BPOM Dorong Apoteker Kuasai Terapi Lanjutan untuk Perkuat Ketahanan Kesehatan

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 9 Agu 2026, 15:40
thumbnail-author
Annisa Aldifa Keyla
Penulis
thumbnail-author
Ramses Manurung
Editor
Bagikan
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mendorong apoteker untuk terus mengikuti perkembangan teknologi kefarmasian, termasuk produk biologi, obat terapi lanjutan atau advanced therapy medicinal products (ATMP), serta living therapy.

Kepala BPOM Taruna Ikrar menilai perkembangan teknologi membuat peran apoteker semakin penting dalam mendukung ketahanan kesehatan nasional.

"Ketahanan kesehatan menjadi bagian tidak terpisahkan dari ketahanan nasional suatu bangsa. Membangun ketahanan kesehatan memerlukan pendekatan komprehensif yang perlu berakselerasi dari pendekatan kuratif dan sektoral menuju kuratif preventif, kolaboratif, serta lintas sektor," kata Taruna di Jakarta, Jumat, 7 Agustus 2026.

Menurut Taruna, apoteker merupakan salah satu mitra strategis BPOM dalam memastikan berbagai obat dan produk kesehatan yang beredar di masyarakat telah memenuhi persyaratan keamanan, mutu, dan khasiat.

Selain itu, apoteker memiliki peran dalam memastikan penggunaan obat secara rasional, memberikan edukasi kepada masyarakat, serta mengawasi keamanan produk melalui pelaporan efek samping dan pemantauan setelah produk beredar.

Taruna mengatakan penguatan ketahanan kesehatan juga dapat dilakukan melalui pendekatan one health. Pendekatan tersebut mengintegrasikan aspek kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan secara menyeluruh.

Baca juga: BPOM Dorong Pengembangan Probiotik lewat Penguatan Riset dan Regulasi

Ia menjelaskan regulatory science menjadi salah satu fondasi dalam penerapan one health. Pendekatan tersebut menghubungkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan penyusunan kebijakan publik yang didasarkan pada analisis risiko serta bukti ilmiah.

"Dengan one health akan membentuk health society hingga terbentuknya ketahanan kesehatan secara nasional untuk Indonesia Maju," ujar Taruna Ikrar.

Taruna menilai Indonesia memiliki berbagai modal yang dapat mendukung pengembangan inovasi di bidang obat dan makanan. Modal tersebut mencakup jumlah penduduk, kondisi demografi, kekayaan sumber daya alam, hingga keanekaragaman hayati.

Menurut dia, berbagai potensi tersebut dapat dimanfaatkan untuk mendorong Indonesia menjadi salah satu pusat inovasi obat dan makanan.

Keberadaan regulatory science juga dinilai penting agar hasil penelitian tidak berhenti pada tahap laboratorium, tetapi dapat dikembangkan menjadi produk yang memenuhi aspek keamanan, mutu, manfaat, serta memiliki daya saing.

“Jika seluruh elemen tersebut bergerak dalam satu ekosistem, kolaborasi akan menghasilkan dampak nyata yaitu perlindungan masyarakat yang lebih optimal, meningkatnya daya saing dan kemandirian industri nasional, sistem kesehatan yang semakin tangguh dan berkelanjutan, serta meningkatnya kepercayaan terhadap produk Indonesia di tingkat global,” katanya.

Baca Juga: Menkes Juga Kepala BPOM Hadiri Kongres XXII dan PIT IAI 2026 di kota Medan

Untuk mendukung tujuan tersebut, BPOM memperkuat kerja sama dengan Ikatan Apoteker Indonesia (IAI). Kolaborasi tersebut diarahkan untuk memperkuat pengawasan obat dan makanan sekaligus meningkatkan ketahanan kesehatan nasional.

Sementara itu, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan penguatan sektor kefarmasian menjadi salah satu bagian penting dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.

Pemerintah menargetkan rata-rata usia harapan hidup masyarakat Indonesia dapat mencapai 76 tahun pada 2029. Selain meningkatkan usia hidup, pemerintah juga menargetkan peningkatan usia hidup sehat masyarakat.

“Sekarang usia harapan hidup masyarakat Indonesia naik menjadi 74 tahun dari tahun sebelumnya 72 tahun. Tahun 2029 kita targetkan menjadi 76 tahun, kemudian juga rata-rata hidup sehat yang dari 60 tahun ke 70 tahun. Jadi, bukan cuma menaikkan usia hidup, tetapi juga sehat dan itu butuh sinergi pemerintah dengan kefarmasian,” ujar Menkes Budi.

(Sumber: Antara)

TERKINI

Load More

HIGHLIGHT

x|close