Bocah Tolak Pakai Sabuk Pengaman, Pesawat Gagal Terbang

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 13 Agu 2026, 08:20
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
ilustrasi pesawat. ilustrasi pesawat. (Pixabay)

Ntvnews.id, Ottawa - Penerbangan Porter Airlines di Kanada harus kembali ke terminal setelah seorang anak menolak mengenakan sabuk pengaman. Akibat insiden tersebut, pesawat yang dijadwalkan terbang dari Victoria menuju Toronto tidak dapat diberangkatkan sesuai jadwal.

Dilansir dari BBC, Kamis, 13 Agustus 2026, Peristiwa itu terjadi pada 6 Agustus 2026. Porter Airlines menjelaskan bahwa pesawat sebenarnya sudah bersiap melakukan lepas landas ketika seorang anak berdiri dari kursinya dan menolak menggunakan sabuk pengaman.

Orang tua yang mendampingi anak tersebut bersama awak kabin telah berusaha menangani situasi tersebut. Namun, upaya itu tidak membuahkan hasil.

"Upaya orang tua yang mendampingi dan awak kabin untuk menangani situasi ini tidak berhasil," keterangan Porter Airlines.

Karena kondisi tersebut dinilai dapat membahayakan keselamatan penerbangan, kru akhirnya memutuskan untuk membawa pesawat kembali ke terminal. Dua penumpang terkait kemudian diminta turun dari pesawat.

"Pesawat tidak dapat lepas landas dalam kondisi yang tidak aman ini, sehingga awak memutuskan untuk kembali ke terminal dan meminta kedua penumpang tersebut turun," keterangan ditambahkan.

Baca Juga: Trump Diam-diam Tinggalkan Turki dengan Pesawat Militer, Ada Apa?

Keputusan tersebut membuat penerbangan tertunda hingga landasan pacu ditutup setelah tengah malam. Para penumpang yang berada di dalam pesawat kemudian harus menjalani penjadwalan ulang dan baru dapat melanjutkan perjalanan pada hari berikutnya.

Insiden ini turut menimbulkan perdebatan di kalangan publik mengenai cara yang seharusnya dilakukan orang tua dan maskapai ketika menghadapi anak yang kesulitan mengikuti prosedur keselamatan penerbangan.

Sebagian pengguna media sosial menilai orang tua semestinya dapat bertindak lebih tegas. Namun, ada pula yang berpendapat bahwa anak tersebut mungkin sedang merasa takut, cemas, atau tidak nyaman selama berada di dalam pesawat.

Pakar keselamatan penerbangan anak, Lia Tuso, menilai langkah yang diambil awak Porter Airlines sudah benar. Ia menegaskan bahwa kewajiban menggunakan sabuk pengaman bukan hanya prosedur formal, melainkan bagian penting dari upaya menjaga keselamatan penumpang.

"Anak-anak yang tidak terikat sabuk pengaman dapat menjadi proyektil," kata Tuso.

Menurutnya, tubuh anak yang tidak terikat dengan seat belt berpotensi terlempar seperti barang bawaan ketika pesawat mengalami turbulensi. Risiko tersebut menjadi semakin penting untuk diperhatikan saat pesawat melakukan lepas landas maupun pendaratan.

Namun, salah satu penumpang dalam penerbangan tersebut, Aryeh Kozuch, memiliki pandangan berbeda mengenai kondisi anak itu. Ia mengatakan bocah tersebut tidak tampak sedang membuat keributan, tetapi justru terlihat ketakutan.

"Mereka terus bersembunyi di bawah kursi. Ketika dipaksa untuk diikat, mereka justru meluncur keluar dari bawah kursi," kata dia.

Insiden serupa sebelumnya juga pernah terjadi dalam penerbangan di Amerika Utara. Pada 2018, seorang ayah dan anak perempuannya dikeluarkan dari penerbangan Southwest Airlines setelah terlibat perselisihan dengan awak kabin.

Sementara itu, pada 2012, JetBlue juga pernah menurunkan seorang penumpang dari pesawat karena dianggap terus-menerus tidak mematuhi instruksi awak kabin. Pihak maskapai saat itu menyatakan keputusan tersebut dibuat oleh kapten dengan mempertimbangkan keselamatan seluruh penumpang dan kru.

Kasus di penerbangan Porter Airlines ini kembali menunjukkan bahwa kepatuhan terhadap prosedur keselamatan menjadi hal utama dalam penerbangan. Bahkan ketika masalah melibatkan anak-anak, awak kabin tetap harus memastikan seluruh penumpang berada dalam kondisi aman sebelum pesawat diperbolehkan mengudara.

HIGHLIGHT

x|close