Kapal Perang AS Mati Listrik Empat Hari di Laut China Selatan

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 19 Agu 2026, 04:05
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Ilustrasi - Kapal perang berlayar di Laut Kaspia. Ilustrasi - Kapal perang berlayar di Laut Kaspia. (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Sebuah kapal perusak milik Angkatan Laut Amerika Serikat (AS), USS Benfold, dilaporkan mengalami kerusakan mesin yang menyebabkan kapal tersebut kehilangan listrik selama empat hari ketika beroperasi di Laut China Selatan (LCS).

Armada ke-7 AS menyebut gangguan itu terjadi saat USS Benfold menjalankan operasi rutin di kawasan Indo-Pasifik pada 24 Juli lalu. Akibat insiden tersebut, kapal kehilangan akses terhadap sejumlah fasilitas penting, termasuk toilet, dapur, dan sistem penyejuk udara.

"(Ada) kerusakan teknis yang melibatkan generatornya," ujar juru bicara Armada ke-7, Komandan Angkatan Laut Matthew Comer, seperti dikutip CNN International, Rabu, 19 Agustus 2026.

Comer menjelaskan bahwa gangguan tersebut juga membuat kapal berbobot sekitar 10.000 ton itu kehilangan kemampuan untuk bermanuver secara mandiri. Meski mengalami kondisi tersebut selama beberapa hari, tidak ada awak kapal yang dilaporkan mengalami luka.

"Tidak ada awak yang terluka, dan mereka menunjukkan ketahanan, ketabahan, profesionalisme, dan keteguhan tak tergoyahkan dalam respons mereka," kata Comer.

USNI News melaporkan penyebab pasti gangguan listrik pada USS Benfold masih dalam penyelidikan. Kapal tersebut merupakan kapal perusak rudal berpemandu kelas Arleigh Burke.

Insiden Benfold menjadi persoalan terbaru yang menimpa kapal perang AS dan mendapat perhatian publik. Sebelumnya, para pelaut dan marinir yang bertugas di USS Abraham Lincoln dilaporkan menghadapi tekanan berat akibat keterlibatan dalam konflik berkepanjangan di Timur Tengah.

USS Benfold juga kerap menjadi bagian dari kelompok tempur kapal induk USS George Washington, yang saat ini bergerak menuju Timur Tengah. Kapal induk tersebut dikerahkan untuk menggantikan USS Abraham Lincoln yang telah lebih dari 260 hari menjalankan misi guna mendukung perang melawan Iran.

Baca Juga: Sebut Melemahkan Kedaulatan, AS Desak Negara Amerika Latin Tinggalkan ICC

Sejumlah analis dan anggota parlemen dari Partai Demokrat menilai Angkatan Laut AS kini menghadapi tekanan besar akibat tingginya tuntutan operasi militer serta berbagai komitmen Washington di seluruh dunia.

Mantan kapten Angkatan Laut AS Carl Schuster, yang pernah mengalami kondisi serupa selama sekitar empat jam ketika berada di atas kapal perusak dekat Puerto Rico, menggambarkan tekanan yang dirasakan awak kapal saat terjadi pemadaman listrik.

"Situasinya pasti sangat menegangkan. Para perwira operasi khawatir tentang moral kru dan masalah operasional, para insinyur fokus pada bagaimana cara menyelesaikannya, dan navigator khawatir tentang arah hanyut mereka dan cuaca apa yang akan datang. Para kru khawatir tentang cuaca, makanan, dan apa yang akan terjadi selanjutnya. Komandan dan perwira eksekutif khawatir tentang semua itu dan kapan bantuan akan tiba," ujar Schuster.

"Saya jamin, empat jam di perairan tenggara Puerto Rico tidak sama stresnya dengan empat hari di Laut Cina Selatan," tambahnya.

Selama mengalami pemadaman listrik, USS Benfold tetap mendapatkan dukungan dari kapal lain. Menurut Comer, kapal penjelajah rudal berpemandu USS Robert Smalls memasok makanan matang bagi para awak Benfold.

Sejumlah kapal lain yang tergabung dalam Gugus Tempur Kapal Induk USS George Washington dan berbasis di Jepang juga memberikan bantuan selama empat hari. Setelah itu, Benfold ditarik menuju Teluk Subic, Filipina, untuk menjalani perbaikan.

Angkatan Laut AS menyatakan proses perbaikan kapal tersebut telah rampung pada 8 Agustus. USS Benfold kini kembali menjalankan tugas operasionalnya.

HIGHLIGHT

x|close