Pramono Dorong Jakarta Jadi Simpul Utama Ekosistem Perkopian Indonesia

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 4 Sep 2026, 13:23
thumbnail-author
Adiansyah
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Pramono Anung Pramono Anung (Pemprov DKI)

Ntvnews.id, Jakarta - Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung ingin menjadikan Jakarta sebagai simpul utama ekosistem perkopian Indonesia. Tak sekadar menjadi pusat konsumsi kopi, Jakarta didorong berkembang sebagai ruang promosi, perdagangan, kolaborasi, hingga pintu masuk industri kopi Nusantara menuju pasar global.

Hal tersebut disampaikan Pramono saat membuka Indonesia Coffee Expo (ICX) Jakarta 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Tanah Abang, Jakarta Pusat, Jumat, 4 Agustus 2026.

Politisi PDI Perjuangan tersebut menilai, Jakarta memiliki posisi strategis untuk mempertemukan kekayaan kopi Indonesia dengan pelaku industri, konsumen, investor, hingga pasar internasional.

"Pemerintah Provinsi DKI Jakarta secara serius dan sungguh-sungguh ingin mendorong bahwa Jakarta bisa menjadi simpul utama bagi ekosistem perkopian Indonesia. Kita memiliki keanekaragaman varietas kopi yang luar biasa dari Sabang sampai Merauke, dan jika dikemas melalui kolaborasi terencana, tentu dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi daerah akan sangat besar," katanya.

Menurutnya, Indonesia punya kekayaan varietas kopi yang sangat besar, terbentang dari Sabang hingga Merauke. Potensi tersebut, kata dia, dapat memberikan dampak ekonomi yang signifikan apabila dikelola melalui kolaborasi yang terencana antara pemerintah, pelaku usaha, petani, komunitas, dan industri.

Baca Juga: Pramono: Program Pilah Sampah Kurangi Kiriman ke Bantargebang 500 Ton per Hari

Ia mengatakan potensi industri kopi di Jakarta tidak hanya berasal dari sisi produksi dan perdagangan, tetapi juga ditopang pertumbuhan industri hilir.

Menjamurnya kedai kopi, kafe, restoran, hingga komunitas pencinta kopi turut membentuk ekosistem bisnis yang semakin besar. Saat ini, aktivitas usaha yang berkaitan dengan sektor tersebut disebut telah melibatkan hampir 193.000 pelaku usaha.

Perubahan gaya hidup masyarakat, khususnya generasi muda, juga menjadi salah satu faktor pendorong pertumbuhan industri kopi di Ibu Kota.

Menurut Pramono, budaya menikmati kopi kini berkembang menjadi bagian dari aktivitas masyarakat di ruang publik maupun komunitas. Konsep membeli kopi untuk segera dibawa dan dikonsumsi di tengah kesibukan sehari-hari semakin populer.

"Penikmat kopi, terutama generasi muda, telah membentuk budaya baru dengan konsep beli lekas bawa pulang di sela-sela aktivitas ruang publik maupun komunitas. Ditopang stabilitas ekonomi Jakarta yang menyumbang 16,32 persen terhadap Produk Domestik Bruto nasional dengan laju inflasi rendah sebesar 2,5 persen, ekosistem usaha kopi memiliki fondasi yang sangat kokoh untuk terus berkembang," ungkapnya.

Pramono menambahkan, kondisi ekonomi Jakarta yang relatif stabil menjadi salah satu fondasi bagi pertumbuhan sektor usaha tersebut. Jakarta disebut berkontribusi sekitar 16,32 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, dengan tingkat inflasi yang berada di angka 2,5 persen.

Baca Juga: Tarif LRT Kelapa Gading-Manggarai Rp5.000 Usai Diresmikan, Pramono: Berlaku 1-2 Bulan

Pramono juga menyoroti keberagaman kopi Indonesia yang menurutnya menjadi keunggulan tersendiri ketika berhadapan dengan pasar internasional.

Sejumlah kopi khas daerah seperti Gayo, Luwak, Toraja, Flores Bajawa, Kintamani, dan Mandailing memiliki karakter serta cita rasa yang berbeda.

Keberagaman tersebut dinilai menjadi modal besar bagi Indonesia untuk memperkuat posisi sebagai salah satu negara penting dalam industri kopi dunia.

Pramono bahkan membandingkan kekayaan kopi Indonesia dengan pengalaman saat mencicipi kopi Tanzania ketika menerima delegasi negara tersebut.

"Saya sempat mencicipi kopi dari Tanzania saat menerima delegasi mereka, di mana mereka hanya mengandalkan satu varietas, sangat berbeda dengan kekayaan rasa kopi lokal kita yang sangat beragam dan kaya karakter. Kehadiran lebih dari 120 stan pameran dalam perhelatan ini membuktikan optimisme bahwa industri kopi nasional memiliki daya saing yang sangat unggul di tingkat internasional," tuturnya.

Menurut Pramono, kehadiran lebih dari 120 stan dalam ICX Jakarta 2026 menunjukkan tingginya optimisme terhadap masa depan industri kopi nasional.

Pemprov DKI Jakarta juga membuka peluang untuk mendukung berbagai agenda industri kopi berskala internasional di Ibu Kota.

Pramono secara khusus mendorong Specialty Coffee Association of Indonesia (SCAI) agar kembali membawa ajang World of Coffee ke Jakarta sebelum 2030.

Bahkan, ia menyebut Mei 2029 sebagai salah satu waktu yang diharapkan dapat dipertimbangkan untuk penyelenggaraan ajang tersebut.

"Pemprov DKI siap memberikan dukungan penuh, termasuk asistensi kebijakan dan kemudahan lainnya. Jakarta harus terus menjadi wadah pertemuan ide, kreativitas, dan inovasi lintas sektor agar potensi industri kopi nasional dapat dikembangkan secara megah dan berdaya saing luas," kata Pramono.

x|close