Ntvnews.id, Jakarta -Perusahaan energi asal Prancis, EDF, terpaksa mematikan tiga reaktor nuklir menyusul kondisi kekeringan parah yang memicu penurunan debit air di Sungai Meuse dan Moselle. Laporan media setempat pada Selasa (4/8) menyebutkan langkah tersebut diambil untuk menjaga kelestarian lingkungan dan mematuhi regulasi yang berlaku.
Sebagaimana diberitakan surat kabar Le Figaro, dua reaktor di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Chooz di wilayah Ardennes, timur laut Prancis, serta satu reaktor di fasilitas Cattenom di Moselle masih belum beroperasi hingga Senin sore (3/8).
EDF mematikan reaktor No. 1 Chooz pada Sabtu malam guna mematuhi perjanjian tahun 1998 antara Pemerintah Prancis dan Belgia terkait pengelolaan Sungai Meuse. Adapun reaktor kedua di fasilitas tersebut telah lebih dahulu dinonaktifkan sejak 11 Juli berdasarkan kesepakatan yang sama.
Baca juga:Rekor Terburuk! 116 Ribu Hektare Hutan Hangus, Prancis Ringkus 162 Tersangka Pembakar
Pihak EDF menjelaskan, perjanjian lintas negara itu memungkinkan dilakukannya penyesuaian produksi listrik demi menjamin ketersediaan debit air yang memadai bagi para pengguna Sungai Meuse, baik di wilayah Prancis maupun Belgia.
Langkah pencegahan serupa diterapkan pada PLTN Cattenom. EDF mematikan salah satu reaktornya pada rentang Jumat malam hingga Sabtu dini hari akibat menyusutnya permukaan air di Sungai Moselle. Selain penghentian total pada tiga reaktor tersebut, EDF juga telah mengurangi atau berencana memangkas kapasitas produksi di empat reaktor lainnya, yakni Bugey 3, Tricastin 4, serta Saint-Alban 1 dan 2.
Secara nasional, Prancis mengoperasikan 57 reaktor nuklir yang menopang sekitar 70 persen kebutuhan listrik negara tersebut. Fasilitas PLTN pada umumnya dibangun di tepi sungai atau kawasan pesisir karena membutuhkan pasokan air dalam skala besar sebagai media pendingin.
Ketika bencana kekeringan dan gelombang panas menerjang, penurunan debit sungai yang disertai kenaikan suhu air kerap memaksa EDF untuk membatasi hingga menghentikan operasional pembangkit. Pembatasan ini krusial dilakukan demi melindungi ekosistem perairan dari sengatan suhu panas sisa pembuangan air pendingin, sekaligus mencegah konsentrasi pelepasan limbah kimia maupun radioaktif tertentu saat permukaan sungai dalam kondisi dangkal.
Baca juga:Iran Ancam Targetkan Reaktor Nuklir Israel
Ancaman iklim ini diperkirakan masih bertahan. Pada Senin, wilayah administratif Ardennes dan Moselle ditetapkan dalam status peringatan kuning gelombang panas seiring suhu ekstrem yang terus membakar sejumlah wilayah di Prancis.
(Sumber:Antara)
Ilustrasi masyarakat Prancis alami gelombang panas (Antara)