Ntvnews.id, Jakarta -Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth secara terbuka mendesak negara-negara Amerika Latin yang tergabung dalam Koalisi Anti-Kartel Amerika (Americas Counter-Cartel Coalition/ACCC) untuk memutus hubungan dan keluar dari Mahkamah Pidana Internasional (ICC). Langkah tajam ini disuarakan dengan tuduhan bahwa lembaga peradilan global tersebut telah merampas serta melemahkan kedaulatan hukum nasional tiap negara.
“Saya sangat mendorong setiap anggota ACCC untuk keluar dari ICC dan menolak upaya mereka merampas kedaulatan pemerintah dan pengadilan Anda,” tegas Hegseth dalam pidatonya di Panama, Rabu (12/8).
Mantan veteran yang memelopori inisiatif "budaya prajurit" ini berargumen bahwa kewenangan penuh untuk mengerahkan pasukan serta melindungi warga negara wajib berada di bawah konstitusi masing-masing negara.
“Negara-negara kita mempertahankan kedaulatan dan kemampuan untuk mengerahkan prajurit kita sendiri untuk membela diri,” kata Hegseth. “Kami hanya bertanggung jawab kepada warga negara dan konstitusi kami sendiri, bukan birokrat internasional yang tidak dipilih.”
Hegseth melontarkan tuduhan bahwa ICC berupaya memaksakan yurisdiksinya atas personel militer serta operasi militer yang dijalankan AS dan negara-negara mitranya. Ia melabeli langkah peradilan dunia tersebut sebagai bentuk perebutan kekuasaan yang melanggar hukum.
Menurut pemikirannya baik saat menjabat maupun pada masa sebelumnya berbagai aturan internasional yang dinilai tidak perlu hanya akan membelenggu tentara AS bertempur dengan "satu tangan terikat di belakang". Bagi Hegseth, tolok ukur utama dalam militer harus berorientasi pada "daya mematikan". Latar belakang ini pula yang membuatnya mendorong Presiden AS Donald Trump untuk turun tangan membela para personel militer yang terancam tuduhan kejahatan perang.
Di tengah sorotan atas ICC, Hegseth turut mengumumkan amunisi baru dalam koalisi regional tersebut. Kolombia dipastikan bergabung menjadi anggota ke-19 ACCC. Presiden anyar Kolombia, Abelardo de la Espriella yang dijuluki Trump sebagai 'El Tigre' secara resmi telah meminta keterlibatan militer Washington untuk menumpas terorisme narkoba di wilayahnya.
Baca juga: AS Luncurkan Kampanye untuk Batasi Operasional ICC, Siapkan Sanksi hingga Pembatasan Visa
“Saya juga bangga mengumumkan bahwa Kolombia akan bergabung dengan ACCC sebagai anggota ke-19. Dan melalui presiden yang baru dilantik, yang presiden kami suka menyebutnya, Presiden ‘El Tigre’, Kolombia telah meminta Departemen Perang untuk bergabung dalam perjuangan Kolombia melawan terorisme narkoba, dengan mengizinkan operasi militer bersama untuk menghancurkan jaringan teroris dan teror,” jelas Hegseth.
Retorika keras Hegseth menandai kian memuncaknya gelombang tekanan diplomatik Washington terhadap peradilan berbasis di Den Haag tersebut. Presiden Donald Trump menyampaikan bahwa manuver Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio untuk menundukkan ICC ditujukan demi membentengi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu serta pihak-pihak lain yang kini berada dalam radar pemeriksaan pengadilan tersebut.
Sikap konfrontatif itu makin mengkristal dalam pertemuan di Camp David bulan lalu. Kala itu, Rubio menyebut ICC telah kehilangan legitimasi karena mengeklaim yurisdiksi atas negara-negara yang bukan anggotanya. Trump lantas menegaskan kembali bahwa langkah diplomatik Rubio memang dirancang guna membela Netanyahu dan jajarannya.
Baca juga: Alumni Beasiswa ICCR Dorong Penguatan Kerja Sama Pendidikan dan Teknologi Indonesia–India
Sebagai negara non-anggota, AS memiliki rekam jejak panjang menolak yurisdiksi ICC. Gesekan geopolitik ini memuncak setelah ICC menerbitkan surat perintah penangkapan pada November 2024 terhadap Benjamin Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant atas dugaan kejahatan perang di Jalur Gaza.
(Sumber: Antara)
Gedung Mahkamah Pidana Internasional (ICC) di Den Haag, Belanda. (Antara)