Trump Siapkan Perang Ekonomi ke Iran, Negara Pendukung Diancam Sanksi

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 21 Agu 2026, 07:10
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Ilustrasi - Presiden AS Donald Trump menggelar konferensi pers di Kompleks Kepresidenan sebagai bagian dari KTT NATO ke-36 para Kepala Negara dan Pemerintahan di Ankara, Turkiye, pada 8 Juli 2026. ANTARA/Binnur Ege Gürün Koçak - Anadolu Agency /pri Ilustrasi - Presiden AS Donald Trump menggelar konferensi pers di Kompleks Kepresidenan sebagai bagian dari KTT NATO ke-36 para Kepala Negara dan Pemerintahan di Ankara, Turkiye, pada 8 Juli 2026. ANTARA/Binnur Ege Gürün Koçak - Anadolu Agency /pri (Antara)

Ntvnews.id, Washington D.C - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan langkah ekonomi baru sebagai bagian dari tekanan terhadap Iran. Ia memperingatkan negara-negara yang membantu Iran akan menghadapi sanksi ekonomi.

Trump menyatakan AS akan menjalankan kampanye besar yang secara khusus menargetkan perekonomian Iran. Menurutnya, kebijakan tersebut akan menjadi operasi ekonomi paling berat yang pernah dilakukan AS terhadap sebuah negara.

"Hari ini, saya mengumumkan operasi ekonomi paling menghancurkan yang pernah dilakukan terhadap negara mana pun! ini akan menjadi perang ekonomi dan isolasi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya," tulis Trump melalui Truth Social, seperti dilansir dari AFP, Jumat, 21 Agustus 2026.

Trump juga menegaskan bahwa negara yang memberikan dukungan kepada Iran melalui sektor keuangan, bisnis, bandara, maupun lembaga pemerintah akan menerima konsekuensi ekonomi yang berat.

"Saya juga mengumumkan bahwa negara mana pun yang membiarkan lembaga keuangan, bisnis, bandara, atau entitas pemerintahnya memberikan bantuan apa pun yang menjadi penopang hidup bagi Iran, akan menghadapi konsekuensi ekonomi yang sangat berat," ujarnya.

Meski demikian, Trump belum menjelaskan secara terperinci bentuk sanksi yang akan dikenakan terhadap negara-negara tersebut. Dalam pernyataannya, dia juga tidak menyebut secara spesifik negara lain selain Iran yang berpotensi menjadi sasaran.

Pernyataan Trump tersebut disampaikan beberapa hari setelah Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyebut Washington akan menerapkan isolasi ekonomi terhadap Iran dengan tingkat yang "belum pernah disaksikan dunia sebelumnya."

Baca Juga: Iran Sebut Economic D-Day Trump Pengalihan Isu Krisis AS

Di tengah meningkatnya tekanan ekonomi, situasi di kawasan juga masih diwarnai ketegangan. Meskipun serangan rudal belakangan mereda, Iran tetap melakukan blokade efektif terhadap pelayaran di Selat Hormuz setelah kesepakatan awal antara AS dan Iran untuk membuka kembali jalur strategis tersebut tidak terealisasi.

Dalam beberapa hari terakhir, AS dan Iran mengakui adanya pertukaran pesan. Namun, pada Selasa, 18 Agustus 2026. Trump menyatakan perundingan telah dibatalkan. Ia juga mengunggah pernyataan di media sosial yang mengisyaratkan bahwa Selat Hormuz dapat menjadi "Wilayah Baru AS."

Kebijakan terbaru Trump tersebut menandai semakin kerasnya tekanan Washington terhadap Teheran, tidak hanya melalui aspek militer, tetapi juga dengan menjadikan ekonomi sebagai instrumen utama untuk mengisolasi Iran.

HIGHLIGHT

x|close