Trump Diam-diam Tinggalkan Turki dengan Pesawat Militer, Ada Apa?

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 12 Agu 2026, 04:20
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
ARSIP - Presiden AS Donald Trump (tengah) menghadiri upacara penyerahan bersama Presiden FIFA Gianni Infantino (kiri) dan Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum (kanan) setelah Spanyol memenangkan pertandingan final Piala Dunia FIFA 2026 antara Spanyol d ARSIP - Presiden AS Donald Trump (tengah) menghadiri upacara penyerahan bersama Presiden FIFA Gianni Infantino (kiri) dan Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum (kanan) setelah Spanyol memenangkan pertandingan final Piala Dunia FIFA 2026 antara Spanyol d (Antara)

Ntvnews.id, Ankara - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dilaporkan meninggalkan Turki secara diam-diam menggunakan penerbangan rahasia setelah menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) NATO pada Juli lalu. Bahkan, para wartawan yang tergabung dalam rombongan kepresidenan disebut tidak mengetahui bahwa Trump tidak berada di pesawat yang sama dengan mereka.

Keputusan tersebut diambil ketika muncul dugaan ancaman pembunuhan terhadap Trump dari Iran, di tengah konflik antara Washington dan Teheran yang masih berlangsung.

Dilansir dari Anadolu Agency, Rabu, 12 Agustus 2026, dengan mengutip laporan The Washington Post yang bersumber dari seorang pejabat AS serta beberapa pihak yang mengetahui operasi penerbangan rahasia tersebut.

Sebelumnya, Trump terbang menuju Ankara menggunakan pesawat jet yang merupakan hadiah dari Qatar dan telah dimodifikasi untuk menjadi Air Force One baru. Namun, saat meninggalkan Turki, ia justru menggunakan Air Force One versi lama, yang kemudian menimbulkan tanda tanya.

The Washington Post mengungkapkan bahwa Trump sempat terlihat menaiki pesawat kepresidenan berukuran jumbo, Air Force One versi lama, di Ankara. Momen tersebut bahkan terekam kamera televisi.

Namun, beberapa menit setelah itu, Trump diam-diam dipindahkan ke pesawat militer C-32A milik Angkatan Udara AS. Pesawat yang ukurannya lebih kecil tersebut digunakan untuk membawa Trump dengan bantuan sebuah truk katering bandara sebagai bagian dari operasi pengelabuan.

Menurut laporan The Washington Post, manuver tersebut sengaja dilakukan agar keberadaan Trump tidak diketahui masyarakat, wartawan, bahkan beberapa staf Gedung Putih. Pada saat bersamaan, pihak Gedung Putih secara terbuka menyatakan bahwa Trump berada di dalam Air Force One.

Baca Juga: AS Cabut Lebih dari 175.000 Visa Sejak Trump Kembali Menjabat

The Washington Post menyebut langkah pengamanan tersebut berkaitan dengan adanya ancaman yang dinilai kredibel terhadap keselamatan Trump. Penerbangan rahasia itu dilakukan sehari setelah militer AS kembali melancarkan serangan udara ke Iran setelah upaya perundingan kedua negara mengalami kegagalan.

Trump sebelumnya berada di Ankara untuk menghadiri KTT NATO pada 7-8 Juli bersama sejumlah pemimpin dunia lainnya. Pada waktu yang sama, ancaman dari Teheran muncul dan mendorong peningkatan pengamanan terhadap Presiden AS.

Para wartawan yang mengikuti perjalanan Trump saat itu mengira mereka meninggalkan Turki bersama Presiden menggunakan Air Force One versi lama. Kenyataannya, pesawat tersebut hanya dijadikan sebagai pengalih perhatian.

Tidak hanya para wartawan, sejumlah pegawai Gedung Putih juga disebut percaya bahwa Trump berada di dalam pesawat tersebut.

Pesawat militer C-32A yang membawa Trump kemudian terbang menuju Inggris untuk mengunjungi sebuah pangkalan militer dan tiba sekitar pukul 22.20 waktu setempat. Beberapa menit setelahnya, Air Force One yang membawa rombongan wartawan juga mendarat di lokasi yang sama.

Arsip foto - Presiden Amerika Serikat Donald Trump. <b>(Antara)</b> Arsip foto - Presiden Amerika Serikat Donald Trump. (Antara)

Hingga kini belum diketahui secara jelas bagaimana Trump kemudian dipindahkan kembali dari C-32A ke Air Force One. Wartawan yang mengikuti perjalanan kepresidenan melaporkan bahwa Trump terlihat turun melalui tangga Air Force One sekitar pukul 22.56 waktu Inggris.

Gedung Putih kemudian memberikan tanggapan mengenai terungkapnya operasi penerbangan tersebut. Direktur Komunikasi Gedung Putih Steven Cheung membela keputusan pengamanan yang diterapkan untuk melindungi Trump.

"Sebagaimana disampaikan Presiden baru-baru ini, ada banyak musuh Amerika yang mengincar dirinya, dan kami mengerahkan segala sarana yang tersedia untuk menghadapi ancaman-ancaman tersebut," kata Cheung dalam pernyataannya.

Sementara itu, hingga laporan ini diterbitkan, Pentagon belum memberikan keterangan resmi terkait operasi penerbangan rahasia tersebut.

TERKINI

Ini Syarat-syarat Iran ke AS untuk Buka Kembali Selat Hormuz

Luar Negeri Rabu, 12 Agu 2026 | 05:20 WIB

Ganjil Genap Jakarta Ditiadakan pada 17 Agustus

Nasional Rabu, 12 Agu 2026 | 05:00 WIB

Vietnam Bangun Fregat Antikapal Selam Terbesar

Luar Negeri Rabu, 12 Agu 2026 | 05:00 WIB

Ribuan Warga Gaza Masih Menanti Evakuasi Medis

Luar Negeri Rabu, 12 Agu 2026 | 04:00 WIB

Kebakaran Hantam Pabrik di Duren Sawit

Metro Rabu, 12 Agu 2026 | 03:59 WIB

Suriah Jatuhkan Hukuman Mati ke Eks Presiden Bashar Al Assad

Luar Negeri Rabu, 12 Agu 2026 | 03:51 WIB
Load More

HIGHLIGHT

x|close