Kemitraan Tembakau Dorong Produktivitas dan Kesejahteraan Petani Rembang

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 24 Agu 2026, 19:05
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Penulis & Editor
Bagikan
Direktur Tanaman Semusim dan Tahunan Kementan, Dr. Abdul Roni Angkat, S.TP., M.Si, melaksanakan Kunjungan Lapangan Program Kemitraan Petani Tembakau di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah belum lama ini. Direktur Tanaman Semusim dan Tahunan Kementan, Dr. Abdul Roni Angkat, S.TP., M.Si, melaksanakan Kunjungan Lapangan Program Kemitraan Petani Tembakau di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah belum lama ini. (Kementan)

Ntvnews.id, Rembang - Upaya memperkuat produktivitas dan daya saing tembakau nasional terus dilakukan melalui kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, dan petani. Salah satunya melalui Kunjungan Lapangan Program Kemitraan Petani Tembakau yang digelar Kementerian Pertanian (Kementan) bersama sejumlah pelaku ekosistem tembakau di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah belum lama ini.

Kegiatan yang mengangkat tema "Kemitraan Meningkatkan Produktivitas dan Daya Saing Tembakau Nasional" tersebut menjadi momentum untuk melihat langsung penerapan Sistem Produksi Terpadu, menyerap aspirasi petani, sekaligus memperkuat kerja sama antara pemerintah, dunia usaha, dan komunitas petani di daerah.

Sejumlah pihak turut hadir dalam kegiatan itu, antara lain Direktur Tanaman Semusim dan Tahunan Kementerian Pertanian RI Dr. Abdul Roni Angkat, S.TP., M.Si., Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Rembang Ir. Agus Iwan Haswanto, S.Pt, M.Si., Tim Agronomi dan Kemitraan PT HM Sampoerna Tbk., serta petani mitra, pengurus kelompok tani, tokoh masyarakat, dan pemangku kepentingan sektor pertanian di Rembang.

Sistem Produksi Terpadu sendiri telah berjalan sejak 2009. Program tersebut diarahkan untuk meningkatkan kualitas hasil panen, membuat proses budidaya lebih efisien melalui penerapan Good Agricultural Practices (GAP), serta memberikan kepastian penyerapan hasil pertanian.

Dalam pelaksanaannya, petani memperoleh dukungan yang mencakup pendampingan dan penguatan pengetahuan sehingga usaha tani dapat dijalankan secara lebih berkelanjutan. Hal ini dinilai relevan dengan berbagai persoalan yang masih dihadapi petani, seperti terbatasnya akses terhadap informasi dan inovasi, ketersediaan sarana produksi, kondisi cuaca yang tidak menentu, hingga kendala dalam rantai tata niaga.

Baca Juga: Mentan Copot 14 Pejabat Kementan, Diduga Terlibat Korupsi Bernilai Miliaran Rupiah

Pendampingan teknis yang dilakukan secara berkala juga membantu petani memahami praktik budidaya sekaligus menjaga mutu hasil produksi. Pengetahuan tersebut diharapkan dapat membuat petani lebih efisien dalam mengelola biaya usaha tani.

Direktur Tanaman Semusim dan Tahunan Kementan Abdul Roni Angkat menilai keberlanjutan kemitraan memiliki peran penting dalam mendorong perkembangan sektor pertanian.

"Melalui kunjungan lapangan ini, kita jadi lebih memahami implementasi rangkaian pendampingan teknik budidaya di tingkat lapangan sejak pembibitan hingga panen, memetakan tantangan riil para petani, serta memastikan penyerapan hasil panen tembakau oleh industri berjalan secara optimal untuk hasil yang sesuai standar mutu dan kualitas," ujarnya.

Menurut dia, kemitraan antara petani dan pelaku industri tidak hanya berdampak terhadap sektor pertanian, tetapi juga dapat memberikan efek berantai terhadap perekonomian masyarakat di wilayah pedesaan.

Aktivitas ekonomi tersebut antara lain terlihat dari meningkatnya kebutuhan tenaga kerja paruh waktu selama musim tanam hingga pascapanen. Selain itu, keberadaan sentra tembakau turut mendukung usaha penyedia sarana pertanian dan meningkatkan perputaran ekonomi pelaku UMKM di kawasan sekitar.

