Prabowo Instruksikan BRIN Gandeng Industri Produksi Massal Rumah Tahan Gempa

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 28 Agu 2026, 16:55
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Siti Ruqoyah
Editor
Bagikan
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria (NTVnews)

Ntvnews.id, JakartaPresiden Prabowo Subianto meminta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyiapkan langkah produksi massal rumah modular tahan gempa dengan menggandeng mitra industri. Skema tersebut ditujukan untuk memperkuat mitigasi bencana, terutama di daerah yang memiliki tingkat kerawanan gempa tinggi seperti Nusa Tenggara Timur (NTT).

Kepala BRIN Arif Satria mengatakan Prabowo menginginkan hasil penelitian dan teknologi yang dikembangkan BRIN tidak berhenti di tahap riset, tetapi dapat diterapkan secara langsung untuk membantu masyarakat.

Hal itu disampaikan Arif setelah mendampingi Prabowo dalam pertemuan dengan Presiden Timor Leste Jose Ramos-Horta beserta delegasi ilmuwan dan peraih Nobel di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat, 28 Agustus 2026.

"Untuk mengatasi masalah gempa di NTT ini, salah satu tadi yang dikenalkan oleh Bapak Presiden terkait dengan rumah modular tahan gempa di mana saat ini ada tiga rumah contoh BRIN yang berdiri sejak tahun 2021-2022 yang alhamdulillah pada saat gempa tetap utuh," kata Arif kepada awak media di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta.

Arif menjelaskan BRIN tidak memiliki kewenangan untuk melakukan produksi rumah tersebut secara massal. Karena itu, lembaga tersebut akan berkoordinasi dengan pihak industri agar teknologi rumah modular tahan gempa dapat dikembangkan dalam jumlah lebih besar sekaligus menekan biaya produksinya.

"Nah sekarang ini sedang kita terus berkoordinasi dengan mitra ya karena BRIN tidak boleh memproduksi secara massal dan sehingga kita harus mencari mitra-mitra untuk menghasilkan rumah-rumah tersebut dalam jumlah yang lebih banyak dan bisa lebih murah lagi karena itu rumah tahan gempa ini saya kira sangat penting untuk daerah-daerah yang memang rentan terhadap gempa," jelas Arif.

Baca Juga: Presiden Timor Leste Kagumi Toleransi Indonesia, Sebut Patut Jadi Teladan Dunia

Menurut Arif, pengembangan teknologi mitigasi bencana menjadi kebutuhan penting bagi Indonesia. Kondisi tersebut tidak terlepas dari letak geografis Indonesia yang berada di kawasan Cincin Api atau Ring of Fire sehingga memiliki risiko tinggi terhadap berbagai bencana geologis.

"Sehingga beliau tadi menyampaikan bahwa ini memerlukan kajian, memerlukan inovasi-inovasi teknologi untuk bisa mengatasi, mengantisipasi, ya maupun terus memberikan solusi sehingga hal-hal tersebut tidak terjadi di Indonesia," tuturnya.

Pembahasan mengenai mitigasi bencana tersebut turut menjadi bagian dari pertemuan Prabowo dengan Presiden Timor Leste José Ramos-Horta di Istana Merdeka. Dalam kunjungan tersebut, Ramos-Horta didampingi Duta Besar Timor Leste untuk Indonesia Roberto Soares serta Penasihat Senior Presiden Nelson Gaspar Ferreira Dos Santos.

Pertemuan itu juga dihadiri sejumlah ilmuwan dan peraih Nobel dari berbagai bidang. Mereka antara lain peraih Nobel Kimia Prof. Frances H. Arnold dan Prof. Benjamin List, peraih Nobel Perdamaian Kailash Satyarthi, peraih Nobel Fisiologi Sir Tim Hunt, peraih Nobel Ekonomi Prof. Robert C. Merton dan Prof. James A. Robinson, serta peraih Nobel Fisika Sir Konstantin Novoselov dan Prof. Brian P. Schmidt.

Turut hadir ahli astrofisika Prof. Sara Seager dan fotografer resmi para pemenang Nobel, Peter Badge.

Arif mengatakan Prabowo juga mendorong para ilmuwan internasional tersebut untuk membangun kerja sama dengan akademisi dan peneliti Indonesia. Kolaborasi itu diharapkan dapat memperkuat pengembangan talenta serta ekosistem riset nasional.

"Bapak Presiden tadi juga menyampaikan kepada para peraih Nobel untuk bisa berkolaborasi dengan periset dan juga akademisi di Indonesia karena sangat penting sekali para peraih Nobel itu memberikan inspirasi kemudian bisa menjadi bagian dari ekosistem penguatan talenta riset di Indonesia," ujar Arif.

Menurut Arif, kerja sama antara peneliti Indonesia dan ilmuwan peraih Nobel sebelumnya telah mulai dilakukan BRIN. Salah satunya melalui kolaborasi dengan ilmuwan asal Jepang, Susumu Kitagawa, dalam pengembangan teknologi Metal Organic Framework (MOF) yang berkaitan dengan sektor gas alam.

"Jadi sudah pernah saya sampaikan bahwa peraih Nobel Jepang ini kemudian membangun sister lab di Indonesia dan sister lab di Indonesia ini sekarang sedang mempersiapkan bagaimana menghasilkan gas alam dengan tekanan yang lebih rendah dengan menggunakan temuan hasil peraih Nobel itu," jelas Arif.

HIGHLIGHT

x|close