Ntvnews.id, Washingtong D.C - Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menjadi sorotan setelah mengunggah peta yang menampilkan Amerika Serikat, Kanada, Islandia, hingga Greenland dengan balutan bendera AS pada Selasa, 8 September 2026. Unggahan tersebut memicu kemarahan pemerintah Islandia.
Pemerintah Islandia kemudian memanggil Duta Besar AS untuk Islandia, Billy Long, guna meminta penjelasan terkait unggahan Trump yang menampilkan wilayah Islandia dengan bendera Amerika Serikat.
Selain memanggil Dubes AS, pemerintah Reykjavik juga menyampaikan keberatan secara langsung atas unggahan Trump yang dibagikan melalui media sosial tersebut.
"Dalam pertemuan tersebut, ditegaskan bahwa unggahan itu sama sekali tidak pantas," demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Islandia, dikutip dari Anadolu, Rabu, 9 September 2026.
Dalam gambar yang diunggah Trump, wilayah Amerika Serikat, Kanada, Greenland, Islandia, hingga kawasan Amerika Tengah terlihat tertutup oleh bendera AS. Trump membagikan gambar tersebut tanpa memberikan keterangan atau penjelasan mengenai maksud unggahannya.
Kontroversi itu muncul ketika Trump berulang kali menyampaikan keinginannya untuk menguasai Greenland, wilayah otonom yang berada di bawah Kerajaan Denmark.
Baca Juga: Trump Kirim Utusan ke Moskow-Kyiv Bawa Proposal Perdamaian Rusia-Ukraina
Sepanjang tahun ini, Trump beberapa kali menyebut Islandia ketika membahas Greenland, termasuk dalam pernyataannya di Forum Ekonomi Dunia di Davos dan di Gedung Putih, seperti dilansir Anadolu Agency.
Pihak Gedung Putih sebelumnya membantah anggapan bahwa Trump keliru membedakan Islandia dengan Greenland. Namun, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio kemudian mengakui bahwa Trump memang sempat tertukar antara kedua wilayah tersebut.
Sebelumnya, Trump juga pernah mengunggah sejumlah gambar yang memperlihatkan Greenland berada di bawah bendera Amerika Serikat maupun menggunakan simbol-simbol AS lainnya.
Unggahan terbaru Trump kembali mendapat kecaman dari masyarakat Islandia. Sonja Thorbergsdottir, Ketua Federasi Pegawai Negara dan Kota, menilai tindakan Trump tersebut tidak menunjukkan sikap yang pantas dalam hubungan antarnegara.
Ia menyebut tindakan tersebut "tidak menghargai."
"Bukan begini seharusnya cara bangsa yang beradab bersikap satu sama lain," ujarnya.
Ilustrasi - Presiden AS Donald Trump menggelar konferensi pers di Kompleks Kepresidenan sebagai bagian dari KTT NATO ke-36 para Kepala Negara dan Pemerintahan di Ankara, Turkiye, pada 8 Juli 2026. ANTARA/Binnur Ege Gürün Koçak - Anadolu Agency /pri (Antara)