Ntvnews.id, Bandung - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf mendorong penerapan standar pengelolaan pesantren untuk meningkatkan keamanan dan mencegah kekerasan maupun pelanggaran terhadap santri.
Yahya menyampaikan hal tersebut saat berada di Bandung, Jawa Barat, pada Jumat, 21 Agustus 2026. Menurut dia, standardisasi yang mencakup tata ruang hingga pola pengasuhan merupakan bagian dari agenda transformasi pesantren yang dijalankan PBNU sejak awal masa khidmat kepengurusan pada 2022.
"Ya, itu semua hasil kajian kita, itu semua terjadi karena ada hal-hal yang tidak mencukupi kebutuhan untuk pengamanan dari terjadinya kasus-kasus itu," katanya.
Ia menjelaskan PBNU telah melakukan berbagai kajian dan penelitian untuk menyusun standar pengelolaan pesantren yang sesuai dengan kebutuhan saat ini.
Baca Juga: Gus Kikin Siap Maju Caketum PBNU
Rancangan standar tersebut mencakup sejumlah aspek, mulai dari infrastruktur, kurikulum, sistem pengasuhan, hingga kegiatan yang berlangsung di lingkungan pesantren.
Menurut Yahya, kondisi bangunan dan tata ruang yang tidak mendukung aspek keamanan dapat meningkatkan risiko munculnya kasus yang tidak diharapkan.
Selain faktor infrastruktur, sistem pengasuhan juga menjadi perhatian dalam menciptakan lingkungan pesantren yang aman bagi para santri.
"Itulah sebabnya kita pikirkan tentang standar ini supaya hal-hal yang tidak diinginkan, misconduct, itu bisa dicegah," katanya.
Baca Juga: Soal Pemimpin Baru PBNU, Gus Ipul: Semua Wacana Baik untuk Didiskusikan
Yahya mengatakan konsep standardisasi pesantren tersebut telah dituangkan dalam sebuah buku. Sejumlah bagian utama dari konsep itu kemudian diadopsi pemerintah melalui Kementerian Agama pada 2023 sebagai salah satu rujukan dalam pengembangan pesantren.
(Sumber: Antara)
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Yahya Cholil Staquf saat diwawancarai oleh media di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Jumat, 21 Agustus 2026. (Antara)