Ntvnews.id, Jakarta -Pejabat keamanan tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, menyampaikan peringatan keras bahwa negara mana pun yang bergabung dalam perang ekonomi Serikat (AS) terhadap Iran akan dianggap sebagai musuh oleh Teheran.
Ia menjelaskan bahwa Iran akan terlebih dahulu mengupayakan jalur negosiasi dan meminta negara-negara tersebut untuk tidak ikut campur dalam konflik yang sedang berlangsung. Namun, jika imbauan tersebut ditolak, Teheran menegaskan tidak ragu untuk menyerang kepentingan-kepentingan negara tersebut.
Lebih lanjut, Rezaei menegaskan bahwa jika negara-negara di kawasan sekitar memutuskan untuk bergabung dalam blokade yang digalang AS, Iran tidak akan membiarkan setetes minyak pun diekspor dari Selat Hormuz.
Rezaei menyebut pihak Iran telah mempelajari berbagai cara untuk menyiasati sanksi ekonomi dari AS dan terbukti berhasil melanjutkan penjualan minyak selama bertahun-tahun.
Di samping itu, ia menegaskan kembali bahwa jalur pelayaran strategis Selat Hormuz akan tetap ditutup. Penutupan tersebut akan terus berlanjut kecuali jika AS memenuhi seluruh komitmennya di bawah nota kesepahaman perdamaian Iran-AS yang telah ditandatangani pada Juni lalu, dengan penekanan bahwa Washington harus mengambil langkah terlebih dahulu.
Ancaman dan penegasan dari pihak Teheran ini muncul setelah Presiden AS Donald Trump pada Rabu, 19 Agustus 2026, menyatakan bahwa AS akan meluncurkan operasi ekonomi paling menghancurkan yang pernah dilakukan terhadap Iran, yang ia sebut sebagai perang dan isolasi ekonomi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Seorang perempuan berjalan di jalanan dengan latar belakang tembok bermuralkan pesawat tempur Iran di Teheran, Iran, pada 8 Juni 2026 (Antara)