Rekor, Lebih dari 5.000 Orang Tewas akibat Gelombang Panas di Spanyol

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 2 Sep 2026, 06:46
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Seorang wanita berjalan di bawah sinar matahari saat gelombang panas dengan suhu mendekati 40 derajat Celsius di Duisburg, Jerman, Rabu, 24 Juni 2026. Seorang wanita berjalan di bawah sinar matahari saat gelombang panas dengan suhu mendekati 40 derajat Celsius di Duisburg, Jerman, Rabu, 24 Juni 2026. (Antara)

Ntvnews.id, Madrid - Lebih dari 5.000 orang di Spanyol diperkirakan meninggal dunia akibat gelombang panas yang melanda negara tersebut sepanjang Juni hingga Agustus 2026. Jumlah tersebut menjadi yang tertinggi sejak pencatatan data dimulai pada 2015.

Data tersebut disampaikan otoritas kesehatan masyarakat Spanyol, Gelombang panas ekstrem yang terjadi selama musim panas juga dikaitkan dengan ribuan kematian tambahan di sejumlah wilayah Eropa.

Dilansir dari AFP, Rabu, 2 September 2026, Institut Kesehatan Carlos III mencatat angka kematian terkait panas di Spanyol selama periode Juni-Agustus 2026 melampaui rekor sebelumnya. Pada periode yang sama 2022, tercatat 4.652 kematian.

Jumlah terbaru tersebut juga jauh lebih tinggi dibandingkan 3.651 kematian pada periode yang sama tahun 2025 dan 1.977 kematian pada 2024.

Perkiraan jumlah korban diperoleh melalui Sistem Pemantauan Kematian Spanyol atau MoMo. Sistem tersebut memantau jumlah kematian harian di seluruh wilayah Spanyol dan membandingkannya dengan pola kematian pada periode sebelumnya.

Baca Juga: Gelombang Panas Makin Parah, 78 Wilayah Prancis Siaga

MoMo turut mempertimbangkan berbagai faktor eksternal, termasuk kondisi cuaca yang diperoleh dari badan meteorologi nasional Spanyol, AEMET. Data tersebut digunakan untuk memperkirakan kemungkinan faktor yang berkontribusi terhadap peningkatan angka kematian.

Meski demikian, sistem MoMo tidak dapat memastikan secara langsung bahwa setiap kematian disebabkan oleh paparan suhu tinggi. Namun, metode tersebut dianggap sebagai salah satu perkiraan paling dapat diandalkan untuk mengidentifikasi kematian ketika cuaca panas diduga menjadi faktor penyebab.

Sebagian besar kematian tambahan selama periode gelombang panas berkaitan dengan gangguan kesehatan seperti serangan jantung dan stroke. Kondisi tersebut dapat terjadi karena tubuh bekerja lebih keras untuk mempertahankan suhu internal tetap stabil ketika menghadapi temperatur ekstrem.

Para ilmuwan sebelumnya telah memperingatkan bahwa perubahan iklim akibat aktivitas manusia, khususnya pembakaran bahan bakar fosil, turut meningkatkan intensitas gelombang panas di Eropa. Fenomena tersebut diperkirakan membuat gelombang panas menjadi lebih panjang, lebih ekstrem, dan lebih sering terjadi.

AEMET melaporkan bahwa Juli 2026 menjadi bulan terpanas kedua yang pernah tercatat di wilayah daratan Spanyol sejak pencatatan suhu dimulai pada 1961.

TERKINI

Dubes Rusia Soal WNI yang Jadi Tentara Bayaran

Luar Negeri Rabu, 2 Sep 2026 | 07:45 WIB

Mendaki di Tengah Suhu 50 Derajat Celsius, Dua Pria Tewas

Luar Negeri Rabu, 2 Sep 2026 | 07:15 WIB

Prabowo Bakal Jadi Tamu Utama EEF Rusia

Luar Negeri Rabu, 2 Sep 2026 | 07:10 WIB

Kampus di AS Buka Jurusan Influencer, Apa yang Dipelajari?

Luar Negeri Rabu, 2 Sep 2026 | 07:00 WIB

Prabowo Dijadwalkan Bertemu Putin di Rusia 3 September

Luar Negeri Rabu, 2 Sep 2026 | 06:57 WIB

Ngeri, Laptop Penumpang Terbakar di Dalam Pesawat

Luar Negeri Rabu, 2 Sep 2026 | 06:55 WIB
Load More

HIGHLIGHT

x|close