314 Nakes dan Logistik Dikirim ke 7 Provinsi, Kemenkes Atasi Dampak Karhutla

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 24 Agu 2026, 11:00
thumbnail-author
Naila Fadhilah
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Personel Yonif TP 882/Hulubalang melakukan pembasahan untuk mencegah api kembali menyala di lokasi kebakaran lahan gambut di Desa Arang Limbung, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, Minggu (23/8/2026). BNPB mencatat luas lahan di Kalimantan Barat yang terbakar akibat kebakaran hutan dan lahan sejak Januari hingga Agustus 2026 mencapai 38.310,89 hektare, yang berpotensi menimbulkan bencana asap di sejumlah kabupaten/kota di provinsi setempat Personel Yonif TP 882/Hulubalang melakukan pembasahan untuk mencegah api kembali menyala di lokasi kebakaran lahan gambut di Desa Arang Limbung, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, Minggu (23/8/2026). BNPB mencatat luas lahan di Kalimantan Barat yang terbakar akibat kebakaran hutan dan lahan sejak Januari hingga Agustus 2026 mencapai 38.310,89 hektare, yang berpotensi menimbulkan bencana asap di sejumlah kabupaten/kota di provinsi setempat (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta -Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menggerakkan langkah cepat merespons krisis kualitas udara akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang memicu lonjakan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Sebanyak 314 tenaga medis serta ratusan ribu logistik kesehatan dikirimkan untuk memperkuat penanganan di tujuh provinsi terdampak

"Sebagai upaya mitigasi kesehatan akibat karhutla, kami telah memobilisasi sejumlah 314 tenaga kesehatan yang terdiri dari dokter, perawat, bidan, dan epidemiolog dengan konsentrasi utama di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan," ujar Kepala Pusat Krisis Kesehatan, Agus Jamaludin, di Jakarta, Minggu (21/8).

Dampak karhutla yang membakar berbagai area di Indonesia dilaporkan kian meluas. Lebih dari tiga juta jiwa yang tersebar di 37 kabupaten/kota kini terpapar langsung oleh kepungan kabut asap.

Data Kemenkes per Jumat (21/8) mencatat ada tujuh provinsi yang mengalami dampak karhutla, yaitu Jambi, Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur. Seiring kemarau panjang yang melanda sejak awal 2026, enam provinsi di antaranya bahkan telah menetapkan status siaga darurat bencana.

Kondisi tersebut berbanding lurus dengan melonjaknya temuan kasus gangguan pernapasan. Di Kalimantan Tengah, angka kasus ISPA melesat dari 402 menjadi 716 kasus hanya dalam kurun waktu satu minggu atau melonjak hingga 78,1 persen.

Sementara itu, Kalimantan Barat membukukan akumulasi tertinggi dengan mencatat lebih dari 151 ribu kasus sejak Januari 2026, di mana konsentrasi kasus terbanyak berada di Pontianak, Kubu Raya, dan Mempawah. Tren kenaikan ISPA yang dibarengi kasus asma serta iritasi juga dilaporkan terjadi di Riau dan Kalimantan Selatan. Kendati demikian, hingga kini belum ada laporan korban jiwa akibat paparan asap karhutla tersebut.

Untuk menahan laju krisis kesehatan ini, Kemenkes menyalurkan bantuan medis berskala besar. Bantuan tersebut meliputi 278.940 buah masker, 56 unit Oxygen Concentrator (OC), 40 face shield, 1.000 pasang sarung tangan medis, 36 tabung Oxycan, 8 set alat pelindung diri (APD), 33 dus pemberian makanan tambahan (PMT), hingga suplai obat-obatan dan vitamin.

Layanan darurat juga terus diperluas di area rawan seperti Kabupaten Barito Utara, Barito Timur, dan Kota Palangkaraya melalui pendirian pos kesehatan serta ruang oksigen. Di sisi lain, program "Oase Udara" digulirkan di sejumlah fasilitas kesehatan Kalimantan Barat demi menjamin ketersediaan pasokan oksigen bagi warga yang mengalami sesak napas.

Mengingat puncak musim kemarau diproyeksikan masih bertahan hingga September 2026, Kemenkes mengimbau masyarakat di zona merah karhutla untuk membatasi aktivitas luar ruang dan disiplin menggunakan masker saat bepergian.

Warga juga diminta memantau indeks kualitas udara secara berkala, menerapkan pola hidup bersih dan sehat, mencukupi konsumsi air putih, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat apabila mengalami gejala gangguan pernapasan.
 
(Sumber: Antara)
 

HIGHLIGHT

x|close