Ntvnews.id, Jakarta - Persaingan global dalam membangun stasiun misi di Bulan memicu perlunya penetapan standar waktu terpadu di satelit alami Bumi tersebut. Untuk menyikapi isu ini, berbagai negara bersiap menggelar konferensi internasional di Paris.
Negara-negara anggota dijadwalkan membahas kesepakatan tersebut dalam Konferensi Umum tentang Satuan dan Ukuran. Forum yang berwenang menetapkan standar ukuran global ini juga akan mengulas rencana pembangunan stasiun misi permanen serta sistem navigasi di Bulan yang diproyeksikan mulai digenjot pada 2030. Saat ini, China dan Amerika Serikat menjadi pemain utama yang merencanakan pendaratan astronot sekaligus pemanfaatan sumber daya di Bulan.
Penetapan waktu di Bulan memiliki tantangan fisika tersendiri. Berdasarkan teori relativitas umum, waktu di Bulan berjalan lebih cepat sekitar 56 mikrodetik per hari dibandingkan di Bumi. Hal ini terjadi karena gaya gravitasi Bulan hanya seperenam dari gravitasi Bumi.
Perbedaan waktu ini diprediksi dapat menimbulkan kendala serius bagi misi antariksa masa depan. Saat membangun pangkalan di Bulan, operator memerlukan data lokasi presisi. Perhitungan posisi tersebut mengandalkan sinyal satelit yang mengorbit Bulan dengan mekanisme serupa sistem GPS di Bumi. Akurasi waktu menjadi krusial mengingat kekeliruan sebesar 1 mikrodetik saja dapat menggeser perhitungan posisi hingga 300 meter, yang berpotensi mengganggu kerja robot-robot pembangun stasiun.
Baca juga: Hashim: Komunitas Internasional Beri Respons Positif Terhadap Perkembangan Pasar Karbon Indonesia
Manajer Riset di Institut Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional Jepang, Mamoru Sekido, menyatakan bahwa kerja sama internasional untuk mengoordinasikan dan menyatukan standar waktu satelit amat penting bagi keberlangsungan pembangunan di Bulan.
Saat ini, terdapat dua usulan utama yang berkembang untuk menetapkan standar waktu Bulan. Usulan pertama adalah menghitung waktu acuan berdasarkan jam hipotesis yang ditempatkan di pusat massa Bulan. Sementara itu, usulan kedua menawarkan penggunaan jam fisik nyata yang dipasang sejajar pada rata-rata ketinggian permukaan Bulan sebagai acuan, menyerupai metode penentuan standar waktu yang diterapkan di Bumi.
(Sumber: Antara)
Ilustrasi - Bulan berubah warna menjadi merah saat gerhana bulan sebagian di Meksiko, Kamis (27/8/2026). (Antara)