Ntvnews.id, Jakarta -Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria, menekankan krusialnya penguasaan keterampilan ramah lingkungan (green skill) bagi sumber daya manusia (SDM) Indonesia. Keahlian ini dinilai menjadi kunci utama untuk menjawab tantangan pelestarian alam serta menghadapi ancaman perubahan iklim di era Society 5.0.
Pernyataan tersebut disampaikan Arif dalam gelaran Penganugerahan Sarwono Award dan Sarwono Memorial Lecture 2026 di Jakarta, Senin (24/8). Ia memaparkan bahwa pilar peradaban masa depan kini bertumpu pada dua hal mendasar, yakni aspek kemanusiaan (humanity) dan keberlanjutan (sustainability).
Atas dasar itu, green skill berkembang menjadi kompetensi yang bernilai tinggi dan sangat dibutuhkan, baik di ranah riset akademis maupun dalam dunia industri swasta. "Dalam green skill, skill hijau, ini merupakan skill yang diperlukan untuk hari ini dan masa depan. Jadi green skill ini tidak semata-mata diperlukan dalam dunia akademik, tetapi juga di dunia private (swasta)," ujarnya.
Salah satu ranah konkret penerapan green skill berada pada bidang penyelamatan satwa liar yang terancam punah, seperti Badak Sumatra yang populasinya kini kian krisis dan tersisa sekitar 50 ekor di alam bebas. Arif menilai perlindungan satwa endemik tersebut tidak bisa lagi hanya mengandalkan metode konvensional, melainkan membutuhkan intervensi teknologi mutakhir dan kolaborasi lintas sektor.
"Sehingga, sekarang sudah berkembang juga teknologi yang disebut seperti ART, Assisted Reproductive Technology, yang sudah berkembang dan sudah berhasil di Kenya," tutur Arif memberi contoh.
Lebih jauh, Kepala BRIN ini mengajak para periset untuk menggali inspirasi langsung dari cara kerja alam atau pendekatan biomimikri. Karakteristik alam yang sarat akan keberagaman, kesalingtergantungan, serta jejaring kehidupan dinilai amat relevan untuk diserap dalam pola interaksi sosial manusia.
"Jadi, sebenarnya alam itu sudah mengajarkan pada kita untuk hidup, dan filosofi dari alam itu, karakteristik alam itu, inilah yang kemudian bisa menjadi salah satu sumber dalam kehidupan sosial," ucapnya.
Selain menginspirasi tatanan sosial, rahasia navigasi alami satwa seperti pola terbang burung maupun alur migrasi paus juga menyimpan potensi teknologi tinggi yang mampu melampaui kecerdasan buatan (artificial intelligence). Merujuk pada konsep blue economy, Arif mendorong lahirnya riset-riset adaptif yang berguru pada mekanisme alam.
"Nah cara kerja alam itulah yang mestinya menjadi sumber inovasi. Nah, bagi para periset di BRIN dan di berbagai tempat di Indonesia, menurut saya penting untuk mendapatkan inspirasi dari bagaimana cara alam bekerja," pungkas Arif.
Tangkapan layar - Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria dalam kegiatan Penganugerahan Sarwono Award dan Sarwono Memorial Lecture 2026 di Jakarta, Senin (24/8/2026). (Antara)