Menlu Iran Tuntut AS Hentikan Pelanggaran Jika Ingin Berunding

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 10 Agu 2026, 11:23
thumbnail-author
Naila Fadhilah
Penulis
thumbnail-author
Siti Ruqoyah
Editor
Bagikan
Presiden AS Donald Trump menggelar konferensi pers di Kompleks Kepresidenan sebagai bagian dari KTT NATO ke-36 para Kepala Negara dan Pemerintahan di Ankara, Turkiye, pada 8 Juli 2026. Presiden AS Donald Trump menggelar konferensi pers di Kompleks Kepresidenan sebagai bagian dari KTT NATO ke-36 para Kepala Negara dan Pemerintahan di Ankara, Turkiye, pada 8 Juli 2026. (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta -Peluang dibukanya kembali jalur dialog antara Teheran dan Washington berada di ujung tanduk. Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, secara tegas menyatakan bahwa kelanjutan negosiasi dengan Amerika Serikat tidak akan pernah terwujud sebelum AS menghentikan pelanggaran Nota Kesepahaman (MoU) dan membayar ganti rugi atas tindakan mereka.


Pernyataan keras tersebut disampaikan Araghchi saat ditemui awak media di sela-sela sebuah acara di Teheran pada Minggu (9/8). Mengutip laporan kantor berita resmi Iran, IRNA, melalui Xinhua, Araghchi menegaskan bahwa tidak ada dialog langsung yang sedang berjalan saat ini.

"Meskipun pesan-pesan dipertukarkan melalui mediator, proses ini tidak disebut negosiasi," ujar Araghchi.

Ia mengungkapkan bahwa usaha sejumlah negara perantara untuk membawa kembali kedua pihak ke meja perundingan dipastikan buntu. Pihak Teheran menuntut pertanggungjawaban penuh dari Washington sebelum pembicaraan formal dapat dilanjutkan.
 
 
Selain mengunci pintu diplomasi, Iran juga memberikan batasan tegas terkait pembukaan kembali Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan maritim paling strategis di dunia. Saat ini, Iran tengah intens berkomunikasi dengan Oman untuk merumuskan pengaturan lalu lintas pelayaran baru di selat tersebut.

Araghchi mengonfirmasi bahwa pembahasan dengan Muscat mengenai rute baru berjalan positif. Kendati demikian, potensi tercapainya kesepakatan rute dengan Oman tidak secara otomatis mengakhiri pemblokiran Selat Hormuz bagi kapal-kapal tertentu.

Menurut Araghchi, pembukaan penuh jalur perairan tersebut tetap bergantung pada pemenuhan syarat-syarat khusus yang telah dilayangkan Iran kepada AS melalui pihak ketiga.
Krisis di Selat Hormuz sendiri membara sejak 28 Februari lalu, ketika Iran memperketat kontrol dan melarang perlintasan aman bagi seluruh kapal milik maupun yang berafiliasi dengan Israel dan AS. Langkah drastis ini diambil Teheran sebagai bentuk balasan atas serangan gabungan kedua negara tersebut ke wilayah kedaulatan Iran.
 

Padahal, pada Juni lalu, Iran dan AS sempat menandatangani MoU moratorium perang di seluruh garis depan konflik, termasuk kawasan Lebanon. Kesepakatan awal tersebut sedianya mengamanatkan perundingan lanjutan dalam tenggat 60 hari demi mencapai kesepakatan damai final.

Namun, gelombang eskalasi terbaru yang dipicu pelanggaran komitmen oleh AS membuat proses perdamaian tersebut kini menggantung tanpa kepastian.
 
(Sumber:Antara)

TERKINI

BPS Minta Pemda Waspadai Kenaikan Harga Daging Ayam Ras

Nasional Senin, 10 Agu 2026 | 12:52 WIB

Trump Tak Khawatir Netanyahu Tolak Rencana Perdamaian Gaza

Luar Negeri Senin, 10 Agu 2026 | 12:45 WIB

Pria Tewas Dihantam KRL di Perlintasan JIS Papanggo

Metro Senin, 10 Agu 2026 | 12:36 WIB

PM Kosovo Dilempari Telur Saat Sidang Parlemen

News Senin, 10 Agu 2026 | 12:26 WIB

Bigmo Diperiksa Polisi Hari Ini

Metro Senin, 10 Agu 2026 | 12:05 WIB

Inilah Sosok Gadis Purwodadi Grobogan Terima Mahar Rp3 M

Viral Senin, 10 Agu 2026 | 11:54 WIB

Sinyal Trump: AS Bakal Manfaatkan Krisis Ekonomi untuk Tekan Iran

Luar Negeri Senin, 10 Agu 2026 | 11:50 WIB

Kebakaran Hantam Rumah Warga di Jembatan Dua Jakut

Metro Senin, 10 Agu 2026 | 11:43 WIB
Load More

HIGHLIGHT

x|close