Ntvnews.id, London - Menteri Inggris untuk Timur Tengah Stephen Doughty mengecam tindakan pasukan Israel yang mengambil alih pusat pelatihan Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) di Qalandiya, Yerusalem Timur.
Doughty menilai pengambilalihan fasilitas tersebut sebagai tindakan yang "keterlaluan". Ia juga mendesak Israel menghormati status dan kekebalan fasilitas milik Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
"Pemaksaan masuk dan laporan pengambilalihan Pusat Pelatihan UNRWA Qalandiya di Yerusalem adalah tindakan yang keterlaluan. Fasilitas PBB ini telah memberikan pendidikan dan kesempatan bagi generasi pengungsi Palestina," tulis Doughty melalui X, Rabu, 26 Agustus 2026.
"Israel harus mematuhi kewajibannya dan menghormati ketidaktergangguan fasilitas PBB," lanjutnya, seperti dikutip Anadolu Agency.
Pasukan Israel pada Selasa, 25 Agustus 2026, dilaporkan mengeluarkan para staf UNRWA dari fasilitas tersebut sebelum mengambil alih kompleks. Mereka juga mengibarkan bendera Israel di area halaman fasilitas.
Baca Juga: UNRWA Rilis Video Krisis Kemanusiaan Gaza: Warga Kelaparan, Sekolah Hancur dan Mayat di Jalan
Selain menguasai pusat pelatihan, pasukan Israel dikerahkan di sekitar Kamp Pengungsi Qalandiya dan Kafr Aqab. Mereka melakukan sejumlah operasi, termasuk penggerebekan, penggeledahan, serta pemeriksaan lapangan terhadap warga Palestina.
UNRWA turut mengecam tindakan tersebut. Badan PBB yang menangani pengungsi Palestina itu menyatakan masuknya pasukan keamanan bersenjata ke dalam fasilitas PBB tanpa izin atau persetujuan dari PBB merupakan tindakan yang "tidak dapat diterima."
UNRWA menegaskan bahwa pusat pelatihan tersebut merupakan fasilitas PBB yang memperoleh perlindungan berupa hak istimewa dan kekebalan organisasi berdasarkan hukum internasional.
"Ketidaktergangguan fasilitas tersebut harus sepenuhnya dihormati," kata UNRWA.
Kecaman dari pemerintah Inggris menambah sorotan internasional terhadap Israel setelah pasukannya mengambil alih fasilitas UNRWA tersebut. Selama puluhan tahun, pusat pelatihan itu digunakan untuk memberikan pendidikan dan pelatihan kejuruan bagi para pengungsi Palestina.
Ilustrasi markas UNRWA di Tepi Barat, Palestina./ANTARA/Anadolu/py (Antara)