Ntvnews.id, Manila - Hujan deras yang mengguyur wilayah utara Filipina selama sembilan hari memicu serangkaian bencana, mulai dari banjir, tanah longsor, hingga kecelakaan. Sedikitnya 16 orang dilaporkan meninggal dunia akibat rangkaian kejadian tersebut.
Dilansir dari AFP, Selasa, 11 Agustus 2026, Cuaca ekstrem yang diperburuk oleh badai tropis juga membuat sekolah dan kantor pemerintahan di seluruh pulau utama Luzon ditutup. Sementara itu, sejumlah ruas jalan di ibu kota Manila turut terendam banjir.
Di kawasan wisata Baguio, tujuh orang meninggal dunia setelah lereng gunung yang dipenuhi air longsor dan menimpa tiga rumah.
“Tujuh korban tewas tercatat di kawasan wisata Baguio, setelah lereng gunung yang jenuh air runtuh menimpa tiga rumah,” ujar petugas penyelamat kota Esther Banawe kepada AFP.
Selain korban meninggal, tiga orang lainnya hingga kini masih dinyatakan hilang dan belum ditemukan.
"Upaya penyelamatan terus berlanjut, namun dilakukan secara manual karena hujan deras," kata Banawe. Ia menjelaskan, proses pencarian dan penyelamatan dilakukan dengan pengawasan petugas keselamatan khusus untuk mengantisipasi potensi longsor susulan.
Baca Juga: Strategi Hujan Buatan Jadi Langkah Pemerintah Padamkan Karhutla
Prakirawan cuaca pemerintah, Dan Villamil, mengungkapkan bahwa jumlah curah hujan di Baguio, kota wisata yang berjarak sekitar empat jam perjalanan dari Manila ke arah utara, telah mencapai 47 persen di atas rata-rata normal untuk keseluruhan Agustus.
"Curah hujan yang tercatat selama periode 1-9 Agustus adalah yang tertinggi di Baguio, dengan akumulasi 1.413,2 mm," ujarnya. Ia menambahkan, rata-rata curah hujan bulanan di kota tersebut biasanya berada di angka 963,2 mm.
Villamil juga menyebut beberapa kawasan di Metro Manila telah menerima curah hujan yang jumlahnya mencapai sekitar 90 persen dari rata-rata curah hujan yang biasanya tercatat selama bulan Agustus.
Data dari kantor pertahanan sipil menunjukkan enam orang lainnya meninggal akibat tanah longsor di sejumlah wilayah Luzon. Sementara itu, satu orang tewas karena terseret dan tenggelam, satu lainnya meninggal akibat tertimpa pohon tumbang, dan satu korban lainnya kehilangan nyawa setelah tersengat listrik.
Ilustrasi Hujan Badai (Istimewa)
Hujan deras masih turun hingga Senin malam. Kendati demikian, Menteri Pekerjaan Umum Vince Dizon mengatakan kondisi banjir mulai membaik karena ketinggian air di sejumlah lokasi telah berangsur turun.
"Upaya penanganan kami terus berlanjut, namun kami benar-benar perlu memperbaiki langkah-langkah mitigasi banjir yang keliru selama bertahun-tahun dan berpuluh-puluh tahun terakhir," ujar Dizon kepada para wartawan.
Pernyataan tersebut disampaikan Dizon terkait skandal proyek pengendalian banjir fiktif yang selama ini diduga telah menghabiskan dana bernilai miliaran dolar yang bersumber dari pajak masyarakat.
Filipina merupakan salah satu negara pertama di kawasan Pasifik yang berhadapan langsung dengan jalur pergerakan siklon. Negara kepulauan tersebut rata-rata diterjang sekitar 20 badai dan topan setiap tahun.
Frekuensi bencana hidrometeorologi tersebut membuat jutaan penduduk yang tinggal di kawasan rawan bencana menghadapi risiko kehilangan mata pencaharian dan terjebak dalam kemiskinan dalam jangka panjang.
Ilustrasi hujan lebat. ANTARA/HO (Antara)