Ntvnews.id, Jakarta - Pemerintah menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebagai langkah utama untuk menanggulangi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang saat ini melanda area seluas 107.000 hektare di berbagai wilayah Indonesia. Metode ini dinilai menjadi strategi paling efektif untuk menjangkau serta memadamkan kobaran api di lahan yang sangat luas.
Kendati demikian, keberhasilan strategi tersebut sangat bergantung pada kondisi alam di atmosfer.
"Tetapi ada satu persyaratan yang harus kita hadapi, yaitu kita harus menemukan awan hujan. Selama awan hujan itu tidak bisa kita temukan, kita tidak akan bisa membuat hujan buatan," kata Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Djamari Chaniago saat jumpa pers di Gedung Kemenko Polkam, Jakarta, Senin, 10 Agustus 2026.
Secara teknis, proses pembuatan hujan buatan dilakukan dengan menerbangkan pesawat untuk menyebarkan zat menyerupai garam ke dalam awan target. Kandungan garam tersebut bakal merangsang proses kondensasi hingga awan mampu menurunkan curah air dalam volume yang cukup besar.
Meski gumpalan awan potensial belum terlihat di atas kawasan terdampak, pihak Kemenko Polkam optimistis potensi tersebut akan muncul dalam hitungan hari. Armada penyemaian akan langsung dikerahkan begitu awan pembawa air terdeteksi.
"Berdasarkan perkiraan sekarang ini pada minggu-minggu ini sampai dengan tanggal 18 Agustus itu ada tiga atau empat hari kemungkinan awan hujan ada," ucapnya.
Laju karhutla saat ini dipicu oleh musim kemarau serta paparan fenomena iklim El Nino yang melanda tanah air.
"Kita menghadapi El Nino yang kuat, yang sudah berlaku dan mulai berlaku sekarang sampai dengan awal September atau awal Oktober yang akan datang," ungkapnya.
Sebaran lahan terbakar mencakup wilayah kategori rawan dan nonrawan. Adapun daerah rawan karhutla terkonsentrasi di enam provinsi, yaitu Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Riau.
Penanganan dari udara terus dimaksimalkan sembari menunggu kesiapan OMC. Puluhan armada udara dikirimkan ke titik-titik lokasi kebakaran.
"Kita mengerahkan sekitar 43 helikopter sampai dengan hari ini, ditambah dengan fixed-wing juga bisa antara 10 sampai dengan 15 sesuai dengan kebutuhan," kata Djamari.
Guna menunjang pemadaman di jalur darat, tim di lapangan memanfaatkan flexible tank atau wadah penampung air sementara. Fasilitas ini berfungsi menyimpan pasokan air berkapasitas besar sebelum disalurkan langsung menuju titik-titik api.
Langkah teknis tersebut diimbangi dengan penguatan koordinasi bersama pemerintah daerah serta instansi terkait demi memastikan area yang tertangani benar-benar bebas dari sisa api. Melalui kombinasi operasi udara, pemadaman darat, dan rencana modifikasi cuaca, titik api di wilayah bencana diharapkan dapat padam dalam waktu dekat.
(Sumber: Antara)
Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Djamari Chaniago (kiri) didampingi Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni (ketiga kanan), Menteri Lingkungan Hidup Mohammad Jumhur Hidayat (kedua kanan) dan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto (kanan) menyampaikan keterangan pers usai rapat koordinasi penanganan kebakaran hutan dan lahan di Gedung Utama Kemenko Polkam, Jakarta, Senin (10/8/2026). Menko Polkam mengatakan hingga awal Agustus 2026 wilayah hutan yang terbakar mencapai 107 ribu hektare dan telah melakukan operasi udara dengan mengerahkan sekitar 43 helikopter serta 15 unit fixed wing (Antara)