Ntvnews.id, Kyiv - Serangan drone Rusia menghantam sebuah pusat perbelanjaan di Kryvyi Rig, Ukraina, pada Jumat, 21 Agustus 2026. Sedikitnya 16 orang dilaporkan meninggal dunia akibat serangan tersebut.
Kryvyi Rig merupakan kota kelahiran Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. Serangan itu terjadi ketika Rusia semakin meningkatkan intensitas bombardir terhadap sejumlah kota di Ukraina dalam beberapa bulan terakhir.
"Sebuah kekejaman yang tak termaafkan dari pihak Rusia. Mereka benar-benar monster. Kami pasti akan membalasnya," kata Zelensky melalui video yang diunggah di X, seperti dilansir dari AFP, Minggu, 23 Agustus 2026.
Menteri Dalam Negeri Ukraina Ivan Vygivsky mengatakan empat orang lainnya, termasuk tiga anak-anak, tewas dalam serangan berbeda di wilayah Mykolaiv, Ukraina selatan.
Rekaman yang beredar di media sosial menunjukkan tim penyelamat berusaha mengevakuasi korban luka dari jalanan di sekitar lokasi kejadian. Kepulan asap tebal terlihat membubung dari bangunan yang terdampak serangan di Kryvyi Rig.
Sekitar 30 menit setelah ledakan pertama, sebuah drone kembali menghantam bagian atap gedung. Zelensky mengatakan serangan kedua tersebut diduga sengaja diarahkan kepada petugas yang tengah melakukan operasi tanggap darurat.
Layanan darurat Ukraina sebelumnya menyatakan sedikitnya 15 orang tewas dan 130 lainnya terluka dalam serangan tersebut. Dari jumlah korban luka, sebanyak 23 orang merupakan anak-anak.
Namun, Kepala Administrasi Militer Wilayah Dnipropetrovsk Oleksandr Ganzha kemudian memastikan jumlah korban meninggal meningkat menjadi 16 orang.
Kryvyi Rig merupakan kota industri yang terletak sekitar 60 kilometer dari garis depan pertempuran. Kota tersebut telah berkali-kali menjadi sasaran serangan Rusia selama perang berlangsung.
Baca Juga: Dari Meja dan Kursi Baru, Tumbuh Semangat Belajar Siswa SDN Batu Cermin
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melaporkan jumlah kematian warga sipil di Ukraina sepanjang 2026 meningkat ke tingkat tertinggi sejak periode awal pecahnya perang.
Para negara sekutu Ukraina dijadwalkan menggelar pertemuan pada Senin untuk kembali menegaskan dukungan mereka kepada Kyiv. Pertemuan tersebut bertepatan dengan momentum peringatan Hari Kemerdekaan Ukraina.
Koalisi negara-negara pendukung Ukraina akan dipimpin bersama oleh Presiden Prancis Emmanuel Macron melalui konferensi video, Kanselir Jerman Friedrich Merz, dan Perdana Menteri Inggris Andy Burnham.
Seorang pejabat Uni Eropa menyebut sekitar 10 pemimpin negara, termasuk Presiden Dewan Eropa Antonio Costa, dijadwalkan hadir secara langsung di Kyiv.
Zelensky meminta negara-negara sekutunya memberikan respons yang lebih tegas terhadap Rusia.
"Dunia harus merespons mereka dengan tindakan nyata, yakni dengan memberikan tekanan sungguh-sungguh kepada pihak agresor. Agar perdamaian bisa terwujud, Rusia harus dimintai pertanggungjawaban yang nyata," ujarnya.
Zelensky juga mengungkapkan melalui X bahwa dirinya telah melakukan percakapan telepon dengan Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres pada Jumat. Dalam pembicaraan tersebut, Zelensky menyampaikan perkembangan terbaru mengenai serangan Rusia dan jumlah korban sipil.
Sementara itu, Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Kaja Kallas mengecam serangan terhadap mal di Kryvyi Rig sebagai "teror yang terencana". Ia juga mengancam akan memberlakukan sanksi paling berat terhadap Rusia.
"Serangan Rusia ke pusat perbelanjaan di Kryvyi Rig menunjukkan betapa kejam dan tanpa nuraninya perang yang dilancarkan Moskow," tulis Kaja Kallas di X.
Menurut Kallas, Moskow berupaya menjadikan berbagai kota di Ukraina sebagai wilayah yang tidak lagi layak dihuni.
Di tengah meningkatnya serangan Rusia, Kyiv terus meminta tambahan bantuan dari negara-negara sekutunya. Pasukan Ukraina disebut menghadapi kesulitan, terutama dalam menghadapi serangan bertubi-tubi menggunakan rudal balistik.
Pada saat yang sama, Ukraina juga meningkatkan serangan balasan terhadap sejumlah target di wilayah Rusia dalam beberapa bulan terakhir. Strategi tersebut dilakukan untuk meningkatkan tekanan terhadap Moskow agar bersedia kembali ke meja perundingan guna mengakhiri konflik.
Namun, berbagai upaya diplomatik hingga kini belum berhasil menghasilkan kesepakatan antara kedua pihak. Salah satu kendala utama adalah tuntutan Rusia agar Kyiv memberikan konsesi wilayah dan politik dalam skala besar.
Zelensky menolak tuntutan tersebut. Menurutnya, menerima konsesi seperti yang diminta Moskow sama saja dengan menyerah dan justru dapat membuat Ukraina semakin rentan menghadapi serangan Rusia di masa mendatang.
Asap mengepul di kota setelah serangan pesawat tak berawak dan rudal Rusia, di tengah serangan Rusia terhadap Ukraina, di Kyiv, Ukraina 28 September 2025. (Reuters)