Daftar Destinasi Wisata di NTT yang Masih Ditutup Pascagempa

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 19 Agu 2026, 13:31
thumbnail-author
Naila Fadhilah
Penulis
thumbnail-author
Siti Ruqoyah
Editor
Bagikan
Arsip - Desa Wae Rebo, Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Arsip - Desa Wae Rebo, Manggarai, Nusa Tenggara Timur. (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta -Dampak gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) menyisakan duka mendalam sekaligus kelumpuhan di beberapa sektor pariwisata. Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mengungkapkan bahwa sejumlah objek wisata unggulan terpaksa ditutup sementara sebagai bentuk antisipasi keselamatan wisatawan pascabencana.

Berdasarkan hasil verifikasi lapangan secara berkala oleh Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF), beberapa destinasi populer yang ditutup meliputi Kampung Adat Wae Rebo dan Ruteng Pu'u di Manggarai, serta Taman Nasional Kelimutu di Ende akibat material longsoran dinding kawah. Taman Wisata Alam Laut (TWAL) Gugus Pulau Teluk Maumere di Sikka juga terpaksa menghentikan operasinya, disusul beberapa titik wisata di Ngada dan Nagekeo yang masih terisolasi kendala jaringan komunikasi serta krisis listrik.

Sektor moda transportasi udara turut menyesuaikan kondisi darurat ini. Operasional penerbangan di Bandara Ende dibatalkan hingga 20 Agustus 2026. Di tempat terpisah, maskapai Wings Air menghentikan rute penerbangannya di Bandara Frans Sales Lega Ruteng hingga 22 Agustus 2026. Kendati demikian, penerbangan di Bandara Komodo Labuan Bajo, Bandara Frans Seda Maumere, serta Bandara Gewayantana Larantuka masih terus beroperasi walau ada beberapa penyesuaian jadwal.

Guna menghalau kesimpangsiuran informasi, BPOLBF merilis layanan hotline khusus pariwisata di nomor 0811-3879-4555 yang dapat diakses oleh wisatawan maupun pelaku usaha untuk memantau situasi secara real-time.

Di tengah penutupan sejumlah objek wisata kawasan dalam, urat nadi pariwisata di kawasan Labuan Bajo dan Taman Nasional Komodo (TNK) dilaporkan telah berangsur pulih. Akses pelayaran dari Pelabuhan Marina Labuan Bajo menuju TNK kembali diizinkan.

Aktivitas pelancongan di Pulau Padar, Loh Liang (Pulau Komodo), Loh Buaya (Pulau Rinca), dan Gili Lawa terpantau sibuk kembali. Angka kunjungan wisatawan ke destinasi-destinasi unggulan tersebut tercatat melonjak hingga menembus lebih dari 2.000 orang per hari pada 17 Agustus 2026. Destinasi pendukung seperti Pulau Kelor, Kampung Adat Todo di Manggarai, serta Gua Batu Cermin juga beroperasi dan ramai dikunjungi secara aman.

Dari segi fasilitas akomodasi di Manggarai Barat, deretan hotel berbintang seperti Ayana, Crowne Plaza, Sudamala, Ta'aktana Marriott, hingga Meruorah dilaporkan aman dari potensi bahaya struktur utama dan hanya menderita kerusakan ringan. Pasokan listrik serta akses internet di kawasan ini sudah tersambung kembali, tanpa adanya laporan tamu yang mempercepat kepulangan mereka.

Sebaliknya, kabar duka melanda Hotel Jayakarta yang mengalami kerusakan struktural berat sehingga terpaksa ditutup total. Pihak manajemen telah menuntaskan evakuasi seluruh tamu ke lokasi penampungan sementara yang aman.

Langkah pendataan skala besar atas kerusakan akomodasi, daya tarik wisata, dan sarana penunjang pariwisata di seluruh kabupaten terdampak masih terus dirampungkan oleh Kemenpar. Koordinasi erat juga dibangun bersama Kementerian Perhubungan serta AirNav guna mengawal skema Get Airport Ready for Disaster (GARD) demi pemulihan cepat bandara.

Pemerintah mengimbau setiap calon wisatawan yang berencana melawat ke Pulau Flores agar senantiasa mendahulukan faktor keselamatan, berpatokan pada sumber informasi resmi, dan menghubungi hotline BPOLBF sebelum memesan tiket. Imbauan ini diterbitkan mengingat gempa susulan masih terus membayangi beberapa titik di NTT.

Gempa bumi M 7,7 sebelumnya mengguncang wilayah NTT pada Sabtu (15/8) pukul 05.58 WITA atau 04.58 WIB. Berpusat pada kedalaman 15 km di radius 30 km dari Mbay, Nagekeo, gempa ini memicu krisis kemanusiaan yang masif.

Pemutakhiran data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTT per 18 Agustus 2026 pukul 09.00 WITA melaporkan sebanyak 69 korban jiwa meninggal dunia, 331 orang mengalami luka-luka, dan 34.689 warga mengungsi. Sejumlah 19.297 rumah warga menderita kerusakan fisik dengan rincian 6.463 unit rusak berat, 2.481 unit rusak sedang, dan 12.006 unit rusak ringan.

Situs pencatatan BMKG hingga 18 Agustus 2026 pukul 17.00 WIB mengonfirmasi adanya 2.403 kali aktivitas gempa susulan, di mana 24 peristiwa di antaranya berkekuatan di atas magnitudo 5,0. Angka korban meninggal dunia paling masif terkonsentrasi di Kabupaten Manggarai (26 orang), Manggarai Timur (25 orang), dan Nagekeo (8 orang). Kondisi ini mendorong penetapan status siaga bencana untuk wilayah Manggarai bagian utara, Ngada bagian utara, Ende, serta Flores Timur.

(Sumber: Antara)
 

HIGHLIGHT

x|close