WHO: Wabah Ebola di Kongo Jadi yang Terbesar Kedua Dalam Sejarah

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 13 Agu 2026, 16:44
thumbnail-author
Naila Fadhilah
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Arsip foto - Petugas medis mengenakan pakaian dan perlengkapan pelindung lengkap sebelum memeriksa pasien di Pusat Perawatan Ebola yang dikelola oleh Doctors Without Borders (MSF) di distrik Munigi, Goma, Republik Demokratik Kongo, pada 2 Juni 2026. Wabah yang secara resmi diumumkan pada 15 Mei ini telah mencatat lebih dari 1.000 kasus dan menyebabkan 246 kematian di seluruh negeri Arsip foto - Petugas medis mengenakan pakaian dan perlengkapan pelindung lengkap sebelum memeriksa pasien di Pusat Perawatan Ebola yang dikelola oleh Doctors Without Borders (MSF) di distrik Munigi, Goma, Republik Demokratik Kongo, pada 2 Juni 2026. Wabah yang secara resmi diumumkan pada 15 Mei ini telah mencatat lebih dari 1.000 kasus dan menyebabkan 246 kematian di seluruh negeri (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memberikan peringatan serius mengenai eskalasi wabah Ebola di Republik Demokratik (RD) Kongo. Pada Rabu (12/8), WHO menyatakan bahwa krisis kesehatan ini resmi menjadi gelombang wabah Ebola terbesar kedua sepanjang sejarah pencatatan, seiring melonjaknya jumlah kasus terkonfirmasi hingga 4.449 dengan angka kematian mencapai 2.061 jiwa.

Laju penularan yang ter tergolong masif membuat otoritas kesehatan global meningkatkan kewaspadaan penuh.

"Ini sudah menjadi wabah Ebola terbesar kedua sepanjang sejarah, dan penyebarannya lebih cepat daripada wabah Ebola mana pun sebelumnya. Dengan laju saat ini, wabah ini diperkirakan akan melampaui wabah Ebola di Afrika Barat pada 2014 hingga 2016," kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam taklimat pers di Jenewa.

Berdasarkan pemutakhiran data publikasi otoritas kesehatan RD Kongo pada Rabu, 12 Agustus 2026, case fatality rate atau tingkat kematian kasus secara keseluruhan berada pada angka 46,3 persen. Saat ini, sebanyak 716 pasien berada dalam masa perawatan atau isolasi di rumah sakit, sedangkan 886 orang lainnya telah dinyatakan pulih.

Tedros mengungkapkan tantangan utama penanganan berakar dari keterlambatan deteksi awal, yang membuat rantai penularan sempat meluas tanpa terawasi.

"Wabah tersebut memulai penyebaran jauh lebih awal. Wabah ini masih jauh di depan kami, dan kami sedang berupaya untuk mengejarnya," ujar Dirjen WHO tersebut.

Pemetaan analisis WHO mencatat sekitar 90 persen kasus terkonfirmasi serta 80 persen angka kematian terkonsentrasi di Provinsi Ituri, wilayah yang hingga kini masih mengalami penularan berkelanjutan.

Faktor pemicu tingginya angka mortalitas turut dipengaruhi oleh banyaknya fatalitas yang terjadi di lingkungan masyarakat umum ketimbang di fasilitas pelayanan kesehatan. Di samping itu, penemuan kasus-kasus baru di luar daftar pelacakan kontak menandakan masih adanya rantai penyebaran yang belum teridentifikasi.

"Selama kita belum mengetahui dan memutus setiap rantai penularan, kita tidak akan bisa menghentikan wabah ini," katanya.

Wabah yang dipicu oleh mutasi virus Ebola Bundibugyo ini pertama kali diumumkan secara resmi oleh pemerintah RD Kongo pada 15 Mei.

Direktur Eksekutif Program Darurat Kesehatan WHO Chikwe Ihekweazu membeberkan indikasi hasil investigasi, di mana virus diperkirakan telah bersirkulasi selama dua hingga tiga bulan sebelum terdeteksi secara resmi, meski kepastian titik awal penularan masih terus diselidiki.

(Sumber: Antara)
 

HIGHLIGHT

x|close