Bangka Belitung Waspada Kekeringan, BMKG Minta Warga Hemat Air

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 11 Agu 2026, 14:05
thumbnail-author
Annisa Aldifa Keyla
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Ketua Tim Data dan Informasi BMKG Kepulauan Babel Ketua Tim Data dan Informasi BMKG Kepulauan Babel (Antara)

Ntvnews.id, Pangkalpinang - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung meningkatkan status kewaspadaan terhadap kekeringan di wilayah tersebut. Kondisi itu berpotensi menyebabkan krisis air bersih selama musim kemarau.

Ketua Tim Data dan Informasi BMKG Kepulauan Babel Slamet Supriyadi mengatakan masyarakat perlu mengurangi penggunaan air secara berlebihan selama musim kemarau berlangsung.

"Kami mengimbau masyarakat lebih hemat dalam menggunakan air selama musim kemarau tahun ini," kata Slamet di Pangkalpinang, Selasa, 11 Agustus 2026.

Berdasarkan analisis BMKG Kepulauan Bangka Belitung pada Agustus 2026, sejumlah wilayah telah memasuki level siaga kekeringan. Daerah yang menjadi perhatian terutama Kabupaten Bangka Tengah, Bangka Selatan, dan Belitung seiring dengan semakin rendahnya intensitas hujan.

"Penetapan status siaga ini untuk meningkatkan kewaspadaan pemerintah daerah dan masyarakat dalam mengantisipasi kekeringan dampak musim kemarau kering tahun ini," katanya.

Baca juga: Kementerian PU Tangani 294 Titik Kekeringan Akibat El Nino

Slamet memperkirakan puncak musim kemarau terjadi pada September 2026. Kondisi tersebut diperkirakan berlangsung hingga awal 2027, sekitar Januari sampai Februari, yang dipengaruhi fenomena El Nino di wilayah tersebut.

Untuk mengantisipasi kekurangan air, masyarakat diminta menggunakan air secara bijak dan menyiapkan langkah alternatif apabila persediaan di rumah mulai menipis.

"Kami mengimbau masyarakat untuk bijak menggunakan air dan melakukan alternatif-alternatif lainnya jika tidak ada lagi ketersediaan air di rumahnya. Misalnya, meminta bantuan air bersih ke BPBD dan menyediakan wadah penampungan air jika hujan turun," ujarnya.

Selain persoalan ketersediaan air, BMKG mengingatkan masyarakat agar tidak menggunakan metode pembakaran ketika membuka lahan baru. Kondisi kemarau dapat membuat api lebih mudah menyebar dan sulit dikendalikan.

Baca Juga: BMKG dan Kemenhut Perkuat Pencegahan Karhutla dengan Sensor Kekeringan

"Selama musim kemarau yang disertai angin kencang ini, api akan sangat sulit dikendalikan di semak belukar pada lahan-lahan kosong maupun hutan sudah banyak yang mengering. Oleh karena itu, diimbau masyarakat tidak melakukan pembakaran di lahan-lahan tersebut," ujarnya.

(Sumber: Antara)

HIGHLIGHT

x|close