Ntvnews.id, Chitwan - Distrik Chitwan, Nepal, yang selama ini dikenal memiliki hamparan hutan dan aliran sungai yang indah, kini berubah menjadi tempat pemakaman massal bagi ratusan korban yang belum diketahui identitasnya. Jasad-jasad tersebut ditemukan setelah terseret arus banjir bandang yang menerjang kawasan Himalaya beberapa hari lalu.
Di wilayah dataran rendah yang berjarak sekitar 200 kilometer dari Lembah Rasuwa, kawasan yang mengalami kerusakan parah akibat bencana pada Rabu, pemerintah setempat menggali ratusan liang kubur di Hutan Devghat, Chitwan.
Lokasi tersebut sebelumnya merupakan salah satu tempat yang kerap dikunjungi warga untuk berolahraga dan berjalan kaki pada pagi hari.
"Kami tidak punya pilihan lain dan harus mengambil langkah ini. Kekhawatiran kami adalah risiko kesehatan masyarakat akibat pembusukan jasad yang berlangsung cepat," kata Ganesh Arya, kepala pemerintahan Distrik Bharatpur, Chitwan, seperti dikutip dari Reuters, Senin, 31 Agustus 2026.
Sebanyak 96 jasad tanpa identitas dimakamkan di kawasan hutan tersebut pada Sabtu. Otoritas berencana kembali memakamkan lebih dari 100 jasad lainnya pada Minggu, sementara tim pencarian masih terus menemukan korban dari aliran sungai maupun tumpukan material akibat bencana.
Baca Juga: Banjir Bandang Nepal Hancurkan Pemukiman, 10.000 Keluarga Terdampak
Banjir bandang yang dipicu longsoran gletser di sejumlah lembah sepanjang perbatasan Nepal dan China telah menewaskan sekitar 750 orang. Lebih dari 3.000 orang lainnya masih dilaporkan hilang akibat bencana yang menyebabkan kerusakan besar di wilayah tersebut.
Sekitar 100 personel yang terdiri dari petugas penyelamat, polisi, serta pejabat pemerintah dikerahkan untuk menangani proses identifikasi dan pemakaman. Mereka mendokumentasikan setiap korban, mengambil foto jenazah, serta memastikan lokasi pemakaman tercatat secara rinci.
Setiap liang kubur diberi penanda identifikasi, baik di permukaan maupun di bawah tanah. Data mengenai lokasi pemakaman juga dicatat dengan koordinat yang akurat untuk memudahkan pencarian kembali apabila identitas korban berhasil diketahui.
Untuk mendukung proses identifikasi di kemudian hari, otoritas Nepal mengambil sampel DNA dari setiap jasad yang belum dikenali. Dengan cara tersebut, jasad dapat digali kembali apabila identitas korban nantinya diketahui berdasarkan laporan keluarga, dokumen resmi, maupun hasil pemeriksaan genetik.
India turut mengirimkan tim forensik untuk bekerja sama dengan pihak Nepal dalam menganalisis sampel DNA. Pemerintah Nepal juga tengah berkoordinasi dengan tim dari China untuk mendukung proses identifikasi korban.
Bau Menyengat dari Jasad Korban
Situasi memilukan juga terlihat di Rumah Sakit Bharatpur. Bau menyengat dari jasad yang mengalami pembusukan bahkan sudah tercium sejak memasuki area rumah sakit.
Sekitar 50 polisi dan petugas dikerahkan untuk menangani jenazah yang terus berdatangan. Di kamar jenazah yang kapasitasnya hanya sekitar 50 orang, terdapat sekitar 125 jasad yang terbaring di lantai.
Sebagian besar jenazah telah mengalami pembusukan parah setelah berhari-hari berada di dalam air akibat banjir.
"Dari jasad yang berhasil kami temukan sejauh ini, lebih dari separuhnya sudah tak dapat dikenali," kata Inspektur Anil Thapa, yang mengawasi salah satu fasilitas penanganan jenazah di distrik tersebut.
"Banyak yang wajahnya sudah tak terlihat lagi."
Sementara itu, lebih dari 200 orang berkumpul di Chitwan Expo Centre untuk melihat foto-foto korban yang ditemukan dengan harapan dapat mengenali anggota keluarga mereka.
Sebagian keluarga datang dari distrik yang jauh dengan membawa ransel hingga koper. Beberapa di antaranya mengaku telah tiba sejak sehari sebelumnya, tetapi masih belum diperbolehkan masuk ke aula tempat proses identifikasi berlangsung.
Mereka terpaksa menunggu di luar sembari berharap memperoleh kepastian mengenai keberadaan orang-orang yang mereka cintai.
Jasad korban yang terus berdatangan menjadi gambaran nyata betapa besarnya dampak bencana tersebut. Di sisi lain, kondisi itu juga menunjukkan beratnya pekerjaan yang harus dihadapi pemerintah untuk mengidentifikasi korban dan memberikan kepastian kepada keluarga yang masih menunggu kabar.
Tekanan emosional dan fisik juga dirasakan langsung oleh petugas yang setiap hari berhadapan dengan jasad korban.
"Begitu saya datang bekerja di sini, saya tidak bisa memikirkan makanan," kata Thapa, dengan seragam yang basah oleh keringat.
"Jangankan makan, minum air pun saya tidak berselera." pungkasnya.
Foto udara suasana rumah yang terdampak banjir bandang dan tanah longsor di Nuwakot, Nepal, Kamis (27/8/2026). Otoritas Manajemen Pengurangan Risiko Bencana Nasional Nepal menyatakan bahwa sebanyak 359 jenazah telah ditemukan di wilayah-wilayah yang (Antara)