Ntvnews.id, Jakarta -Epidemi Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC) terus menunjukkan tren peningkatan yang mengkhawatirkan. Institut Kesehatan Masyarakat Nasional Kongo (INSP) melaporkan bahwa total kasus terkonfirmasi kini telah menyentuh angka 6.186, dengan akumulasi korban jiwa mencapai 3.007 orang sejak wabah pertama kali merebak.
Laju penularan virus ini masih tergolong tinggi. "Dalam 24 jam terakhir, tercatat 86 kasus baru dan 57 kematian. Dengan demikian, total kasus mencapai 6.186, dengan 3.007 kematian sejak wabah dimulai," kata INSP dalam laporan hariannya.
Kendati demikian, statistik resmi tersebut diperkirakan belum menggambarkan skala krisis yang sebenarnya di lapangan. Berdasarkan penilaian para dokter dan pekerja kemanusiaan yang diwawancarai The Washington Post di Provinsi Ituri dan Kivu Utara, banyak warga terinfeksi yang akhirnya meninggal dunia di luar fasilitas kesehatan tanpa terdata.
Penanganan krisis kesehatan ini kian kompleks lantaran dipicu oleh jenis baru virus Ebola, yakni Bundibugyo. Hingga saat ini, belum ada vaksin maupun metode pengobatan yang secara resmi mengantongi izin lisensi untuk mengatasi strain tersebut.
Meski demikian, data laboratorium menunjukkan adanya potensi dari vaksin Ebola Ervebo yang dapat memberikan perlindungan terhadap penyakit tersebut. Guna menahan laju penyebaran, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan telah mengirimkan 70 ribu dosis vaksin Ervebo ke Kongo pada 20 Agustus lalu. Pasokan vaksin ini diprioritaskan untuk melindungi tenaga kesehatan yang bertugas sekaligus difungsikan bagi keperluan uji klinis.
Arsip foto - Para sukarelawan muda melakukan disinfeksi terhadap jenazah korban virus Ebola sebelum dimakamkan di kota Kenema, Sierra Leone, pada 24 Agustus 2014. (Antara)