Presiden Korsel Tetapkan Gelombang Panas sebagai Bencana Nasional

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 6 Agu 2026, 04:00
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Lee Jae Myung Lee Jae Myung (Antara/Anadolu)

Ntvnews.id, Seoul - Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung memerintahkan pemerintah memperkuat perlindungan terhadap masyarakat yang terdampak gelombang panas ekstrem. Ia menyebut kondisi cuaca tersebut sebagai bencana nasional setelah sedikitnya 19 orang dilaporkan meninggal dunia akibat suhu yang terus meningkat.

Dalam rapat kabinet pada Selasa, Lee menginstruksikan seluruh kementerian dan lembaga terkait untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan guna melindungi keselamatan masyarakat. Ia juga meminta pemerintah memastikan pasokan listrik tetap andal di tengah meningkatnya penggunaan pendingin ruangan.

"Yang lebih mengkhawatirkan adalah kondisi cuaca ekstrem ini sangat mungkin terus berlanjut dalam jangka waktu yang cukup lama," kata Lee, seperti dikutip dari AsiaOne, Kamis, 6 Agustus 2026.

Selain itu, Presiden Lee mendorong dilakukannya reformasi besar terhadap sistem penanggulangan bencana agar negara lebih siap menghadapi fenomena cuaca ekstrem pada masa mendatang.

Badan Meteorologi Korea (KMA) melaporkan Kota Yangsan di wilayah tenggara mencatat suhu mencapai 42,5 derajat Celsius pada Minggu. Angka tersebut menjadi suhu tertinggi sejak pencatatan meteorologi modern dimulai 122 tahun lalu.

Baca Juga: 3 Singa di Kebun Binatang Mati Diduga Akibat Gelombang Panas

KMA juga untuk pertama kalinya mengeluarkan peringatan gelombang panas yang mencakup seluruh wilayah Seoul. Sebelumnya, peringatan serupa hanya diberlakukan di sebagian kawasan ibu kota dan Provinsi Gyeonggi.

Melalui peringatan tersebut, masyarakat diimbau menghentikan berbagai aktivitas di luar ruangan, termasuk bertani, berolahraga, maupun bekerja di proyek konstruksi.

Gelombang panas juga memberikan dampak besar terhadap kelompok masyarakat yang paling rentan.

"Saya belum pernah merasakan panas seperti ini selama tinggal di sini," kata Cho Sang-yeon, warga yang telah hampir dua dekade tinggal di kawasan jjokbang, permukiman rumah satu kamar berbiaya murah di Distrik Yeongdeungpo, Seoul.

Sebagian penghuni kawasan tersebut telah dipindahkan ke tempat penampungan sementara yang disediakan pemerintah dan dilengkapi fasilitas pendingin ruangan. Namun, banyak tunawisma masih bertahan di lokasi itu.

Gelombang Panas <b>(Istimewa)</b> Gelombang Panas (Istimewa)

"Saya sedih melihat para tunawisma yang harus bertahan di jalan dalam cuaca sepanas ini," ujar warga lainnya, Son Ki-young.

Untuk mengurangi dampak cuaca ekstrem, petugas pemadam kebakaran bersama pemerintah daerah melakukan penyemprotan air di sejumlah ruas jalan serta memantau kondisi warga yang berisiko mengalami gangguan kesehatan akibat suhu tinggi.

Berdasarkan data Korea Disease Control and Prevention Agency (KDCA), jumlah korban meninggal akibat gelombang panas kini mencapai 19 orang. Sebanyak 13 di antaranya merupakan warga berusia 80 tahun ke atas.

Sejak 15 Mei, tercatat sebanyak 2.025 orang di Korea Selatan mengalami penyakit yang berkaitan dengan paparan suhu panas.

Cuaca ekstrem juga memengaruhi penyelenggaraan kompetisi olahraga. Dua pertandingan bisbol yang sedianya digelar di Seoul dan Gwangju pada Selasa terpaksa dibatalkan karena suhu udara yang dinilai terlalu tinggi.

HIGHLIGHT

x|close