Sejumlah Petani Tembakau dan Direktur Tanaman Semusim dan Tahunan, Direktorat Jenderal Perkebunan Kementan, Dr. Abdul Roni Angkat, S.TP., M.Si bersama Ketua Kelompok Tanaman Semusim, Yudi Wahyudi dan Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Dintanpan) Kabu <b>(Kementan)</b> Sejumlah Petani Tembakau dan Direktur Tanaman Semusim dan Tahunan, Direktorat Jenderal Perkebunan Kementan, Dr. Abdul Roni Angkat, S.TP., M.Si bersama Ketua Kelompok Tanaman Semusim, Yudi Wahyudi dan Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Dintanpan) Kabu (Kementan)

Kerja sama antara sektor hulu dan hilir pun dinilai memiliki posisi strategis dalam meningkatkan kapasitas petani di berbagai sentra produksi tembakau. Penguatan hubungan antara petani dan industri menjadi salah satu upaya untuk menjaga ketahanan sektor pertanian nasional sekaligus meningkatkan kualitas hasil produksi.

Dampak kemitraan juga dirasakan oleh petani di Rembang. Salah satunya Iris, petani mitra yang juga menjabat sebagai Kepala Desa Sukorejo, Kabupaten Rembang. Ia telah mengikuti program kemitraan sejak 2021 dan menyebut manfaatnya tidak hanya berkaitan dengan peningkatan kesejahteraan petani, tetapi juga kondisi keamanan di lingkungan desa.

"Semenjak mengikuti program kemitraan, saya berhasil meningkatkan produktivitas budidaya tanaman tembakau. Sehingga mendapatkan hasil yang lebih optimal. Tidak hanya berhenti disitu, semenjak banyak warga desa saya yang ikut program kemitraan tembakau, desa kami juga menjadi lebih aman dan tidak rawan tindakan kriminal seperti pencurian motor yang seperti dulu," ucapnya.

Petani milenial asal Rembang, Arifin, juga melihat program tersebut sebagai peluang untuk mempertahankan usaha tani tanpa harus mencari pekerjaan ke luar daerah. Pendampingan yang diterimanya membantu memanfaatkan lahan yang sebelumnya kurang produktif ketika musim kemarau.

"Saya mendapatkan pendampingan untuk memanfaatkan lahan kosong saat musim kemarau, cuaca yang panas membuat komoditas lain tidak dapat tumbuh dan bertahan. Melalui pendampingan kemitraan, saat musim kemarau saya tidak perlu lagi ke kota untuk kerja serabutan agar mampu memenuhi kebutuhan keluarga seperti dulu, cukup menanam tembakau sesuai panduan, alhamdulilah hasilnya sesuai harapan," katanya.

Baca Juga: Mengubah Kemarau Menjadi Harapan, Pertamina Dampingi Petani Boyolali Bangkit dan Lebih Sejahtera

Pernyataan tersebut mendapat respons dari Abdul Roni. Ia menyampaikan bahwa Kementerian Pertanian memiliki program yang ditujukan bagi petani milenial, termasuk kesempatan mengikuti pertukaran petani ke luar negeri.

Program tersebut diharapkan dapat membuka akses bagi petani muda untuk memperoleh pengalaman baru sekaligus memperkenalkan praktik pertanian yang telah mereka pelajari di Indonesia ke tingkat internasional.

"Nanti jika ada informasi terkait program pertukaran petani muda keluar negeri saya akan infokan melalui Dinas, pengalaman bertani tembakau yang sudah dipelajari dapat disampaikan pada level global. Selain itu petani kita juga bisa dapat ilmu dan pengalaman baru dari praktik budidaya negara lain," kata dia.

Saat ini, program kemitraan tembakau di Jawa Tengah telah mencakup lebih dari 10.000 petani yang berada di Kabupaten Rembang, Grobogan, dan Wonogiri.

Sejalan dengan upaya modernisasi sektor pertanian, Kementerian Pertanian juga mendukung transformasi pertanian melalui berbagai bentuk bantuan dan pengembangan teknologi. Salah satunya berupa penyaluran alat mekanisasi panen yang ditujukan untuk membantu meningkatkan efisiensi pekerjaan petani.

Di tengah upaya memperkuat kemitraan, rantai pasok tembakau nasional masih menghadapi tantangan dari sisi kebijakan. Karena itu, keterlibatan Kementerian Pertanian dalam menyelaraskan kebijakan antara sektor hulu dan hilir dinilai penting agar pengembangan industri tetap berjalan beriringan dengan upaya meningkatkan kesejahteraan petani.

HIGHLIGHT

x|close