Ntvnews.id, Kupang - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) melaporkan sebanyak 19.297 rumah mengalami kerusakan akibat gempa yang mengguncang wilayah Flores pada Sabtu, 15 Agustus 2026.
Data tersebut dihimpun BPBD hingga Selasa, 18 Agustus 2026, pukul 09.00 WITA. Kerusakan tersebar di delapan kabupaten, yakni Manggarai, Manggarai Barat, Manggarai Timur, Ende, Sikka, Ngada, Nagekeo, dan Sumba Timur.
Kepala Pelaksana BPBD Provinsi NTT Mahadin Sibarani mengatakan angka tersebut masih berupa data sementara dan dapat mengalami perubahan setelah proses verifikasi selesai.
“Data kerusakan rumah ini merupakan hasil pendataan sementara dan masih dapat berubah sesuai hasil verifikasi di lapangan,” kata Mahadin.
Berdasarkan tingkat kerusakannya, BPBD NTT mencatat 6.463 rumah mengalami rusak berat, 2.481 rumah rusak sedang, dan 12.006 rumah rusak ringan.
Manggarai Timur menjadi daerah dengan jumlah rumah terdampak paling banyak, yaitu 7.480 unit. Dalam data BPBD, angka tersebut tercatat sebagai total kerusakan rumah. Namun, rincian berdasarkan kategori rusak berat, sedang, dan ringan untuk wilayah tersebut belum tersedia secara terpisah.
Di Manggarai Barat, jumlah rumah terdampak mencapai 3.493 unit. Dari jumlah itu, sebanyak 1.410 rumah mengalami rusak berat, 635 rusak sedang, dan 1.448 rusak ringan.
Kabupaten Manggarai mencatat 1.983 rumah terdampak. Rinciannya terdiri atas 1.597 rumah rusak berat, 263 rusak sedang, dan 123 rusak ringan.
Baca Juga: Pertamina Patra Niaga Pastikan Penyaluran BBM dan LPG Tetap Berjalan Pascagempa Flores
Sementara itu, Nagekeo mencatat 2.862 rumah mengalami kerusakan. Sebanyak 1.373 rumah masuk kategori rusak berat, 260 rusak sedang, dan 1.229 rusak ringan.
Di Ngada, total rumah terdampak mencapai 2.296 unit. Dari angka tersebut, 698 rumah mengalami rusak berat, 465 rusak sedang, dan 1.133 rusak ringan.
Kabupaten Ende mencatat 951 rumah mengalami kerusakan, dengan rincian 285 rusak berat, 149 rusak sedang, dan 537 rusak ringan.
Kemudian, Sikka melaporkan 227 rumah terdampak. Sebanyak 158 rumah rusak berat, 18 rusak sedang, dan 51 rusak ringan.
Adapun di Sumba Timur, BPBD mencatat lima rumah mengalami kerusakan. Seluruh rumah tersebut masuk kategori rusak ringan.
Mahadin menjelaskan pendataan kerusakan menjadi salah satu bagian penting dalam penanganan pascabencana. Data tersebut diperlukan untuk menentukan kebutuhan bantuan, perbaikan rumah warga, serta pemulihan fasilitas pelayanan publik.
BPBD NTT bersama pemerintah kabupaten terus memperbarui data kerusakan. Langkah tersebut dilakukan agar bantuan dan penanganan masyarakat terdampak dapat diberikan sesuai kebutuhan di lapangan.
“Yang paling penting adalah memastikan kebutuhan masyarakat terdampak terdata dengan baik sehingga proses penanganan dan pemulihan dapat dilakukan sesuai kondisi di lapangan,” ujar Mahadin.
(Sumber: Antara)
Foto udara bangunan yang rusak akibat gempa di kawasan Reo, Kabupaten Manggarai, NTT. (Antara)