Ntvnews.id, Jakarta - Presiden Kuba Miguel Díaz-Canel menuding Amerika Serikat (AS) menjalankan kebijakan yang bertujuan menekan perekonomian Kuba hingga memicu keruntuhan negara tersebut.
Díaz-Canel sekaligus membantah anggapan bahwa kondisi Kuba sudah berada di ambang kehancuran. Ia menegaskan pemerintah Havana masih mempertahankan jalur diplomasi dengan Washington, tetapi menolak pembicaraan yang berlangsung dalam kondisi penuh tekanan.
"Tidak akan ada dialog di bawah penindasan. Kita perlu mencari jalur dialog tanpa prasyarat," kata Díaz-Canel, seperti dilansir dari Yeni Şafak, Kamis, 27 Agustus 2026.
Menurut Díaz-Canel, hubungan diplomatik antara Kuba dan AS masih menemui jalan buntu. Meski demikian, komunikasi informal di antara pejabat kedua negara disebut masih berlangsung.
Ia menekankan bahwa Havana menginginkan proses dialog yang bebas dari tekanan, ancaman, maupun campur tangan pihak luar.
Díaz-Canel juga menyoroti pernyataan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengenai upaya Washington membatasi berbagai pilihan ekonomi yang dapat dimanfaatkan Kuba.
Baca Juga: Jaringan Listrik Kuba Kembali Kolaps
Menurutnya, langkah tersebut merupakan bagian dari strategi Washington untuk memberikan tekanan ekonomi terhadap pemerintah Havana.
Pemimpin Kuba itu kembali menegaskan penolakannya terhadap proses negosiasi yang dilakukan dalam kondisi tertekan. Kendati demikian, ia mengungkapkan bahwa sejumlah pejabat Kuba masih berkomunikasi secara berkala dengan pihak-pihak di AS.
Pernyataan Díaz-Canel muncul ketika hubungan Kuba dan AS kembali memanas. Pemerintahan Presiden Donald Trump diketahui meningkatkan tekanan serta menjatuhkan sejumlah sanksi terhadap Havana.
Díaz-Canel menegaskan pemerintah Kuba akan terus mempertahankan kedaulatan negara dan menolak campur tangan asing. Namun, Havana tetap membuka kemungkinan memperbaiki hubungan dengan Washington jika AS menghentikan kebijakan yang dianggap menggunakan tekanan dan paksaan.
Arsip - Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel. (ANTARA/Anadolu/py) (Antara)