Islandia Tolak Usulan Buka Kembali Negosiasi Keanggotaan Uni Eropa

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 31 Agu 2026, 07:20
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Bendera-bendera Uni Eropa berkibar di markas di Brussel, Belgia, pada 23 Mei 2025 Bendera-bendera Uni Eropa berkibar di markas di Brussel, Belgia, pada 23 Mei 2025 (Antara)

Ntvnews.id, Reykjavík - Pemilih di Islandia menolak usulan untuk membuka kembali perundingan mengenai keanggotaan negara tersebut di Uni Eropa (UE), lebih dari 10 tahun setelah proses negosiasi sebelumnya dihentikan.

Dilansir dari AP, Senin, 31 Agustus 2026l, hasil referendum tersebut sekaligus mengakhiri perdebatan panjang mengenai hubungan Islandia dengan UE yang berlangsung sejak pemerintahan yang skeptis terhadap blok Eropa itu menghentikan pembicaraan keanggotaan lebih dari satu dekade lalu.

Berdasarkan hasil yang dilaporkan RUV, kubu penolak meraih kemenangan dengan perolehan 52,8 persen suara, sementara pendukung proposal mendapatkan 47,2 persen. Reykjavik menjadi satu-satunya wilayah di Islandia yang mencatatkan suara mayoritas untuk mendukung pembukaan kembali negosiasi.

Referendum yang digelar pada Sabtu berlangsung di tengah kekhawatiran mengenai berulangnya ancaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menguasai Greenland, wilayah yang berada tidak jauh dari Islandia. Situasi tersebut membuat sebagian pemilih melihat keanggotaan UE sebagai bentuk solidaritas dan perlindungan bersama di Eropa.

Meski Islandia telah menjadi anggota NATO, kelompok pendukung referendum menilai hubungan yang lebih erat dengan UE dapat memberikan perlindungan tambahan dari negara-negara tetangga apabila Trump suatu saat menyampaikan ancaman serupa terhadap Islandia.

Pemerintahan koalisi berhaluan kiri yang terpilih pada 2024 bahkan mempercepat pelaksanaan referendum. Pemungutan suara tersebut sebelumnya dijadwalkan berlangsung tahun depan.

Keputusan itu diambil setelah Trump beberapa kali keliru menyebut Islandia ketika menyampaikan ambisinya terhadap Greenland.

Baca Juga: Porsche Gandeng XPeng Demi Pertahankan Mesin Bensin di Tengah Aturan Emisi Uni Eropa

Perdana Menteri Islandia Kristrún Frostadóttir, yang berada di kubu pendukung proposal, berharap hasil referendum tidak menimbulkan perpecahan di tengah masyarakat.

"Saya tidak merasa ada kepahitan," katanya kepada RUV sebelum seluruh suara selesai dihitung.

"Saya tahu emosi memuncak bagi sebagian orang, tetapi saya sudah menghabiskan waktu bersama banyak orang dari seluruh penjuru negeri, dan orang-orang cukup terbuka terhadap hasil yang berbeda-beda."

Referendum tersebut hanya mengajukan pertanyaan sederhana kepada sekitar 265.000 warga yang memiliki hak pilih, yakni apakah Islandia perlu melanjutkan kembali negosiasi untuk bergabung dengan Uni Eropa.

Proses penghitungan suara berlangsung hingga malam dan sempat membuat situasi menegangkan. Kubu "Ya" awalnya unggul dalam perhitungan awal, sebelum akhirnya posisi tersebut berbalik dan kelompok penolak memimpin.

Menjelang pagi, perbedaan suara antara kedua kubu hanya terpaut beberapa ratus suara. Namun, keunggulan pihak penolak kemudian semakin melebar setelah suara dari sejumlah wilayah yang cenderung menolak proposal mulai masuk.

Perdebatan Kepentingan Nasional

Ilustrasi - Sebuah termometer menunjukkan suhu mencapai 37 derajat Celsius di luar kantor pusat Uni Eropa di Brussels, Belgia, Jumat (26/6/2026). <b>(antara)</b> Ilustrasi - Sebuah termometer menunjukkan suhu mencapai 37 derajat Celsius di luar kantor pusat Uni Eropa di Brussels, Belgia, Jumat (26/6/2026). (antara)

Kelompok yang menolak pembukaan kembali negosiasi mengandalkan isu perlindungan sektor perikanan. Mereka juga menilai Islandia telah memperoleh sejumlah keuntungan dari akses ke pasar tunggal UE serta kawasan bebas perjalanan Schengen tanpa harus mengorbankan sebagian kedaulatannya melalui keanggotaan penuh.

Kubu penolak juga berpendapat bahwa pengaruh Islandia akan relatif kecil di Parlemen Eropa yang memiliki banyak anggota. Menurut mereka, Islandia justru lebih baik menjalin kesepakatan perdagangan secara mandiri dengan negara-negara lain, termasuk China.

Sebaliknya, kelompok yang mendukung pembukaan kembali perundingan menilai keanggotaan UE berpotensi membantu menekan inflasi dan suku bunga. Penggunaan mata uang euro juga dianggap dapat memberikan stabilitas yang lebih besar dibandingkan krona Islandia yang selama ini cenderung berfluktuasi.

Pendukung proposal turut berpendapat bahwa Islandia perlu mempererat hubungan dengan negara-negara Eropa lainnya untuk menghadapi berbagai persoalan lintas batas, termasuk perubahan iklim.

Sementara itu, industri perikanan yang memiliki pengaruh besar di Islandia menjadi salah satu kekuatan utama yang menentang proposal tersebut. Mereka khawatir penerapan kebijakan perikanan bersama UE dapat membuka akses perairan Islandia yang kaya sumber daya bagi kapal-kapal pukat dari Spanyol, Belanda, serta negara Eropa lainnya.

HIGHLIGHT

x|close