Ntvnews.id, Jakarta - Ratusan pengurus Nahdlatul Ulama (NU) dari berbagai wilayah dan cabang menegaskan pentingnya menjadikan Qanun Asasi sebagai pijakan utama dalam mengembalikan ruh dan arah perjuangan organisasi.
Pandangan tersebut mengemuka dalam kegiatan silaturahmi yang dihadiri jajaran Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) dan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) dari berbagai daerah di Jakarta, Sabtu, 8 Agustus 2026.
Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, mengatakan pembenahan NU ke depan perlu kembali mengacu pada nilai-nilai yang telah diwariskan para ulama dan pendiri organisasi.
Menurutnya, Qanun Asasi bukan sekadar dokumen organisasi, tetapi menjadi pijakan penting untuk memastikan struktur, peran dan arah kebijakan NU tetap sesuai dengan cita-cita awal berdirinya organisasi.
“Kita tinggal mengembalikannya saja. Struktur dan peran organisasi disesuaikan sedekat mungkin dengan pesan para pendiri dan ulama, agar NU ke depan menjadi lebih sejuk dan kompak,” ujar Gus Kikin.
Ia menilai penguatan kembali Qanun Asasi penting dilakukan agar NU tidak kehilangan ruh perjuangannya di tengah dinamika organisasi dan perkembangan zaman.
Di tengah dorongan untuk menguatkan kembali pijakan organisasi tersebut, nama Gus Kikin juga menguat dalam bursa calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada Muktamar ke-35 NU.
Gus Kikin mengaku siap menjalankan amanah apabila dipercaya atau mendapat penugasan untuk maju sebagai calon Ketua Umum PBNU.
Ia menegaskan, jabatan bukan menjadi tujuan utama dalam berkhidmat di NU. Menurutnya, setiap kader harus siap menjalankan amanah organisasi di posisi apa pun.
“Kita berkhidmat di NU itu mau di posisi mana pun, kita bisa berkhidmat. Yang jadi pertimbangan utama adalah bagaimana berkhidmat untuk menjadikan masyarakat lebih berkat,” katanya.
Saat ditanya mengenai kesiapannya maju sebagai Caketum PBNU, Gus Kikin memberikan jawaban tegas.
“Kalau sudah ditugaskan, ya harus siap,” tegasnya.
Sikap tersebut menunjukkan bahwa Gus Kikin membuka diri terhadap amanah untuk maju dalam kontestasi kepemimpinan PBNU, namun tetap menempatkan prinsip khidmah sebagai dasar utama.
Gus Kikin juga menyoroti pentingnya menjaga tradisi silaturahmi dan diskusi di lingkungan NU. Menurutnya, pertemuan antar-pengurus dari berbagai daerah merupakan bagian dari tradisi organisasi yang harus terus dipertahankan.
“Ini tradisi NU, silaturahmi, berdiskusi, ada garis-garis sambung. Mumpung teman-teman dari daerah sedang berkumpul di Jakarta, kita adakan acara silaturahmi ini,” tuturnya.
Ia mengatakan NU sejak awal memiliki tugas untuk menjaga persatuan dan menjadi penengah ketika terjadi perbedaan atau konflik.
“Mengislahkan itu kalau ada orang yang bertikai, NU harus bisa mendamaikan. Itu memang sejak NU dilahirkan salah satu tugas dasarnya,” ujarnya.
Menurut Gus Kikin, pesan tersebut juga sejalan dengan yang disampaikan KH Ma’ruf Amin mengenai pentingnya sosok pemimpin NU yang mampu mendamaikan berbagai pihak.
Gus Kikin Siap Maju Caketum PBNU.