Ntvnews.id, Washington D.C - Mantan Presiden Venezuela Nicolas Maduro, untuk pertama kalinya membagikan foto dirinya setelah ditangkap dan dibawa ke Amerika Serikat (AS). Maduro bersama istrinya, Cilia Flores, 69, telah berada di AS sejak Januari 2026 setelah ditangkap dalam operasi militer AS.
Dalam unggahan tersebut, Maduro menunjukkan sikap tegar selama menjalani penahanan dan menunggu proses persidangan di fasilitas federal AS dengan tingkat keamanan tinggi.
"Saya ingin kalian tahu bahwa kami berdiri teguh, hati kami dipenuhi dengan cinta kalian," tulis Maduro melalui media sosial X dan Telegram, seperti dilansir dari Anadolu Agency, Selasa, 1 September 2026.
Foto yang diunggah pada Minggu, 30 Agustus 2025, itu memperlihatkan Maduro mengenakan pakaian olahraga berwarna abu-abu. Berat badannya juga terlihat turun cukup banyak dibandingkan sebelum dirinya ditangkap.
Foto tersebut sebenarnya diambil pada 25 Juni lalu. Dalam gambar itu, Maduro tampak mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk simbol kemenangan atau victory.
Ia menyebut foto tersebut sebagai "hadiah kecil berupa cinta dan harapan" yang ditujukan kepada cucu-cucunya, anak-anak Venezuela, serta para pendukungnya.
"Kita akan tetap kuat, tenang, dan percaya diri: Tuhan bersama kita. Tuhan akan menyediakan. Venezuela akan terlahir kembali," tulisnya.
Baca Juga: Dialog Politik Pemerintah dan Oposisi Venezuela Dimulai, AS Dorong Transisi
Saat ini, Maduro dan Flores ditahan tanpa jaminan di Metropolitan Detention Center di Brooklyn, New York.
Keduanya menghadapi sejumlah tuntutan pidana federal, termasuk dakwaan terkait terorisme narkoba dan perdagangan narkotika. Jaksa AS menuduh pasangan tersebut bekerja sama dengan kartel narkoba untuk menyelundupkan ribuan ton kokain ke wilayah AS.
Maduro dan Flores telah menyatakan diri tidak bersalah atas dakwaan yang dikenakan kepada mereka. Keduanya dijadwalkan menjalani persidangan pada tahun depan.
"Saya adalah orang yang baik. Saya masih presiden negara saya," tegas Maduro dalam sidang dakwaan yang berlangsung pada Januari lalu.
Ditangkap Januari 2026, Jalani Sidang Juni 2027
Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Sabtu, 3 Januari 2026 mempublikasikan foto Presiden Venezuela Nicolas Maduro (Istimewa)
Hakim pengadilan federal AS baru-baru ini menetapkan persidangan Maduro dan Flores dimulai pada 1 Juni 2027. Penetapan jadwal tersebut merupakan hasil dari permintaan bersama yang diajukan jaksa penuntut dan tim kuasa hukum terdakwa.
Maduro dan Flores dibawa ke AS pada 3 Januari 2026 setelah militer AS melancarkan operasi di Caracas, ibu kota Venezuela.
Dalam persidangan yang berlangsung sekitar 20 menit, Hakim Alvin Hellerstein menetapkan tanggal sidang tersebut setelah menyetujui permintaan dari kedua belah pihak.
Pada penampilan ketiganya di pengadilan AS, Maduro mengenakan seragam tahanan berwarna krem dan berkacamata. Ia tidak memberikan pernyataan selama persidangan selain menyampaikan salam kepada majelis hakim ketika memasuki ruang sidang.
Flores juga hadir dengan pakaian tahanan serupa. Rambut pirangnya diikat ke belakang dan ia duduk beberapa meter dari suaminya. Keduanya didampingi tim pengacara masing-masing.
Di luar gedung pengadilan di Manhattan, sejumlah pendukung Maduro menggelar demonstrasi dengan membawa spanduk bertuliskan "Bebaskan Presiden Maduro" serta mengibarkan bendera Venezuela.
Baca Juga: Gempa Dahsyat Venezuela Telan Lebih dari 6.100 Jiwa, Angka Korban Masih Terus Bertambah
Sementara itu, kelompok yang berseberangan membawa poster yang menyebut Maduro dan Flores sebagai "diktator".
Hakim Hellerstein juga menetapkan agenda persidangan berikutnya pada 17 November 2026. Sidang tersebut akan membahas sejumlah mosi dari pihak pembela, termasuk keberatan terhadap keabsahan proses penangkapan Maduro dan Flores.
Sejak Maduro ditangkap, pemerintahan Venezuela dijalankan oleh mantan wakil presidennya, Delcy Rodriguez. Pada saat yang sama, AS disebut telah mengambil kendali efektif atas ekspor minyak Venezuela, dengan pendapatan dari penjualan tersebut ditempatkan dalam rekening khusus yang berada di bawah pengawasan Washington.
Dakwaan yang Dihadapi Maduro
Jaksa AS menuduh Maduro menggunakan kekuasaannya untuk melindungi sekaligus mendorong aktivitas penyelundupan narkoba. Ia juga dituding menjalin kerja sama dengan kartel narkotika untuk mengirimkan kokain dalam jumlah besar ke AS.
Maduro membantah empat dakwaan yang dikenakan kepadanya. Dakwaan tersebut mencakup konspirasi "narko-terorisme", konspirasi impor kokain, kepemilikan senapan mesin dan perangkat peledak, serta konspirasi kepemilikan senapan mesin dan perangkat peledak.
Sementara itu, Flores menyatakan tidak bersalah atas tiga dakwaan, yakni konspirasi impor kokain, kepemilikan senapan mesin dan perangkat peledak, serta konspirasi kepemilikan senapan mesin dan perangkat peledak.
Pada April 2026, pemerintah AS memberikan izin kepada Venezuela untuk membiayai kebutuhan pembelaan hukum Maduro dan Flores. Sebelumnya, akses pendanaan tersebut sempat terhambat akibat sanksi ekonomi yang diberlakukan AS terhadap Venezuela.
Sebelum izin tersebut diberikan, Maduro dan Flores sempat meminta agar perkara mereka dibatalkan. Mereka beralasan bahwa pembatasan akses terhadap dana untuk membayar pengacara telah melanggar hak konstitusional di AS untuk memilih penasihat hukum.
Mantan Presiden Venezuela Nicolas Maduro, (Istimewa)