Update Bencana di Nepal-China: 1.280 Tewas dan 5.260 Orang Hilang

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 4 Sep 2026, 15:35
thumbnail-author
Naila Fadhilah
Penulis
thumbnail-author
Siti Ruqoyah
Editor
Bagikan
Warga menangis saat mengikuti upacara pemakaman simbolis untuk kerabat mereka yang hilang karena banjir bandang di Kuil Pashupatinath, Kathmandu, Nepal, Rabu (2/9/2026). Warga menangis saat mengikuti upacara pemakaman simbolis untuk kerabat mereka yang hilang karena banjir bandang di Kuil Pashupatinath, Kathmandu, Nepal, Rabu (2/9/2026). (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta -Jumlah korban tewas akibat banjir bandang dahsyat yang melanda wilayah perbatasan Nepal dan China bertambah menjadi 1.280 orang per Kamis (3/9/2026). Sementara itu, lebih dari 5.620 orang masih dinyatakan hilang dalam operasi pencarian dan penyelamatan yang kini telah memasuki pekan kedua.

Badan Nasional Pengurangan Risiko dan Penanggulangan Bencana Nepal mencatat 1.259 korban jiwa di wilayahnya, dengan 5.083 orang yang masih belum ditemukan. Jumlah korban hilang tersebut mencakup 583 warga negara asing. Demi memperluas jangkauan pencarian, lebih dari 21.400 personel keamanan telah dikerahkan ke lokasi terdampak.

Sementara di negara tetangga, China, pihak berwenang setempat melaporkan 21 korban tewas dan 541 orang masih hilang, termasuk 261 warga asing.

Duka mendalam menyelimuti Rasuwa, salah satu daerah terdampak paling parah. Sejumlah keluarga korban hilang memilih menggelar upacara pemakaman simbolis untuk kerabat tercinta mereka.
 

Menurut laporan Kathmandu Post, hal itu dilakukan karena para keluarga telah kehilangan harapan untuk menemukan jenazah kerabat mereka yang hilang karena banjir bandang. Mereka membuat patung pemakaman dari kaas-kush atau rumput suci dan melakukan ritual untuk membebaskan jiwa kerabat mereka yang hilang.

Pada Rabu (2/9/2026), puluhan patung tersebut dikremasi dalam upacara pemakaman massal di Kuil Pashupati Aryaghat, yang terletak di tepi Sungai Bagmati, Kathmandu.

Kondisi memprihatinkan juga terjadi di Chitwan, daerah terdampak parah lainnya. Otoritas setempat membakar jasad-jasad yang tak dikenali setelah mengumpulkan sampel DNA mereka. Langkah ini terpaksa diambil karena besarnya jumlah korban yang membuat proses identifikasi dan penyimpanan jasad menjadi amat sulit.

Banyaknya korban yang kehilangan seluruh harta benda dan rumah mengeluhkan minimnya sarana. Tak sedikit korban banjir di sejumlah distrik yang tidak memiliki tempat layak untuk melangsungkan ritual pemakaman karena banjir bandang menghanyutkan kerabat dan rumah mereka. Para korban yang sedang berupaya mencari tempat di Kathmandu juga tak dapat menemukan fasilitas publik yang layak untuk melakukan ritual.
 

Di tengah situasi darurat, personel militer, kepolisian, dan tim gabungan terus melanjutkan operasi pencarian dan penyelamatan. Namun, mereka menghadapi kesulitan karena masih terputusnya jalan, pasokan listrik, dan jaringan komunikasi. Tim SAR juga terus berupaya mengantarkan bantuan kemanusiaan serta menjaga kebersihan di tempat-tempat pengungsian demi menekan risiko penyakit menular.

Banjir bandang ini bermula saat gletser pada ketinggian 5.200 meter pecah dari Gunung Langtang Lirung di Nepal pada 26 Agustus lalu. Pecahan gletser itu mengakibatkan longsor es dan bebatuan yang mengalir membawa puing-puing serta menyapu lembah-lembah di perbatasan.

Hantaman banjir bandang dan longsor lumpur tersebut menghancurkan distrik Rasuwa, Nuwakot, Dhading, dan Kavre, hingga merusak Lembah Kathmandu serta mengubur titik lintas batas Gyirong di bagian barat daya Kawasan Otonom Xizang (Tibet).
 
 
(Sumber: Antara)
 
x|close