Sebanyak 88 Santri Ponpes Sidoarjo Masih Jalani Perawatan Akibat Keracunan Makanan

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 2 Sep 2026, 20:10
thumbnail-author
Naila Fadhilah
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Bupati Sidoarjo Subandi mengunjungi SPPG Kali Tengah di Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo, Rabu (2/9) guna melakukan pengecekan terkait izin dan operasional dapur, usai kejadian dugaan keracunan yang dialami ratusan santri Ponpes Manba'ul Hikam Sidoarjo pada Selasa (1/9). Bupati Sidoarjo Subandi mengunjungi SPPG Kali Tengah di Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo, Rabu (2/9) guna melakukan pengecekan terkait izin dan operasional dapur, usai kejadian dugaan keracunan yang dialami ratusan santri Ponpes Manba'ul Hikam Sidoarjo pada Selasa (1/9). (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta -Sebanyak 88 santri Pondok Pesantren (Ponpes) Manba'ul Hikam Sidoarjo hingga Rabu masih menjalani perawatan medis di sejumlah rumah sakit daerah maupun swasta usai mengalami dugaan keracunan makanan pada Selasa (1/9). Insiden ini mencatat total korban sebanyak 566 santri, dengan 478 di antaranya sudah kembali ke rumah masing-masing.

Bupati Sidoarjo Subandi mengonfirmasi kondisi para korban usai meninjau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kali Tengah di Kecamatan Tanggulangin. Ia memastikan seluruh santri korban keracunan telah ditangani dengan baik dan mayoritas pasien berada dalam kondisi yang relatif stabil.

"Tersisa 88 orang yang masih di rawat di sejumlah rumah sakit di Sidoarjo sejak Selasa (1/9). Jadi, total korban dari pihak ponpes sebanyak 566 santri, sedangkan sebanyak 478 santri sudah kembali ke rumah masing-masing," kata Subandi setelah mengunjungi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kali Tengah di Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur, Rabu (2/9).

Investigasi atas insiden ini turut membongkar persoalan perizinan operasional dapur penyedia makanan di Sidoarjo. Pemkab Sidoarjo mencatat dari total 170 SPPG yang beroperasi, terdapat 31 unit yang ternyata belum mengantongi izin resmi. Meski SPPG Kali Tengah tercatat sudah memiliki izin, temuan puluhan penyedia jasa tanpa izin tersebut langsung dilaporkan ke Badan Gizi Nasional (BGN).
 

"Total SPPG yang beroperasi di Sidoarjo sebanyak 170 dan 31 diantaranya belum mengantongi izin. Temuan ini sudah kami laporkan ke Badan Gizi Nasional (BGN) agar ditindaklanjuti, sehingga kejadian serupa tidak terulang dan tidak mengganggu program prioritas pemerintah yang baik," kata Subandi.

Merespons peristiwa tersebut, BGN mengambil langkah tegas dengan membekukan sementara operasional SPPG Kali Tengah sejak Rabu (2/9) guna mempermudah proses investigasi. Wakil Koordinator BGN Regional Jawa Timur Teguh Bayu Wibowo menyampaikan bahwa pihaknya telah berkoordinasi langsung dengan Kepala BGN Sudaryono.

"Akan ada investigasi dari BGN pusat apakah akan ada suspend ringan atau berat terkait operasional SPPG tersebut," kata Teguh.

Guna memastikan penyebab pasti keracunan massal ini, BGN masih menunggu hasil uji laboratorium terhadap sampel makanan yang disajikan kepada para santri. Kepastian mengenai status dan sanksi bagi SPPG terkait diperkirakan keluar paling cepat dalam satu minggu ke depan.
 
 
(Sumber: Antara)
 

HIGHLIGHT

x|close