Ntvnews.id, Tel Aviv - Sara Netanyahu, istri Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, kembali menghadapi tudingan terkait perlakuan buruk terhadap staf rumah tangga di kediaman perdana menteri. Tuduhan tersebut mencuat menjelang pemilihan umum yang dijadwalkan berlangsung pada Oktober mendatang.
Dilansir dari Anadolu Agency, Selasa, 11 Agustus 2026, menyebut bahwa Sara dituduh kerap berteriak, melontarkan penghinaan, serta memperlakukan para pekerja rumah tangga dengan buruk selama lebih dari 25 tahun di kediaman resmi perdana menteri.
Sementara itu, surat kabar Yedioth Ahronoth menyebut telah memeriksa puluhan kesaksian dan gugatan dari mantan pegawai. Tuduhan yang disampaikan para pekerja beragam, mulai dari kekerasan verbal, penghinaan, hingga tuntutan pekerjaan yang dianggap berlebihan.
Beberapa kasus tersebut telah berakhir di pengadilan dan menghasilkan putusan pemberian kompensasi kepada pekerja. Namun, sejumlah perkara lainnya diselesaikan melalui kesepakatan di luar pengadilan atau justru ditolak.
Sara Netanyahu bersama kuasa hukumnya berulang kali membantah tuduhan yang diarahkan kepadanya. Mereka menyebut tuduhan tersebut sebagai bagian dari "kampanye media" sekaligus upaya untuk mendapatkan uang dari negara secara tidak semestinya.
Salah satu tuduhan terbaru disampaikan Yehiel Ohav Ami, 61 tahun, yang selama setahun terakhir bekerja di kediaman perdana menteri. Ia mengaku "menjadi sasaran teriakan, penghinaan, dan perlakuan merendahkan, serta pernah diperintahkan untuk membersihkan lantai dapur sambil merangkak."
Baca Juga: Trump Tak Khawatir Netanyahu Tolak Rencana Perdamaian Gaza
Ami juga mengklaim Sara Netanyahu pernah mendoakan dirinya terkena kanker hingga meninggal dunia. Setelah menuding Ami mengalami autisme, Sara disebut mengatakan kepadanya: "Saya adalah psikiater nomor satu di negara ini, dan tidak ada yang bisa menandingi saya."
Kantor Netanyahu membantah tuduhan tersebut. Mereka menyebutnya sebagai "upaya lain untuk merekayasa pemerasan uang dari negara dengan mencemarkan nama baik istri perdana menteri."
Sara juga mengambil langkah hukum dengan menggugat Ami. Ia menuduh mantan pekerja tersebut mengambil foto kediaman perdana menteri secara ilegal dan melakukan pelanggaran terhadap privasinya.
Yedioth Ahronoth turut mengungkap perkara lain yang melibatkan Meni Naftali, mantan pengelola kediaman resmi perdana menteri. Naftali sebelumnya mengajukan gugatan terhadap kantor Netanyahu terkait kondisi kerja yang dialaminya.
Pada Februari 2016, Pengadilan Ketenagakerjaan Regional Yerusalem memutuskan agar kompensasi sebesar 170.000 shekel atau sekitar Rp1 miliar dibayarkan kepada Naftali. Putusan tersebut berkaitan dengan kondisi kerja yang dinilai buruk di kediaman perdana menteri akibat perilaku Sara Netanyahu terhadap para pegawai.
Namun, putusan kompensasi itu tidak dijatuhkan secara pribadi kepada Sara. Pengadilan menetapkan negara dan sejumlah pihak lain sebagai tergugat dalam perkara tersebut.
Kasus lain juga dialami Guy Eliyahu, seorang pekerja pemeliharaan yang memperoleh kompensasi pada 2016 setelah pengadilan mengabulkan sebagian besar gugatannya. Ia menyatakan bekerja dalam suasana penuh tekanan yang ditandai ketakutan, teriakan, teguran, serta penghinaan.
Eliyahu mengaku pernah diminta kembali ke kediaman perdana menteri setelah tengah malam hanya untuk memanaskan semangkuk sup bagi Sara Netanyahu. Pada kesempatan berbeda, ia mengatakan harus kembali ke kediaman tersebut hanya untuk mengucapkan "selamat malam" kepada Sara.
Ia juga mengungkapkan bahwa dalam kondisi tertentu dirinya harus bekerja hingga 19 jam dalam sehari.
Arsip - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berbicara di markas militer Kirya di Tel Aviv, Israel, 1 Maret 2026. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan pada hari Minggu bahwa angkatan udara Israel menyerang Teheran dengan (Antara)