A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: Invalid argument supplied for foreach()

Filename: libraries/General.php

Line Number: 87

Backtrace:

File: /www/ntvweb/application/libraries/General.php
Line: 87
Function: _error_handler

File: /www/ntvweb/application/controllers/Read.php
Line: 64
Function: popular

File: /www/ntvweb/index.php
Line: 326
Function: require_once

Akselerasi Vaksin 100 Hari: Langkah BPOM Mencegah Pandemi Baru - Ntvnews.id

Akselerasi Vaksin 100 Hari: Langkah BPOM Mencegah Pandemi Baru

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 5 Sep 2026, 19:30
thumbnail-author
Naila Fadhilah
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Taruna Ikrar. Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Taruna Ikrar. (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta -Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) tengah mengupayakan akselerasi pengembangan vaksin agar dapat selesai dalam waktu 100 hari demi memitigasi risiko pandemi di masa depan. Gagasan ini dimatangkan melalui simulasi bertajuk Table Top Exercise (TTX): “100 Days Mission in Indonesia Project”.

Inisiatif Misi 100 Hari (100 Days Mission) merupakan langkah ambisius yang dipelopori oleh Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI) dengan dukungan negara-negara G7 dan G20. Program ini dirancang untuk mempercepat pembuatan vaksin dalam menghadapi ancaman patogen baru sejak pertama kali teridentifikasi, hingga siap mendapatkan otorisasi awal serta diproduksi secara massal.

Kepala BPOM Taruna Ikrar menyampaikan di Jakarta pada Jumat (4/9) bahwa target 100 hari ini setara dengan sepertiga dari durasi yang dibutuhkan saat memproduksi vaksin COVID-19 pertama. Komitmen ini sekaligus memperkuat kesiapsiagaan pandemi yang terintegrasi ke dalam kebijakan dan sistem operasional nasional, tanpa mengorbankan standar keamanan, efikasi, maupun mutu produk.

“Pandemi tidak memberikan peringatan. Kesiapsiagaan tidak boleh dibangun saat pandemi telah terjadi, tetapi harus dikoordinasikan dan diuji sebelum ancaman muncul,” ujar Taruna Ikrar dalam sambutannya.
 

Ia menilai kolaborasi erat antara akademisi, industri, dan pemerintah atau konsep Academia, Business, and Government (ABG) menjadi kunci utama dalam membangun ekosistem kesehatan yang efektif.

Penguatan dari sisi hulu juga terus dilakukan. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan bahwa pemerintah sedang memperkokoh subsistem surveilans nasional. Melalui 10.000 fasilitas kesehatan primer, Indonesia mengintegrasikan teknologi genome sequencing dan point-of-care testing guna mendeteksi potensi ancaman patogen sejak dini. Menurutnya, investasi pada sistem kesehatan jauh lebih berharga demi menyelamatkan nyawa manusia.

"Jika kita mengetahui bahwa sesuatu dapat membunuh jutaan atau bahkan miliaran manusia, maka kita harus mempersiapkan diri. Kita harus menginvestasikan lebih banyak uang dan sumber daya untuk menyelamatkan manusia," ujarnya.

Upaya Indonesia tersebut mendapat apresiasi dari Chief Executive Officer CEPI Richard Hatchett. Ia menyoroti posisi strategis Indonesia yang kini telah berstatus WHO-Listed Authority (WLA). Richard menilai kapasitas regulasi dan manufaktur nasional mampu menjadi tulang punggung keamanan kesehatan di tingkat regional, sekaligus mendukung ketercapaian target Misi 100 Hari. Bagi Richard, tenggat 100 hari bukan sekadar ambisi teknologi, melainkan penentu apakah sebuah wabah dapat dilokalisasi atau justru meluas menjadi krisis global.
 

Sementara itu, Deputy WHO Representative Tara Kessaram mengingatkan pentingnya aspek keadilan dalam meluncurkan inovasi kesehatan. Kecepatan pengembangan teknologi harus berjalan sejajar dengan pemerataan distribusi.

"Keberhasilan tidak diukur dari seberapa cepat vaksin dikembangkan, tetapi seberapa cepat vaksin tersebut menjangkau orang yang paling membutuhkan," kata Tara.

Tara menambahkan bahwa seluruh elemen mulai dari surveilans, penelitian, regulasi, manufaktur, rantai pasok, hingga pelayanan kesehatan harus bergerak terpadu dalam satu ekosistem. Seluruh mekanisme koordinasi dan pengambilan keputusan idealnya telah diuji dan siap sebelum kondisi darurat benar-benar terjadi.

Uji coba kesiapan itu diwujudkan dalam simulasi TTX yang berlangsung selama dua hari hingga Jumat. Agenda ini melibatkan lintas sektor, seperti BPOM, Kementerian Kesehatan, Kementerian Pertanian, Kementerian Luar Negeri, hingga Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Elemen periset klinis, perguruan tinggi, serta industri vaksin dalam negeri turut ambil bagian.

Selama kegiatan berlangsung, para peserta dipandu oleh fasilitator untuk merespons skenario wabah hipotetis yang disesuaikan dengan unsur fungsional Misi 100 Hari. Pada setiap tahapan, fasilitator memberikan pembaruan situasi sekaligus melemparkan pemantik diskusi guna membedah rencana, kapasitas, dan kerangka kerja yang ada.
 

Melalui dinamika tersebut, potensi celah, hambatan, maupun pemikiran yang berbeda antarlembaga dapat dipetakan sejak awal. Simulasi ini dirancang menyerupai kondisi krisis nyata agar seluruh pemangku kepentingan mampu merespons dengan cepat, solid, dan terkoordinasi saat menghadapi ancaman pandemi di masa depan.
 
(Sumber: Antara)
 
x|close