Ntvnews.id, Tel Aviv - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan utusan khusus Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, Jared Kushner, dilaporkan memiliki pandangan yang berseberangan mengenai kelanjutan operasi pembunuhan terarah di Jalur Gaza.
Netanyahu disebut ingin meneruskan operasi tersebut, sedangkan Kushner menyatakan keberatan terhadap rencana itu.
Saluran televisi Israel Channel 15 melaporkan bahwa tidak tercapai kesepakatan antara Netanyahu dan Kushner terkait keberlanjutan operasi tersebut. Informasi itu diperoleh dari sumber yang mengetahui pembicaraan keduanya.
"Netanyahu menegaskan bahwa dia akan melanjutkan pembunuhan tersebut, sementara Kushner menyatakan penolakannya," kata sumber tersebut, dikutip dari Anadolu, Rabu, 19 Agustus 2026.
Netanyahu bertemu Kushner dan Perwakilan Tinggi Board of Peace (BoP) untuk Gaza, Nikolay Mladenov, di Israel pada Senin. Sebelumnya, Kushner datang dari Mesir setelah melakukan pertemuan dengan Presiden Abdel Fattah el-Sisi serta sejumlah pejabat Hamas, termasuk Kepala Biro Politik Hamas Khalil al-Hayya.
Perbedaan pandangan tersebut muncul ketika pembahasan mengenai implementasi kesepakatan gencatan senjata di Gaza masih berlangsung. Netanyahu menuntut Hamas menyerahkan seluruh persenjataannya sebelum Israel memulai proses penarikan pasukan dari wilayah tersebut.
Di sisi lain, Hamas menyatakan kesediaannya untuk menyerahkan senjata dengan syarat penarikan pasukan Israel dilakukan secara bertahap dan terstruktur.
Baca Juga: Pramono Buka Pameran SBY Art Community 2026 di TIM
Sikap Netanyahu juga tidak sepenuhnya sejalan dengan peta jalan yang dikeluarkan BoP pada 31 Juli. Dalam rancangan tersebut, pelucutan senjata Hamas dan penarikan pasukan Israel direncanakan berlangsung secara bertahap serta dilakukan secara bersamaan.
Para mediator hingga kini masih berusaha mendorong implementasi kesepakatan gencatan senjata yang mulai diberlakukan pada 10 Oktober 2025.
Berdasarkan data terbaru Kementerian Kesehatan Gaza, pelanggaran terhadap gencatan senjata yang dilakukan Israel telah menyebabkan 1.262 warga Palestina meninggal dunia dan 4.168 orang lainnya mengalami luka-luka.
Israel memulai operasi militernya di Jalur Gaza sejak 8 Oktober 2023. Berdasarkan data dalam sumber tersebut, lebih dari 73.000 warga Palestina telah meninggal dunia dan lebih dari 174.000 lainnya terluka, dengan sebagian besar korban merupakan perempuan dan anak-anak.
Serangkaian serangan dan konflik tersebut juga mengakibatkan kerusakan pada sekitar 90 persen infrastruktur di Jalur Gaza.
Arsip - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berbicara di markas militer Kirya di Tel Aviv, Israel, 1 Maret 2026. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan pada hari Minggu bahwa angkatan udara Israel menyerang Teheran dengan (Antara)