Ntvnews.id, Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan fenomena El Nino dengan intensitas kuat membuat kondisi di Sumatera Selatan (Sumsel) semakin kering. Situasi tersebut diperkirakan masih berlangsung hingga periode puncak musim kemarau pada Agustus-September 2026.
Dilansir dari Antara, Rabu, 12 Agustus 2026, Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumsel Wandayantolis mengatakan kondisi iklim di wilayah tersebut saat ini turut dipengaruhi El Nino yang berpeluang meningkat hingga kategori sangat kuat.
Selain El Nino, fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) juga mulai menunjukkan penguatan. Menurut Wandayantolis, kondisi tersebut ikut memengaruhi cuaca di Sumsel karena berpotensi mengurangi suplai curah hujan ke kawasan Sumatera.
Dampaknya, kondisi kering semakin terasa sejak Juni, berlanjut pada Juli, hingga memasuki awal Agustus 2026.
Wandayantolis memperkirakan puncak musim kemarau di Sumsel akan terjadi pada Agustus hingga September. Periode tersebut perlu diwaspadai karena kondisi yang lebih kering dapat meningkatkan potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Baca Juga: Antisipasi Kemarau akibat El Nino, BMKG Lakukan Modifikasi Cuaca di Wilayah Vital
BMKG juga memprediksi penguatan El Nino dapat menyebabkan awal musim hujan di Sumsel mengalami keterlambatan. Dalam kondisi normal, hujan biasanya mulai memasuki wilayah tersebut pada pertengahan Oktober.
Namun, apabila El Nino mencapai intensitas sangat kuat, musim hujan berpotensi baru dimulai pada akhir Oktober bahkan hingga awal November.
"Harusnya pertengahan Oktober kita sudah masuk awal musim hujan. Namun dengan El Nino yang intensitasnya sangat kuat, ada potensi awal musim hujan mundur ke akhir Oktober atau bahkan awal November," kata Wandayantolis.
Karena itu, BMKG meminta masyarakat serta seluruh pemangku kepentingan meningkatkan kewaspadaan selama Agustus dan September. Perhatian khusus diperlukan untuk mengantisipasi dampak kondisi cuaca yang semakin kering, termasuk potensi karhutla.
Ilustrasi - Petugas memantau perkembangan analisis anomali suhu muka laut melalui layar monitor di Kantor Pusat Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Jakarta, Kamis (30/7/2026). BMKG memprediksi fenomena El Nino akan bertahan hingga a (Antara)