Wamentrans: Model Pembangunan China Jadi Inspirasi Pengembangan Kawasan Transmigrasi RI

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 11 Agu 2026, 13:58
thumbnail-author
April
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Wamen Transmigrasi Viva Yoga Wamen Transmigrasi Viva Yoga (Kementerian Transmigrasi )

Ntvnews.id, Jakarta - Wakil Menteri Transmigrasi (Wamentrans) Viva Yoga Mauladi menyatakan bahwa pengalaman Republik Rakyat China dalam pembangunan sumber daya manusia (SDM), wilayah, ekonomi, dan industri dapat menjadi referensi strategis bagi pengembangan kawasan transmigrasi di Indonesia.

Pernyataan tersebut disampaikan Viva Yoga dalam acara "Seminar on China's Development Model" yang berlangsung pada Selasa, 11 Agustus 2026. Seminar ini merupakan hasil kerja sama Kementerian Transmigrasi dengan Kedutaan Besar China di Indonesia serta Peking University melalui Institute of South-South Cooperation and Development (ISSCAD).

Viva menjelaskan bahwa pihaknya tidak bermaksud mengadopsi model pembangunan China secara utuh atau kaku. Sebaliknya, pengalaman negara tersebut akan dipelajari untuk memperkaya pilihan model yang nantinya akan disesuaikan dengan karakteristik unik Indonesia.

"Kita ingin agar model-model pembangunan di China bisa memberikan inspirasi kepada kami sebagai perbandingan yang disesuaikan dengan kondisi ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat di kawasan transmigrasi," ujar Viva Yoga.

Ia menekankan beberapa aspek krusial yang patut dipelajari, antara lain strategi pembangunan SDM dan kewilayahan, penciptaan model ekonomi yang selaras dengan potensi produk lokal, hingga akselerasi pembangunan industri di kawasan tersebut. Namun, ia mengingatkan bahwa penerapan setiap model harus melalui penyesuaian mengingat perbedaan tantangan pembangunan di tiap negara.

Lebih lanjut, Viva menegaskan bahwa paradigma transmigrasi saat ini telah bergeser. Transmigrasi bukan lagi sekadar program perpindahan penduduk dari satu wilayah ke wilayah lain, melainkan sebuah agenda pembangunan komprehensif yang mencakup pemberdayaan ekonomi dan pengembangan masyarakat.

"Transmigrasi kini menjadi bagian dari agenda pembangunan yang lebih luas, mencakup pengembangan wilayah dan peningkatan kualitas sumber daya manusia," tegasnya.

Sebagai langkah konkret untuk membangun kawasan berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek), Kementerian Transmigrasi melibatkan kalangan akademisi melalui Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026.

Pada tahun ini, kementerian menerjunkan sebanyak 1.476 peserta TEP ke 53 kawasan transmigrasi di seluruh Indonesia. Tim ini bertugas melakukan riset, kajian mendalam, serta pendampingan langsung kepada masyarakat.

Komposisi tim ahli ini terdiri dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari 39 profesor, 10 peneliti pascadoktoral, 158 doktor, 49 magister, 214 mahasiswa magister terapan, hingga 937 sarjana dari berbagai perguruan tinggi ternama.

“Kita ingin membangun kawasan transmigrasi dengan ilmu pengetahuan. Keterlibatan perguruan tinggi diharapkan memperkaya perspektif akademis sehingga arah pengembangan kawasan lebih terarah, konsisten, dan berkesinambungan,” kata Viva.

HIGHLIGHT

x|close