Singapura Persingkat Khutbah Salat Jumat Imbas Cuaca Panas dan Kabut Asap Karhutla

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 24 Agu 2026, 07:50
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Singapura Singapura (Pixabay)

Ntvnews.id, Singapura - Dewan Agama Islam Singapura (MUIS) memutuskan untuk memperpendek durasi khutbah Salat Jumat mulai pekan ini. Kebijakan tersebut diterapkan di tengah kondisi cuaca panas dan kabut asap tebal yang berasal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia.

Melalui pernyataan di media sosial, MUIS menjelaskan bahwa langkah tersebut diambil untuk menjaga kenyamanan umat Muslim ketika menjalankan ibadah dalam kondisi cuaca yang kurang bersahabat.

"Mulai pekan ini, sesi khutbah Jumat akan dipersingkat untuk membantu menjaga kenyamanan jemaah selama kondisi cuaca yang menantang ini," demikian pernyataan MUIS, seperti dikutip The Star, Senin, 24 Agustus 2026.

Untuk beberapa waktu ke depan, materi khutbah Salat Jumat akan dibatasi menjadi kurang dari empat halaman. Sebelumnya, khutbah biasanya terdiri dari sekitar enam hingga tujuh halaman.

"Semoga langkah ini akan memudahkan para jemaah untuk berkumpul, beribadah, dan tetap merasa nyaman dalam kondisi cuaca yang menantang ini," demikian pernyataan MUIS.

Materi khutbah Jumat disusun oleh Kantor Mufti MUIS di bawah arahan mufti. Di Singapura, mufti merupakan otoritas tertinggi dalam urusan Islam yang memiliki tanggung jawab terhadap sejumlah fatwa dan persoalan keagamaan penting bagi umat Muslim.

Baca Juga: Desa Adat Sade Lombok Kebakaran, Ini Reaksi DPR

Khutbah Jumat disampaikan sebelum pelaksanaan Salat Jumat yang berlangsung pada waktu Zuhur. Selama Agustus, waktu Salat Jumat di Singapura dilaksanakan setelah pukul 13.00 waktu setempat.

Kondisi cuaca di Singapura turut menjadi pertimbangan. Pada paruh kedua Agustus 2026, suhu maksimum harian di negara tersebut diperkirakan berada di kisaran 33 hingga 34 derajat Celsius.

Selain Malaysia, Singapura merupakan salah satu negara yang berpotensi terkena dampak kabut asap akibat karhutla di Indonesia. Sejumlah titik panas yang disertai kepulan asap telah terpantau di wilayah Sumatra bagian selatan dan tengah serta sejumlah daerah di Kalimantan.

Jika kebakaran semakin meluas, asap dari karhutla Indonesia berpotensi terbawa hingga Singapura. Sementara itu, sejumlah wilayah di Malaysia telah merasakan dampaknya. Pada Minggu, 23 Agustus 2026  pagi, tujuh wilayah di negara tersebut tercatat mengalami tingkat polusi udara yang nyaris sangat tidak sehat.

HIGHLIGHT

x|close