Pakistan Pertimbangkan Serangan Udara ke Houthi Yaman

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 11 Sep 2026, 08:45
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Arsip - Seorang pengunjuk rasa memegang model rudal Houthi selama protes terhadap serangan Israel yang terus berlanjut di Jalur Gaza serta sanksi yang dipimpin AS terhadap kelompok Houthi di Sanaa, Yaman (16/2/2024). Arsip - Seorang pengunjuk rasa memegang model rudal Houthi selama protes terhadap serangan Israel yang terus berlanjut di Jalur Gaza serta sanksi yang dipimpin AS terhadap kelompok Houthi di Sanaa, Yaman (16/2/2024). (ANTARA)

Ntvnews.id, Islamabad - Pakistan dilaporkan tengah mempertimbangkan kemungkinan melancarkan serangan udara terhadap militan Houthi di Yaman setelah mendapat permintaan dari Arab Saudi. Informasi tersebut disampaikan sejumlah sumber keamanan kepada EFE dan media Turki Turkiye Today dikutip, Jumat, 11 September 2026.

Langkah tersebut tengah dikaji seiring upaya Islamabad mengoperasionalkan pakta pertahanan bersama dengan Arab Saudi.

Pertimbangan itu muncul sehari setelah Houthi melancarkan serangan menggunakan rudal dan drone yang menyasar sejumlah target sipil serta sektor ekonomi di Arab Saudi. Serangan tersebut mengenai wilayah Abha, Khamis Mushait, Jazan, dan Najran serta menargetkan fasilitas sipil dan energi hingga menyebabkan lebih dari 70 orang terluka.

"Untuk saat ini, Pakistan sedang mempertimbangkan untuk melakukan serangan udara terhadap pasukan Houthi di Yaman dari tanah Saudi," kata seorang pejabat tinggi keamanan kepada EFE tanpa menyebutkan namanya.

Baca Juga: Serangan Houthi Lumpuhkan Pengoperasian Pelabuhan Mocha di Yaman

Meski demikian, pejabat tersebut mengatakan belum ada keputusan mengenai apakah rencana tersebut akan diumumkan kepada publik.

"Tidak akan ada cara untuk mengonfirmasi apakah serangan telah dilakukan oleh kami atau Saudi kecuali itu dipublikasikan," tambahnya.

Pakta Pertahanan Bersama Makkah

Rencana tersebut berkaitan dengan pakta pertahanan bersama yang melibatkan Pakistan, Arab Saudi, dan Turki. Ketiga negara menandatangani Perjanjian Pertahanan Bersama Makkah pada 7 Agustus 2026 sebagai kesepakatan trilateral untuk membentuk sistem pertahanan kolektif.

Dalam perjanjian tersebut disepakati prinsip bahwa serangan terhadap salah satu negara anggota akan dipandang sebagai serangan terhadap seluruh anggota.

Menurut sumber keamanan yang dikutip EFE, Pakistan saat ini menempatkan lebih dari 10.000 tentaranya di Arab Saudi. Namun, belum diketahui apakah Islamabad juga mengerahkan jet tempur ke negara tersebut.

Pejabat yang sama tidak memberikan keterangan mengenai keberadaan jet tempur Pakistan di Arab Saudi, baik terkait pengerahan yang sudah dilakukan maupun kemungkinan penempatan di masa depan.

Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Asif sebelumnya memperingatkan bahwa pakta tersebut dapat diaktifkan apabila konflik di Yaman meluas hingga mencapai Riyadh.

Saat diwawancarai Geo TV pada Selasa malam (8/9), Asif ditanya mengenai kemungkinan pengoperasian pakta strategis tersebut. Ia menjawab secara tegas bahwa hal itu memang dapat dilakukan.

Asif juga menekankan tidak terdapat "ambiguitas" dalam perjanjian tersebut karena kesepakatan secara jelas menyatakan bahwa agresi terhadap salah satu pihak merupakan agresi terhadap seluruh anggota.

Arsip - Kelompok Houthi menggelar unjuk rasa menentang serangan AS dan Israel terhadap Iran saat mereka berkumpul di Al Sabeen Square, Sanaa <b>(Antara)</b> Arsip - Kelompok Houthi menggelar unjuk rasa menentang serangan AS dan Israel terhadap Iran saat mereka berkumpul di Al Sabeen Square, Sanaa (Antara)

Namun, Pakistan pada Kamis menyatakan belum ada pembahasan mengenai kemungkinan respons militer Islamabad berdasarkan Perjanjian Makkah sebagai tanggapan atas serangan Houthi terhadap Arab Saudi.

Meski belum ada pembahasan tersebut, Islamabad menegaskan akan mengambil tindakan ketika diperlukan.

"Saat ini tidak ada hal semacam itu yang sedang dibahas ... Ketika saatnya tiba, (kami) akan bertindak di bawah perjanjian tersebut," ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri Pakistan, Sajjad Haider Khan, dalam pengarahan media mingguan ketika ditanya mengenai kewajiban Islamabad berdasarkan pakta pertahanan bersama dengan Turki dan Arab Saudi.

Pakistan Sampaikan Peringatan Saudi kepada Iran

Pada hari yang sama, Pakistan juga dilaporkan menyampaikan pesan dari Arab Saudi kepada Iran agar Teheran menggunakan pengaruhnya untuk menekan sekutunya, Houthi, supaya menghentikan serangan terhadap Saudi.

Upaya diplomatik tersebut dilakukan untuk mencegah konflik semakin meluas. Informasi itu dilaporkan Japan Times dengan mengutip laporan Reuters yang bersumber dari pejabat di Arab Saudi, Pakistan, dan Iran pada Kamis.

Seorang diplomat senior kawasan mengatakan Pakistan telah menyampaikan pesan tersebut kepada Iran dalam 24 jam terakhir. Islamabad meminta Teheran memanfaatkan pengaruhnya untuk menghentikan serangan Houthi terhadap Arab Saudi.

Seorang pejabat senior Iran membenarkan bahwa pesan dari Pakistan telah diterima di Teheran pada Selasa. Namun, Iran merespons bahwa "Iran tidak mengendalikan Houthi."

Di sisi lain, dua sumber di Iran mengatakan Teheran sebenarnya telah memberikan instruksi kepada Houthi pada pekan sebelumnya untuk menyerang Arab Saudi.

Menurut sumber tersebut, Iran menjanjikan tambahan pendanaan dan persenjataan kepada Houthi. Sejumlah komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) juga disebut telah berangkat ke Yaman untuk membantu mengoordinasikan serangan.

Diplomat kawasan itu mengatakan Islamabad berusaha menghentikan eskalasi sebelum situasi semakin memburuk. Pakistan juga berupaya mendorong Riyadh agar tidak segera menuntut keterlibatan militer aktif dari Islamabad.

TERKINI

Load More
x|close