AS Peringatkan China soal Risiko Sanksi Jika Tetap Berbisnis dengan Iran

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 25 Agu 2026, 18:01
thumbnail-author
Annisa Aldifa Keyla
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent berbicara dalam konferensi pers di Cash Room, Washington D.C., AS Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent berbicara dalam konferensi pers di Cash Room, Washington D.C., AS (Antara)

Ntvnews.id, Washington - Amerika Serikat (AS) memperingatkan China dan sejumlah negara lain mengenai risiko sanksi sekunder apabila tetap melakukan aktivitas bisnis dengan Iran. Peringatan tersebut disampaikan ketika pemerintah AS meluncurkan kampanye baru untuk memutus jalur ekonomi yang dinilai penting bagi Iran.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan kampanye bernama "Operation Economic Outcast" itu menyasar lima sektor ekonomi Iran, yakni aset digital, teknologi, emas, penerbangan, dan pelayaran.

"Mereka yang berdiri bersama Amerika Serikat akan menuai manfaat dari kemitraan kami. Mereka yang mengikat diri pada rezim Iran harus bersiap untuk ikut merasakan isolasi yang dialami rezim terpuruk itu," kata Bessent dalam konferensi pers di Washington D.C., AS, Selasa, 25 Agustus 2026.

Bessent menegaskan tidak ada pihak yang kebal terhadap sanksi AS. Menurut dia, negara atau entitas mana pun, termasuk China yang merupakan salah satu mitra dagang utama Iran, dapat menjadi sasaran operasi tersebut.

"Setiap negara memiliki batas waktu yang telah ditetapkan untuk menghentikan aktivitas-aktivitas yang telah kami identifikasi. Jika mereka tidak mengambil tindakan, maka kami akan melakukannya secara sepihak melalui kewenangan Departemen Keuangan AS," ujarnya.

Baca Juga: Putin dan Trump Bakal Bertemu di China November Nanti

Dia juga mengatakan para pemimpin dunia kini harus menentukan pilihan antara kemakmuran dan isolasi, perdamaian dan teror, serta Amerika Serikat dan Iran.

Meski demikian, pemerintahan Presiden Donald Trump belum membeberkan secara rinci langkah terbaru yang akan ditempuh untuk meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran.

"Kami tidak akan menyebut nama-nama tertentu," kata Bessent.

Rincian mengenai perbedaan rencana terbaru tersebut dengan upaya AS sebelumnya untuk memblokir sumber pendapatan Iran juga masih belum jelas.

Bessent memberikan contoh bahwa setiap entitas yang membantu memfasilitasi pencucian uang bagi Iran akan dikeluarkan dari sistem dolar AS.

Selain ancaman sanksi sekunder, Bessent menyebut AS telah memutuskan menjatuhkan sanksi terhadap sekitar 60 entitas, individu, dan kapal di berbagai negara. Mereka dituding membantu Iran memperoleh teknologi nuklir dan rudal secara ilegal, menjalankan operasi siber, serta mendapatkan pendapatan dari sektor minyak.

Baca Juga: Zelensky Berhentikan Duta Besar Ukraina untuk Amerika Serikat Olha Stefanishyna

Peringatan tersebut disampaikan di tengah upaya Presiden Donald Trump untuk mencapai kesepakatan dengan Iran guna mengakhiri konflik yang telah berlangsung hampir enam bulan.

Situasi itu juga terjadi sekitar satu bulan sebelum rencana kunjungan Presiden China Xi Jinping ke Gedung Putih.

(Sumber: Antara)

HIGHLIGHT

x|close