, rencana pengelolaan nasional khusus penanganan flu burung H5 telah diaktifkan secara penuh. Operasi darurat ini mendapat dukungan sokongan dana tambahan senilai 24 juta dolar (sekitar Rp303 miliar), yang bersumber dari anggaran gabungan antara pemerintah negara bagian dan federal.
(Sumber;Antara)
Ilustrasi - Kasus langka infeksi flu burung subtipe A(H5N1) (Antara)