Prediksi Perang AS-Iran Bisa Berlanjut 6 Bulan Lagi

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 9 Sep 2026, 05:30
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Ilustrasi - Bendera negara Iran dan Amerika Serikat Ilustrasi - Bendera negara Iran dan Amerika Serikat (Antara)

Ntvnews.id, Washington D.C - Mantan Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS) Leon Panetta memperkirakan konflik antara Washington dan Iran masih berpotensi berlangsung hingga enam bulan ke depan tanpa adanya penyelesaian. Menurutnya, AS dan Iran kini berada dalam situasi buntu sehingga belum terlihat jalur yang jelas untuk mengakhiri peperangan.

Panetta menilai konflik yang telah berlangsung lebih dari enam bulan tersebut berisiko berkembang menjadi perang AS berkepanjangan lainnya di kawasan Timur Tengah. Kondisi itu dinilai memiliki kemiripan dengan pengalaman Washington dalam perang di Irak dan Afghanistan.

Menurut Panetta, AS dan Iran telah berada pada tahap ketika kedua pihak hanya memiliki sedikit pilihan yang realistis untuk menghentikan pertempuran. Jika kebuntuan tersebut terus berlangsung, konflik dikhawatirkan semakin sulit diselesaikan.

"Skenario yang paling mungkin adalah perang ini akan berlanjut selama enam bulan lagi tanpa terselesaikan," ujarnya, dikutip dari Turkiye Today, Rabu, 9 September 2026.

Panetta mengatakan Presiden AS Donald Trump saat ini menghadapi pilihan yang terbatas. Menurutnya, Trump berada dalam posisi sulit karena sejumlah keputusan sebelumnya telah membatasi ruang gerak pemerintahannya dalam menangani perang tersebut.

Ia kemudian menguraikan tiga kemungkinan yang dapat ditempuh pemerintahan AS untuk menghadapi situasi tersebut.

Pilihan pertama adalah Washington menghentikan keterlibatannya dalam perang dan mengakui bahwa operasi militernya tidak berhasil mencapai tujuan. Namun, Panetta menilai opsi tersebut kecil kemungkinan dipilih Trump.

Baca Juga: Kemenangan Bersejarah Partai Sayap kanan di Jerman Picu Kekhawatiran Politisi Eropa

Alternatif kedua adalah mempertahankan kondisi kebuntuan seperti sekarang. Dalam skenario tersebut, AS dan Iran kemungkinan akan terus melancarkan serangan secara berkala sembari berusaha mencegah konflik berkembang menjadi peperangan yang lebih besar.

Panetta memperingatkan bahwa pola seperti itu justru dapat membuat konflik berlangsung dalam waktu lama di Timur Tengah. Kondisi tersebut dinilai bertentangan dengan kepentingan seluruh pihak yang menginginkan perang segera berakhir.

Sementara opsi ketiga adalah AS mengambil kendali atas Selat Hormuz. Langkah tersebut ditujukan untuk menghilangkan salah satu sumber pengaruh terbesar Iran, yakni kemampuan Teheran untuk menutup atau mengganggu jalur perdagangan internasional yang strategis tersebut.

AS Dinilai Perlu Mengubah Strategi

Rudal Zolfaghar dan Qadr, serta model logam kapal selam mini, dipamerkan di Lapangan Azadi di Teheran, Iran, pada 24 Juli 2026, di tengah kian memanasnya aksi saling serang antara Iran dan AS yang dipicu oleh jalur pelayaran paralel di Selat Hormuz.  <b>(Antara)</b> Rudal Zolfaghar dan Qadr, serta model logam kapal selam mini, dipamerkan di Lapangan Azadi di Teheran, Iran, pada 24 Juli 2026, di tengah kian memanasnya aksi saling serang antara Iran dan AS yang dipicu oleh jalur pelayaran paralel di Selat Hormuz. (Antara)

Panetta berpendapat bahwa jika AS ingin mencapai kemenangan, Washington perlu melakukan perubahan besar terhadap strategi perangnya. Salah satu prioritas utama yang menurutnya harus dilakukan adalah memastikan Selat Hormuz kembali terbuka.

Ia juga mengkritik pernyataan Trump yang berulang kali menyebut kesepakatan untuk mengakhiri konflik sudah semakin dekat dan Selat Hormuz telah terbuka.

Menurut Panetta, pernyataan semacam itu justru dapat mengikis kredibilitas Trump sebagai presiden karena kondisi di lapangan belum menunjukkan perkembangan seperti yang diklaim.

Ketegangan antara AS dan Iran meningkat sejak serangan AS-Israel terhadap Iran dimulai pada 28 Februari. Teheran kemudian merespons dengan melancarkan serangan menggunakan rudal dan pesawat tanpa awak terhadap berbagai kepentingan AS di kawasan tersebut.

Pada Juni, Iran dan AS menandatangani nota kesepahaman yang prosesnya dimediasi oleh Pakistan dan Qatar. Namun, hubungan kedua negara tetap tegang setelah masing-masing pihak saling menuduh tidak menjalankan komitmen yang telah disepakati dalam memorandum tersebut.

Ketegangan militer pun masih berlangsung bersamaan dengan perselisihan mengenai pemberlakuan sanksi serta akses dan aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz.

x|close