Menhut: Skema BLU Pacu Model Pendanaan Konservasi yang Inovatif

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 6 Agu 2026, 15:50
thumbnail-author
Naila Fadhilah
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni (kanan), Ketua Satgas Pembiayaan Taman Nasional Hashim Djojohadikusumo (tengah), dan Wakil Ketua Bidang Investasi Satgas Pembiayaan Taman Nasional Mari Elka Pangestu dalam dialog Satgas bersama para pemimpin redaksi media nasional di Kantor Kementerian Kehutanan, Jakarta, Rabu (5/8/2026). Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni (kanan), Ketua Satgas Pembiayaan Taman Nasional Hashim Djojohadikusumo (tengah), dan Wakil Ketua Bidang Investasi Satgas Pembiayaan Taman Nasional Mari Elka Pangestu dalam dialog Satgas bersama para pemimpin redaksi media nasional di Kantor Kementerian Kehutanan, Jakarta, Rabu (5/8/2026). (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta -Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni menyatakan tiga taman nasional (TN) kini resmi berstatus Badan Layanan Umum (BLU). Kebijakan ini dihadirkan untuk mendorong skema pendanaan yang lebih inovatif guna memperkuat pengelolaan kawasan konservasi.

Dalam keterangan resminya di Jakarta pada Kamis (6/8), Menhut merinci ketiga kawasan tersebut mencakup Taman Nasional Komodo, Taman Nasional Gunung Rinjani, dan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.
 
Raja Antoni menjelaskan, penetapan status BLU memberi fleksibilitas sehingga pendapatan yang dihimpun masing-masing taman nasional dapat diputar kembali untuk kawasan itu sendiri. Selama ini, penerimaan dari tiket masuk wisata dicatat sebagai Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang langsung disetor ke kas negara, sehingga belum tentu disalurkan utuh bagi pemeliharaan kawasan.
 
“Dengan BLU ini, apa yang didapatkan di Komodo, Rinjani, dan Bromo Tengger Semeru itu bisa balik lagi kepada alam. Untuk memperbaiki sarana prasarana, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, konservasi, dan lain sebagainya,” ujar Menhut Raja Antoni.
 
 
Ia menyebut keberhasilan ini tidak lepas dari gerak cepat Satgas Pembiayaan Taman Nasional yang baru dibentuk, di mana usulan BLU untuk ketiga taman nasional tersebut langsung mendapat persetujuan dari Kementerian Keuangan.

Lebih lanjut, pemerintah juga mulai merancang skema pembiayaan kreatif melalui blended financing. Pendekatan ini mengombinasikan dana APBN dengan pembiayaan swasta, filantropi, maupun investasi agar pendanaan konservasi tidak lagi bergantung sepenuhnya pada anggaran negara.

Senada dengan hal itu, Ketua Satgas Pembiayaan Taman Nasional Hashim Djojohadikusumo memaparkan bahwa satgas bertugas mencari terobosan pembiayaan bagi seluruh 57 taman nasional di tanah air. Langkah ini selaras dengan arahan Presiden yang menginginkan penguatan kawasan konservasi lewat pendanaan yang inovatif dan berkelanjutan.

“Presiden punya ide kalau bisa seluruh 57 taman nasional kita cari cara-cara khusus, inovatif untuk membiayai,” kata Hashim.

 
 
Hashim menekankan bahwa upaya melindungi alam, menyejahterakan warga, dan membangun masa depan Indonesia merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan.

Sementara itu, Wakil Ketua Bidang Investasi Mari Elka Pangestu menegaskan bahwa terobosan pembiayaan ini sama sekali tidak ditujukan untuk mengomersialkan taman nasional. Sebaliknya, dana yang terhimpun bakal difokuskan untuk memperkuat kerja-kerja konservasi, menjaga keanekaragaman hayati dan ekosistem, serta melindungi spesies prioritas yang terancam punah. Pemanfaatan jasa lingkungan (ecosystem services) pun diharapkan memberi dampak berkelanjutan bagi kawasan maupun warga lokal.

 
(Sumber:Antara)
 

HIGHLIGHT

x|close