Ntvnews.id, Jakarta - Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang membayangi berbagai daerah di tengah fenomena El Nino kini mendapatkan perlawanan sengit dari pemerintah. Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mengandalkan sinergi erat bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk memperkuat barisan penanganan di lapangan, mulai dari pemadaman darat hingga pengerahan armada udara.
Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni menegaskan bahwa bahaya karhutla bukanlah isu yang bisa diselesaikan secara parsial.
“Karhutla merupakan persoalan serius yang memerlukan penanganan secara kolaboratif, terpadu, terukur, dan berkelanjutan. Saya mengapresiasi dan menyampaikan terima kasih kepada BNPB yang terus bersama-sama dengan Kementerian Kehutanan melakukan upaya penanggulangan karhutla di lapangan,” kata Raja Antoni dalam keterangannya di Jakarta, Rabu, 19 Agustus 2026.
Dukungan penuh BNPB diwujudkan lewat gelaran operasi darat dan udara, termasuk eksekusi water bombing serta Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Sejak Februari hingga Juli 2026, strategi penyemaian awan melalui OMC rutin digencarkan di deretan provinsi rawan bencana api dengan merangkul Kemenhut serta mitra swasta.
Khusus sektor mitigasi karhutla, tercatat ada 17 kali operasi yang berlangsung selama 169 hari dengan total pemanduan mencapai 291 sorti penerbangan.
“Kerja sama dengan BNPB ini sangat penting, karena penanganan karhutla membutuhkan respons yang cepat, baik melalui pencegahan maupun pemadaman. OMC menjadi salah satu bentuk kolaborasi yang kami lakukan untuk mengurangi risiko dan dampak kebakaran,” ujar Raja Antoni.
Kekuatan lini udara BNPB tak main-main. Sebanyak 40 unit armada diterjunkan, mencakup 10 pesawat patroli, 27 helikopter water bombing, dan tiga pesawat OMC. Dari jumlah tersebut, fokus utama diarahkan pada enam provinsi prioritas yang disiagakan dengan 36 armada udara terdiri atas 12 armada patroli, 21 helikopter water bombing, serta tiga pesawat OMC.
Ketangguhan kolaborasi lintas lembaga ini teruji nyata saat amukan si jago merah melanda kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Tim terpadu yang terdiri atas Manggala Agni, Balai TNBTS, BPBD, BNPB, masyarakat, TNI, dan Polri harus berjibaku menembus medan ekstrem.
Dua unit helikopter water bombing milik BNPB dikerahkan secara intensif untuk menjangkau titik api di area lereng terjal yang tak tersentuh jalur darat. Berkat kerja keras seluruh pihak, kebakaran yang membara sejak 3 hingga 16 Agustus 2026 tersebut akhirnya berhasil dipadamkan total.
Menhut menyampaikan rasa terima kasih mendalam atas kesolidan tim gabungan yang berhasil menyelamatkan kawasan konservasi tersebut.
“Sekali lagi, saya menyampaikan apresiasi kepada BNPB dan seluruh pihak yang bersama-sama bergerak menangani karhutla. Kolaborasi seperti ini akan terus kami perkuat agar setiap ancaman karhutla dapat direspons secepat mungkin dan dampaknya terhadap lingkungan serta masyarakat bisa ditekan,” ujar Menhut Raja Antoni.
Helikopter water bombing berupaya memadamkan kebakaran lahan di Petuk Katimpun, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Selasa (11/8/2026). (Antara)