Ntvnews.id, Tel Aviv - Israel kembali melontarkan peringatan kepada Inggris terkait kemungkinan London memberlakukan sanksi ekonomi terhadap Tel Aviv. Menteri Luar Negeri Israel Gideon Sa'ar menegaskan negaranya akan mengambil langkah balasan jika sanksi tersebut benar-benar diterapkan.
Dalam wawancara dengan media Israel Ynet pada Selasa, 8 September 2026, Sa'ar membahas hubungan Israel dan Inggris yang semakin memburuk. Ketegangan kedua negara meningkat setelah Israel berencana memperluas permukiman di wilayah Tepi Barat yang diduduki.
Dilansir dari Middle East Eye, Selasa, 8 September 2026, Sa'ar menuding pemerintahan Inggris yang dipimpin Partai Buruh melakukan berbagai kebijakan yang dinilainya merugikan Israel. Ia mengatakan pemerintah Inggris "bertindak secara sistematis melawan Israel."
Menurut Sa'ar, kebijakan London juga "telah merugikan ekspor pertahanan ke negara kami dan menjatuhkan sanksi terhadap para menteri."
Inggris sebelumnya telah menjatuhkan sanksi terhadap dua menteri sayap kanan Israel, Itamar Ben Gvir dan Bezalel Smotrich, pada Juni 2025. Sanksi tersebut diberlakukan karena keduanya dituding mendorong kekerasan yang dilakukan para pemukim terhadap warga Palestina di tengah perang Israel di Gaza.
Sa'ar kemudian menyampaikan ancaman secara terbuka jika Inggris mengambil langkah lebih jauh dengan menjatuhkan sanksi terhadap Israel.
Baca Juga: WNA Asal Inggris Ditemukan Tewas di Hotel Lampung
"Jika Inggris bertindak melawan Israel, Israel akan bertindak melawan Inggris," ujar Sa'ar, dikutip dari Middle East Eye.
"Mereka akan melakukan kesalahan besar," ia menambahkan.
Sa'ar mengungkapkan bahwa pemerintah Israel telah mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan sanksi dari Inggris. Tel Aviv juga disebut tengah merancang sejumlah langkah yang akan diterapkan sebagai respons terhadap kebijakan London.
Hubungan kedua negara kembali memanas setelah Sa'ar dan Menteri Luar Negeri Inggris Ed Miliband saling melontarkan kritik terkait rencana Israel memperluas permukiman di kawasan E1, Tepi Barat yang diduduki.
Rencana tersebut menuai kontroversi karena kawasan E1 dinilai memiliki posisi strategis dan perluasan permukiman di wilayah itu mendapat penolakan dari berbagai pihak internasional.
Ilustrasi - Bendera Inggris terlihat dengan latar belakang Big Ben di London, Inggris (Antara)